30 Menit Mencari Lakkang

  • 4/20/2011 08:59:00 PM
  • By adriyani.ayu
  • 0 Comments

Ini kaya’ judul lagunya Sheila On 7 “30 Hari Mencari Cinta”…hehehhehe. Ok, Cinta? Cinta menuju Lakkang. Selasa, 19 April 2011, saya, Endy, Irham, Diah, dan Darmin, serta pendamping-pendamping kami (K'MuyamK'aris, K'Uny, dan K'Inna), kami semua adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Hasanuddin yang sedang melakukan penelitian kecil-kecilan di sebuah desa bernama “LAKKANG”. Panas terik menyengat tubuh, kala Matahari masih dengan gagahnya menampakkan sinarnya. Langkah kaki bertolak dari kampung kera-kera (Untuk akses ke sana, bisa dengan melewati kawasan praktek pertanian, Universitas Hasanuddin) menuju Desa Lakkang. Sebetulnya, untuk akses ke sana, ada dua titik penyeberangan. Hanya saja, kami memilih titik ini, karena akses yag cukup dekat dengan kampus.

Seorang lelaki paruh baya telah bediri di ujung bambu-bambu yang tersusun dengan rapi dan mengapung di atas bentangan air. Saya cukup sulit menyebutnya apa, cukup dengan sedikit mendeskripsikannya sebagai alat penyeberangan yang terdiri dari bambu yang disusun dengan rapi, tapi tetap dijalankan dengan mesin, saya pusing harus menyebutnya dengan apa (-_-“). Ada ± 15 orang dan satu sepeda motor yang diangkut untuk menyusuri daerah aliran sungai Tallo tersebut hingga sampai ke Lakkang.
Panas? Sangat! Matahari dengan tegasnya menebar suhu panas dari tubuhnya, siang itu. Keringat mengucur deras dari kami yang berdiri di atas bambu tanpa atap, menyusur sungai. Perjalanan yang kami tempuh kurang lebih 30 menit. Tidak terbayangkan, bertengkar dengan suhu panas yang kian menyengat kala itu.
*****
Cukup lega, saat waktu menjadi penengah pertengkaran kami dengan suhu panas siang itu. Padi yang meliuk-liuk di atas hamparan sawah menyambut kami dengan senyum ramah. Rumah pertama yang terletak tidak jauh dari tempat pertama kami menginjakkan kaki di Tanah Lakkang. Beberapa orang yang tengah bersantai di depan rumah mereka menyambut kami dengan senyum ramah, tidak kala ramahnya dengan padi-padi itu. Salah seorang Lelaki paruh baya menyapa kami, beliau berkata “Besok-besok kalo datangki’, panggilKi’ lagi banyak-banyak temanta”, dengan logat Makassar yang khas. Kami serentak berkata “Iyya pa’…” sambil tersenyum.
Gerbang yang tidak terlalu besar menyambut kami, di atasnya bertuliskan kalimat “SELAMAT DATANG, DI DESA BERPRESTASI LAKKANG”. Ok, pertanyaan pertama muncul, “Kenapa desa ini disebut desa berprestasi?” .
*****
Bersih. Itu kesan pertama yang mucul. Tempat sampah jelas terpampang di setiap halaman rumah yang kami lewati. Pagar mereka dihiasi dengan pot-pot kecil yang mereka buat sendiri dari botol-botol plastik bekas. Deretan pohon berbaris rapi menyambut kami, semilir angin menambah kesejukan tempat ini. Perjalanan terus dilanjutkan, hingga kami bertemu dengan deretan pohon bambu yang membuat suasana semakin teduh.
Sebuah pagar bambu ditancapkan mengelilingi sebuah lubang. Langkah kaki, mengiring kami ke tempat itu. Ternyata, lubang itu bukan sembarang lubang, hehehhe. Di dalam lubang itu terdapat anak tangga yang cukup kecil yang ternyata terhubung dengan lubang yang lain di sudut yang berbeda. Mata kami menyisir tempat sekitar. Ya, ada pagar lain yang tertancap, tidak jauh dari lokasi awal tadi.
Bunker. Begitulah orang-orang sekitar menyebutnya dan orang-orang yang sebelumnya lebih dulu menapaki tempat ini. Bunker peninggalan Jepang, tempat orang-orang Jepang melarikan/menyembunyikan diri. Konon, di sana ada 8 (Delapan) Bunker. Sudah ada 7 (Tujuh) Bunker yang ditemukan, namun sudah ada 4 (empat) yang runtuh, dan masih ada 1 (Satu) yang belum ditemukan hingga sekarang.
Delapan Bunker ini, dibagi menjadi IV sektor. Sektor I digunakan untuk menyimpan senjata. Sektor II digunakan untuk rapat sebelum bertempur. Sektor III digunakan untuk penyimpanan logistic/bahan makanan. Sektor IV digunakan untuk menyimpan harta. Nah, sektor IV inilah yang belum ditemukan hingga saat ini.
