Karena Gusar Juga Selalu Sederhana

  • 10/24/2014 05:14:00 AM
  • By adriyani.ayu
  • 1 Comments

Kebanyakan perempuan pasti selalu punya sela waktu untuk berkhayal menjadi istri dari lelaki yang menyaingi ayahnya, dan menjadi ibu dari anak-anak lucu dan menggemaskan suatu masa nanti. Ah, perempuan mana yang tidak pernah berfikir tentang hal itu, walau sepintas lalu?

Menjadi ibu tentunya tidak sesederhana mengucapkan "Iya" saat satu-satunya lelaki yang dekat denganmu menjulurkan cincin ke jarimu, tepat di hadapan orang tuamu. Menjadi seorang ibu juga tidak sesederhana mematikan alarm yang berdering tepat di samping indera dengarmu, lalu melanjutkan tidur, dan baru bangun dua jam kemudian. Tidak, tidak sesederhana itu. Aku belajar dari mama, perempuan yang kalian panggil ibu.

Mama selalu jadi yang paling uring-uringan kalau anaknya hanya bisa tidur di kamar sambil berselimut dengan suhu badan yang tidak biasanya. Mama yang paling sering lupa kalau ada fasilitas SMS di HP, dan lebih memilih untuk menelfon langsung. "Mama kalau dengar suaramu, udah tau kamu sehat-sehat, mama sudah tenang," Nah, mama memang paling peka. Kalau aku pulang ke rumah, dan adek belum, mama selalu ngomong "Adekmu dimana ya kak? Kenapa belum pulang? padahal sudah mau maghrib ini". Hanya mama yang paling tidak bisa menyembunyikan kegusarannya kalau-kalau salah satu anggota keluarganya belum ada di rumah. 

Tidak sederhana, bukan? Yang kulihat sederhana dari mama, hanya bahagianya. Anaknya sarapan, sebelum berangkat ke sekolah tanpa harus menunggu mama mengomel. Sebelum keluar rumah, anaknya menyempatkan cium tangan, dan iapun membalas dengan ciuman di pipi. Bahagia, sederhana.


Sekarang, saat anaknya sudah mulai beranjak dewasa, gusarnya bukan berkurang, malah bertambah. Seakan dunia ini terlalu banyak menyimpan bahaya untuk anak-anaknya. Memiliki mama yang tangguh serupa penyakit menular bagi anak-anaknya. Tapi sepertinya mama terlalu larut dalam gundah.

Di luar sana, anaknya tengah mencoba menguatkan otot lututnya agar mampu menopang badan dan kakinya, layaknya sewaktu baru saja diajar berjalan belasan tahun silam. Sedikit takut, namun pasti. Tapi mama, tetap saja risau.

Memang, waktu mengubah banyak hal menjadi tidak biasa lagi. Semakin umur beranjak dewasa, ia tak bisa lagi memeluk anaknya, sembari mengantar tidur dengan cerita tentang Rapunzel dan rambut indah, panjangnya. Atau cerita tentang seorang putri yang mendapat kutukan dari peri jahat, ia hanya bisa tertidur selama ratusan tahun, hingga sang pangeran datang membangunkannya. 

Sumber

Bahagia mama selalu sederhana, gusarnya apalagi. Anak-anak juga, terlalu sering menyederhanakan. Iya, nampaknya memang seperti itu. Kami, anak-anak terlalu sering melihat bahayanya mama sebagai hal-hal sederhana di luar sana. Ah, tapi memang. Aku baik-baik saja, ma. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku hanya ingin, mama menikmati masanya menuju senja dengan perasaan damai. Tak ada gusar tentang anak-anaknya lagi. Itu saja, sederhana. 

Ah, semoga anak-anakmu tegar saat menghadapi cucumu yang beranjak dewasa nanti. Semoga perkiraan kami tidak salah. Semoga semuanya tetap sederhana di mata kami. Sesederhana kami yang menenangkanmu, agar impas. 


Menyambut Tahun Baru,
Dari anakmu, yang menjelma aku.

You Might Also Like

1 comments