![]() |
| Sumber |
Beliau datang dengan langkah yang
tidak bisa lagi selincah anak muda berusia 20 tahun. Jangankan itu, ia bahkan
tidak selincah orang dewasa usia 38 tahun. Seluruh lembaran rambut yang
menutupi kepalanya telah memutih. Suaranya tidak lagi selantang orang-orang
yang mengaku aktivis. Saat berbicara pun, ia sudah terbata-bata. Matanya pun
tidak lagi punya daya akomodasi yang cukup kuat untuk membaca tanpa bantuan
kacamata. Semuanya menegaskan konsep "menua" yang selama ini disepakati.
Beliau sosok yang pernah saya
temukan di ruang kelas. Di ruang kelas kecil yang dipaksa memuat nyaris 100
mahasiswa. Mahasiswa yang suaranya menyaingi bunyi kepakan sayap dan kicauan
segerombolan burung wallet yang terbang mengitari sarangnya. Dan beliau, duduk di
depan tanpa alat bantu pengeras suara sedikitpun. Itu berlangsung, hingga
beberapa semester.
Ingatannya mugkin sudah tidak begitu
kuat. Namun beliau tetap tersenyum, saat melihat mahasiswa di koridor itu
menyapanya dengan senyum. Untuk sebagian orang, “senyum” tidak membebani banyak
syarat untuk sekedar melemparnya, pun juga beliau. Dengan baju batik, dan
sepatu hitam yang sering ia gunakan, beliau perlahan menaiki tangga.
Langkahnya tertuju ke satu
ruangan di sudut sana. Beliau memeriksa ruangan itu satu per satu. Matanya
menangkap seorang mahasiswa. Tanpa ragu, beliau melempar senyum kepadanya. Senyum
menjadi pembuka dialog diantara mereka. Seperti rerintik yang mulai mengudang
derasnya hujan siang itu. Mahasiswa itu bertanya, “mencari siapa pak?”. Beliau
menjawabnya dengan menyebut beberapa nama yang ia cari. Sayangnya, yang beliau
cari adalah mereka yang sedang berada di ruangan tertutup di ujung yang lain,
nyaris tidak bisa diganggu. Mahasiswa itu pun bertanya lagi, “Ada yang bisa
dibantu pak? Atau ada pesan? Nanti saya bantu sampaikan”. “Oh, tidak usah. Saya
hanya lama tidak berjumpa dengan mereka. Sekedar menyambung silaturahmi,” jawab
beliau dengan senyum renyah.
Secara paripurna, silaturahmi bak
setetes air di tengah panasnya gurun. Penyejuk tak kala matahari bersinar tanpa
ampun. Dalam kepercayaan yang saya anut. Silaturahmi sesama umat adalah wujud
cinta kasih yang harus selalu dibumikan.
Beliau hari itu, mestinya menjadi
tamparan bagi siapa saja yang larut pada kealpaan mencinta dan mengasihi. Yang
bahkan untuk sekedar menyapa saja, banyak syarat telah membebani. Saya lebih
tua lah, saya lebih muda lah, saya lebih bagus lah, apa lah.
| Sumber |
Beliau orang baik. Masih mengajar
sekalipun suaranya tak lagi lantang terdengar, masih mudah melempar senyum sekalipun
ia tak lagi mampu mengingat dengan jelas. Di saat banyak anak diluar sana yang mulai menawarkan kebahagiaan-kebahagiaan paripurna untuk orang tuanya. Beliau mencari kebahagiannya di kampus. Ya, beliau orang baik. Dan, saya percaya bahwa satu kebaikan akan
mengundang kebaikan-kebaikan dan keberkahan-keberkahan lainnya. Aamiin.

0 comments