“Para pendengar Radio Republik Indonesia dimanapun siaran ini dapat didengar, saat ini saya sedang berada di Gunung Otta, yang oleh tetua adat, Bukit ini kemudian disebut Bukit Keramat…..”
Seperti itulah,
seorang dosen yang mendampingi setengah perjalan kami―saya dan teman-teman KKN
Unhas Gelombang 85―di Miangas membuka perbincangan dengan penyiar RRI (Radio
Republik Indonesia). Tentu tidak menjadi barang baru untuk sebuah radio sekelas
RRI untuk memperoleh Live Report tentang
suatu daerah di atas tanah Indonesia ini, namun karena ini di Miangas, hal ini
kemudian berwujud menjadi barang langka.
Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 tahun 2005 tentang Lembaga Penyiaran
Publik Radio Republik Indonesia pada pasal 4 menuliskan bahwa RRI mempunyai
tugas memberikan pelayanan informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol,
dan perekat sosial, serta melestarikan budaya bangsa untuk kepentingan seluruh
lapisan masyarakat melalui penyelenggaraan penyiaran radio yang menjangkau
seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berdasar pada hal tersebut,
orang-orang yang terserak di berbagi daratan di Indonesia pun memperoleh
informasi tentang sedikit dari banyak hal yang perlu diketahui―dalam hal ini
tentang Miangas. Hal ini tentunya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk
mengenal negeri ini jauh lebih dalam.
Miangas, satu-satunya
pulau yang memiliki sertifikat internasional di Indonesia juga merupakan pulau
yang menjadi garda terdepan Indonesia. Pulau yang didepannya membentang pasti Samudera Pasifik dan saat
cuaca teduh, nun jauh di depan mata berdiri negara tetangga yang tidak sungkan
“memberi”―Philipina. Ya, Philipina
menjadi Negara tetangga terdekat dengan Indonesia jika dilihat dari atas tanah
Miangas.
Hal tersebut
tentunya membuat Miangas telah menjadi salah satu tempat terdekat warga Philipina
untuk beriteraksi dan hidup berdampingan bersama-sama dengan warga Indonesia.
Begitupun sebaliknya, Miangas menjadi pulau yang mengizinkan masyarakatnya
untuk berinteraksi dan bahkan hidup lebih lama dengan masyarakat philipina di
atas tanah Philipina. Di Miangas dan beberapa jejeran pulau terluar di bagian
paling utara Indonesia, masyarakat yang memiliki dua status kewarganegaraan
yaitu sebagai WNI-PP (Warga Negara Indonesia-Penduduk Philipina) dan WNP-PI
(Warga Negara Philipina-Penduduk Indonesia) pernah satu waktu menjadi hal yang
biasa disana.
Keberadaan
Miangas memang terpisah jauh dari deretan pulau-pulau lain di Indonesia. Hal
ini membuat waktu dan rute aksesnya menjadi sulit dan lama untuk ditempuh.
Hingga saat ini, Miangas hanya bisa diakses dengan Kapal Perintis yang beberapa
diantaranya tidak manusiawi. “Salah satu
kapal yang biasa kami gunakan itu pengangkut bahan-bahan pertanian dan hasil
ternak. Kalau turun hujan, penumpang jadi kehujanan. Kalau ombak tinggi, dan
kapal miring ke kanan misalnya, kita penumpang juga jadi terlempar ke kanan
semua. tidak manusiawi memang. Tapi kalau Cuma itu yang ada, mau bagaimana lagi,”
ungkap papa Kamurahan. Papa Kamurahan adalah ayah baru saya di Miangas.
Indonesia, Negara
yang konon katanya adalah Negara
kepulauan terbesar di dunia memiliki lima pulau besar dan ribuan pulau kecil.
Pulau-pulau ini dihuni oleh lebih dari 200 juta penduduk dengan persebaran
kepadatan yang tidak merata. Tidak bisa dipungkiri, bahwa kondisi geografis dan
demografis yang demikian adanya sangat mungkin untuk menjadi penghalang dalam
menjalin komunikasi dari satu tempat ke tempat yang lain jika tidak dilandasi
oleh sistem komunikasi yang adil, merata, seimbang, hingga akhirnya sampai pada
perwujudan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.
0 comments