Cinta Dan Kasih Tak Butuh Banyak Syarat

  • 3/20/2014 05:39:00 PM
  • By adriyani.ayu
  • 0 Comments

Sumber
Beliau datang dengan langkah yang tidak bisa lagi selincah anak muda berusia 20 tahun. Jangankan itu, ia bahkan tidak selincah orang dewasa usia 38 tahun. Seluruh lembaran rambut yang menutupi kepalanya telah memutih. Suaranya tidak lagi selantang orang-orang yang mengaku aktivis. Saat berbicara pun, ia sudah terbata-bata. Matanya pun tidak lagi punya daya akomodasi yang cukup kuat untuk membaca tanpa bantuan kacamata. Semuanya menegaskan konsep "menua" yang selama ini disepakati.

Beliau sosok yang pernah saya temukan di ruang kelas. Di ruang kelas kecil yang dipaksa memuat nyaris 100 mahasiswa. Mahasiswa yang suaranya menyaingi bunyi kepakan sayap dan kicauan segerombolan burung wallet yang terbang mengitari sarangnya. Dan beliau, duduk di depan tanpa alat bantu pengeras suara sedikitpun. Itu berlangsung, hingga beberapa semester.

Ingatannya mugkin sudah tidak begitu kuat. Namun beliau tetap tersenyum, saat melihat mahasiswa di koridor itu menyapanya dengan senyum. Untuk sebagian orang, “senyum” tidak membebani banyak syarat untuk sekedar melemparnya, pun juga beliau. Dengan baju batik, dan sepatu hitam yang sering ia gunakan, beliau perlahan menaiki tangga.

Langkahnya tertuju ke satu ruangan di sudut sana. Beliau memeriksa ruangan itu satu per satu. Matanya menangkap seorang mahasiswa. Tanpa ragu, beliau melempar senyum kepadanya. Senyum menjadi pembuka dialog diantara mereka. Seperti rerintik yang mulai mengudang derasnya hujan siang itu. Mahasiswa itu bertanya, “mencari siapa pak?”. Beliau menjawabnya dengan menyebut beberapa nama yang ia cari. Sayangnya, yang beliau cari adalah mereka yang sedang berada di ruangan tertutup di ujung yang lain, nyaris tidak bisa diganggu. Mahasiswa itu pun bertanya lagi, “Ada yang bisa dibantu pak? Atau ada pesan? Nanti saya bantu sampaikan”. “Oh, tidak usah. Saya hanya lama tidak berjumpa dengan mereka. Sekedar menyambung silaturahmi,” jawab beliau dengan senyum renyah.

Secara paripurna, silaturahmi bak setetes air di tengah panasnya gurun. Penyejuk tak kala matahari bersinar tanpa ampun. Dalam kepercayaan yang saya anut. Silaturahmi sesama umat adalah wujud cinta kasih yang harus selalu dibumikan.

Beliau hari itu, mestinya menjadi tamparan bagi siapa saja yang larut pada kealpaan mencinta dan mengasihi. Yang bahkan untuk sekedar menyapa saja, banyak syarat telah membebani. Saya lebih tua lah, saya lebih muda lah, saya lebih bagus lah, apa lah.  

Sumber
Beliau orang baik. Masih mengajar sekalipun suaranya tak lagi lantang terdengar, masih mudah melempar senyum sekalipun ia tak lagi mampu mengingat dengan jelas. Di saat banyak anak diluar sana yang mulai menawarkan kebahagiaan-kebahagiaan paripurna untuk orang tuanya. Beliau mencari kebahagiannya di kampus. Ya, beliau orang baik. Dan, saya percaya bahwa satu kebaikan akan mengundang kebaikan-kebaikan dan keberkahan-keberkahan lainnya. Aamiin. 

You Might Also Like

0 comments