![]() |
| Sumber |
Malam itu, hujan nyaris deras
mengguyur tanpa ampun. Setiap tetesnya, melepas rindu dengan tanah yang mulai mengering,
dengan pohon-pohon yang termakan rindu membasahi tubuh. Jalan-jalan kota, tak
jua sunyi. Manusia-manusia itu selalu saja punya cara berdamai dengan bahasa alam.
Meski selalu saja salah membaca tanda, mereka tetap pongah dengan caranya
masing-masing.
“Kau lihat di sudut sana?” Tanyaku pada tetes-tetes yang jatuh membasahi muka.
“Yang mana?” jawabnya
“Itu, di sana. Laki-laki berambut putih yang sedang mengumpulkan kekuatan untuk tetap berdiri di atas kakinya. Di bawah payung abu-abu, ia berlindung. Tangannya menggenggam erat Koran-koran hari ini. Ini bahkan sudah jam 10 malam. Waktu dimana perusahaan itu tengah bergelut mengutak-atik laporan peristiwa hingga mencetaknya untuk disebar di pagi buta. ”
“Oh ya, aku melihatnya. Ia nyaris basah kuyup.”
“kalau yg itu.” Tunjukku pada sudut yang lain.
“yang mana?”
“Itu. Perempuan dengan pakaian yang penuh dengan tempelan perca. Tak ada pelindung yang menetupi kepalanya. Ia pasrah, terguyur. Sama pasrahnya, dengan toples kecil yang ia bawa. Toples tempatnya menaruh iba di tengah-tengah kendaraan yang berhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah.”
“Sudah. Jangan kau tunjukkan lagi. Aku tak kuasa melihatnya”
“Bagaimana mungkin kau tak kuasa? Lihat, dia gemetar di atas kakinya. Kau membuatnya kedinginan. Bibirnya pun gemetar. Lihat, lampu berganti hijau. Ia menepi. Sudi kah kau memberi jeda sejenak? Biarkan ia teduh. Paling tidak, sampai ia tiba di bawah emperan bangunan kokoh, tinggi menjulang di sudut sana.”
“Cinta dan kasih membuatku tak kuasa”
“Lihat yang itu lagi. Seorang ibu mengayuh becak yang penuh dengan tumpukan karung. Ah, kau masih deras. Lihat dia. Ia menutupi kepalanya dengan kantong plastik. Tolong jangan menusuknya. Jangan sampai kantongnya bocor dan membasahi kepalanya. Paling tidak sampai ia bisa berjumpa dengan anak yang telah menantinya. Lihat dia. Nafasnya adalah caranya mengumpulkan kekuatan untuk terus mengayuh. Apa kau kira ia tak mencinta dan mengasihi?”
“Eh, lihat. Dia berhenti. Nampaknya dia ingin berteduh”
“Iya, berteduh. Berteduh sejenak sembari menunggu gorengan pesanannya jadi. Lihat saja, hanya sebentar bukan. Ia mengaitkan kantong berisi gorengan itu di salah satu sudut becaknya. Ia membiarkannya menyatu dengan tumpukan karung. Ia tak memperdulikanmu. Ia mendorong lalu mengayuh kembali becaknya. Itukah yang kau mau?”
| Sumber |
Ah, sudahlah. Yang kutahu, setiap
tetes air yang tumpah dari langit adalah keberkahan. Keberkahan itu bisa dinikmati
dengan banyak cara. Berteduh, bisa jadi salah satu caranya. Pun juga mereka,
berteduh. Berteduh di bawah langit.
Alam selalu punya cara
mendekatkan kita kepadaNya. Lewat hujan malam itu, langit, tak berjarak lagi
dengan tanah. Semoga keberkahan senantiasa menyertai laki-laki yang renta, perempuan dengan tempelan perca, dan ibu dengan tumpukan karung yang ia kayuh dengan becaknya. Semoga. Aamiin.

0 comments