*****
Langkah kaki tidak terhenti di tempat ini. Kami kembali melanjutkan langkah kami ke rumah-rumah penduduk. Sebelumnya, kami dibagi menjadi dua kelompok. Saya bersama dengan Irham dan dua pendamping (K'uni dan K'Muyam)menjadi satu kelompok.
Beberapa Ibu-ibu dan bapak-bapak tengah bersantai di depan rumah. Kamipun menghampiri. Mengucapkan salam, memperkenalkan diri, dan apa tujuan kami ke sini. Tapi, ibu-ibu tersebut menolak dengan halus untuk diwawancarai. Tanpa mengurangi rasa hormat kami tetap tersenyum dan menghargai keinginan ibu itu. Kami, pamit menuju rumah di sampingnya yang juga ditunjukkan oleh ibu-ibu itu.
Kami bertemu dengan seorang anak laki-laki dengan postur tubuh cukup tinggi (paling tidak, klo dibandigkan dengan saya…hehehhe). Beliau bersedia untuk diwawancarai. Cukup banyak yang bisa kami dapat dari beliau.
*****
Lakkang adalah sebuah desa yang terdiri dari 1000 penduduk atau sekitar 300 kepala keluarga. Akses menuju ke sana bisa ditempuh dari dua titik. Namun, ada titik yang beroperasi hanya hingga pukul 7 malam dan titik yang lain sedikit lebih lama, yaitu pukul 9 malam. Untuk warga Lakkang ingin menggunakan akses ke sana lewat dari jam 9, bisa saja, asal menghubungi si empunya pete-pete (hehehehhe…..saya bingung harus menyebutnya apa), bahwa dia membutuhkan akses ke Lakkang, asal tidak lewat dari jam 12 malam (hoohoo….keren khan?!). och iya, akses menuju ke sana memang setara dengan harga pete-pete (angkutan kota), Rp. 3.000,00.
Masyarakat Lakkang mengunakan bahasa Makassar sebagai bahasa sehari-hari. Mata pencaharian penduduknya cukup beragam. Ada petani, Nelayan, wiraswasta. Namun, yang mendominasi adalah Nelayan. Untuk pemenuhan kebutuhan pokok, semisal beras. Warga tidak terlalu kesulitan, selain mereka memiliki lahan sendiri, mereka juga memeliki pabrik beras sendiri. Terkecuali, ketika pasokan beras sudah berkurang, baru mereka memasok dari luar daerah Lakkang.
Berbicara masalah pendidikan, perlu teman-teman ketahui bahwa di daerah Lakkang, hanya ada satu SD. Och iyya, juga ada Play Group yang didirikan dengan memanfaatkan ruangan kosong disebuah PUSTU di Lakkang. Terlepas dari hal itu, mereka tetap peduli akan pentingnya pendidikan. Lokasi yang cukup sulit untuk dicapai, tidak menyurutkan semangat mereka untuk menyisir sungai dalam menuntut ilmu.  
Penduduk Lakkang 100% beragama Islam. Di sana ada sebuah mesjid yang cukup besar. Dari jauh, sebelum akhirnya kami meginjakkan kaki di tempat ini, sudah terlihat mesjid yang cukup besar dan tinggi.
Desa Lakkang menyandang predikat desa berprestasi. Berprestasi dari segi kebersihan, dan kekreatifan warganya untuk menghargai lingkungan. Warga cukup bijak menyikapi alam. Sampah organic dan non organik diberikan tempat tersendiri. Warga di sana memiliki kepedulian yang tinggi dengan masalah kesehatan. Sekalipun, di sana belum ada dokter tapi petugas kesehatan yang berada di sana siap menjadi tempat mereka untuk berkonsultasi. Pasokan obat ke sanapun cukup lancer.
Upaya Pemerintah kota Makassar untuk mengembangkan Desa Lakkang sebagai desa wisata sudah bisa sedikit dirasakan oleh warga. Penambahan alat penyeberangan ke tempat tersebut sudah dilakukan. Pemerintah juga pernah menawarkan untuk membangun dermaga di tempat tersebut, tapi warga sekitar menolak. Karena katanya, ciri khas Lakkang akan hilang (hehehehe…mungkin klo dibangun dermaga, namanya bukan Lakkang lagi yaaa..???). Sejauh ini, pemerintah juga telah menjanjikan untuk memperbaiki jalanan di setiap sudu kota Lakkang, kata Muh. Zakaria, yang ternyata adalah anak Ketua RT Desa Lakkang. Sayangnya, kami tidak sempat bertemu dengan beliau karena tidak sedang berada di tempat.
*****
Ya, itulah hasil perjalanan kami ke Desa Lakkang. Sebuah permata di tengah gemerlapnya hingar bingar kebisingan kota. Riset kecil-kecilan yang kami lakukan untuk memenuhi tugas PRA FIGUR (Forum Inisiasi Gerakan Unik dan Radikal) Jurusan Ilmu komunikasi, Fakultas lmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin.

You Might Also Like

0 comments