| Sumber |
Layaknya surat pada lazimnya, saya ingin membukanya dengan ucapan “apa kabar, bapak?”. Tidak ada salahnya kan, saya bertanya kabar? Meski dekat, tidak jarang membuat kita masih saja bermain jarak.
Iya, jarak. Jarak yang sedari
dulu membuat saya tidak terbiasa berbicara panjang lebar tentang pelajaran
Matematika yang membuat mumet saat
pulang ke rumah. Atau, bercerita betapa mengerikannya punya guru di sekolah yang
bersuara keras, terlebih ketika sedang memarahi kami murid-muridnya. Hanya
karena, ruang kelas sebelah lebih bersih daripada ruang kelas kami. Itu semasa
SD, bapak. Setelah besar, rasanya tidak adil saja, terkena imbas rumput
tetangga yang (sepintas) terlihat lebih indah.
Bapak, saat bapak membaca surat ini, hari mungkin sudah senja. Sengaja (juga) dialamatkan ke rumah. Ini bukan tanpa alasan. Lebih sering, bapak tiba di rumah sore hari sepulang kerja. Menjadi kebiasaan bapak di sore hari, menghirup kopi beraroma damai. Masa itu pulalah, bapak serupa reuni dengan suasana rumah, setelah berjam-jam larut dalam sibuk di luar. Surat ini adalah pelengkap kopimu yang tak jarang tanpa kue-kuean. Bapak, silahkan mengulum senyum. Duduk saja yang santai.
Bapak, 21 tahun berlalu. Kalau diberi pilihan, saya ingin ingatan saya saat berumur lima tahun kembali. Saya ingin merasakan (lagi) saja, apa yang kita berdua bicarakan sembari menghabiskan waktu bersama di atas kapal kecil. Kapal kecil yang setia membawa kita sekeluarga dari Pulau Selayar menuju dermaga kecil di Kabupaten Bulukumba. Atau mungkin, ingatan tentang bapak yang mengantarkan saya ke sekolah dengan kendaraan roda dua yang harus dikayuh. Mengingatnya, semacam sedang jatuh cinta saja. Romantis itu semacam ini kan, pak?
Oh iya pak, terima kasih sudah datang saat acara penamatan SMA, empat tahun lalu. Kalau saya ingat-ingat, itu kali pertama bapak menghadiri undangan sekolah. Aroma bahagia waktu itu serasa membuncah. Sejak TK hingga SMA, gerbang sekolah serupa batas suci. Mama adalah wakil terbaikmu, di setiap acara penerimaan rapor di penghujung semester.
Memasuki bangku kuliah, apalagi. Terima kasih sudah lebih sering berkunjung ke kampus―Ke kosan di dalam area kampus, lebih tepatnya…hehehe. Terima kasih, bapak mengajarkan bagaimana menjadi kekuatan bagi orang lain tanpa harus banyak membuang kata, melakukan kewajiban sebelum menuntut hak, menghidupkan semangat untuk segala mimpi.
Oh iya, sekali lagi…apa kabar, pak? Sengaja saya mengulang tanya. Ini agar bapak menimbang pikir, tentang kesehatan misalnya. Saya tahu bapak sibuk kerja, Senin hingga jumat, bahkan juga sabtu, minggu. Dari pagi hingga sore, bahkan terkadang lembur. Tapi jangan lupa istirahat pak. Mama bilang, “Jangan sampai dzalim sama diri sendiri”.
Oh iya, surat ini menemui engkau tepat di umurmu yang ke 52 tahun. Semoga engkau dalam keadaan sehat walafiat. Meski ucapan terima kasih sudah sepanjang struck-struck belanjaan di Aneka Mart itu, saya tahu itu tidak akan pernah cukup untukmu yang menjadi penyambung kasih dan sayang tuhan terhadap ciptaanya.
Di senja ke delapan bulan November ini, saya mengirim kasih meski hanya sepanjang jalan. Seuntai harap atas kebaikan dan kesehatan yang senatiasa menyertai bapak, tak lupa saya selipkan di dalamnya. Selamat milad bapak. Terima kasih sudah menjaga saya dan adik sepenuh hati, serta menjadi suami dari mama.
Salam Hangat,
Anakmu
0 comments