Halo, Radio Miangas! #1

  • 3/22/2014 05:19:00 AM
  • By adriyani.ayu
  • 0 Comments

“Para pendengar Radio Republik Indonesia dimanapun siaran ini dapat didengar, saat ini saya sedang berada di Gunung Otta, yang oleh tetua adat, Bukit ini kemudian disebut Bukit Keramat…..”
Seperti itulah, seorang dosen yang mendampingi setengah perjalan kami―saya dan teman-teman KKN Unhas Gelombang 85―di Miangas membuka perbincangan dengan penyiar RRI (Radio Republik Indonesia). Tentu tidak menjadi barang baru untuk sebuah radio sekelas RRI untuk memperoleh Live Report tentang suatu daerah di atas tanah Indonesia ini, namun karena ini di Miangas, hal ini kemudian berwujud menjadi barang langka. 


Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 tahun 2005 tentang Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia pada pasal 4 menuliskan bahwa RRI mempunyai tugas memberikan pelayanan informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol, dan perekat sosial, serta melestarikan budaya bangsa untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat melalui penyelenggaraan penyiaran radio yang menjangkau seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berdasar pada hal tersebut, orang-orang yang terserak di berbagi daratan di Indonesia pun memperoleh informasi tentang sedikit dari banyak hal yang perlu diketahui―dalam hal ini tentang Miangas. Hal ini tentunya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengenal negeri ini jauh lebih dalam.

Miangas, satu-satunya pulau yang memiliki sertifikat internasional di Indonesia juga merupakan pulau yang menjadi garda terdepan Indonesia. Pulau yang didepannya  membentang pasti Samudera Pasifik dan saat cuaca teduh, nun jauh di depan mata berdiri negara tetangga yang tidak sungkan “memberi”―Philipina. Ya, Philipina menjadi Negara tetangga terdekat dengan Indonesia jika dilihat dari atas tanah Miangas.

Hal tersebut tentunya membuat Miangas telah menjadi salah satu tempat terdekat warga Philipina untuk beriteraksi dan hidup berdampingan bersama-sama dengan warga Indonesia. Begitupun sebaliknya, Miangas menjadi pulau yang mengizinkan masyarakatnya untuk berinteraksi dan bahkan hidup lebih lama dengan masyarakat philipina di atas tanah Philipina. Di Miangas dan beberapa jejeran pulau terluar di bagian paling utara Indonesia, masyarakat yang memiliki dua status kewarganegaraan yaitu sebagai WNI-PP (Warga Negara Indonesia-Penduduk Philipina) dan WNP-PI (Warga Negara Philipina-Penduduk Indonesia) pernah satu waktu menjadi hal yang biasa disana.

Keberadaan Miangas memang terpisah jauh dari deretan pulau-pulau lain di Indonesia. Hal ini membuat waktu dan rute aksesnya menjadi sulit dan lama untuk ditempuh. Hingga saat ini, Miangas hanya bisa diakses dengan Kapal Perintis yang beberapa diantaranya tidak manusiawi. “Salah satu kapal yang biasa kami gunakan itu pengangkut bahan-bahan pertanian dan hasil ternak. Kalau turun hujan, penumpang jadi kehujanan. Kalau ombak tinggi, dan kapal miring ke kanan misalnya, kita penumpang juga jadi terlempar ke kanan semua. tidak manusiawi memang. Tapi kalau Cuma itu yang ada, mau bagaimana lagi,” ungkap papa Kamurahan. Papa Kamurahan adalah ayah baru saya di Miangas.

Indonesia, Negara yang  konon katanya adalah Negara kepulauan terbesar di dunia memiliki lima pulau besar dan ribuan pulau kecil. Pulau-pulau ini dihuni oleh lebih dari 200 juta penduduk dengan persebaran kepadatan yang tidak merata. Tidak bisa dipungkiri, bahwa kondisi geografis dan demografis yang demikian adanya sangat mungkin untuk menjadi penghalang dalam menjalin komunikasi dari satu tempat ke tempat yang lain jika tidak dilandasi oleh sistem komunikasi yang adil, merata, seimbang, hingga akhirnya sampai pada perwujudan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.


You Might Also Like

0 comments