47 tahun silam, Allah mengijinkan
seorang perempuan hebat―paling hebat―lahir. Perempuan yang membesarkan
saya dengan cinta kasih tulus hingga hari ini. Perempuan perancang yang paling
tahu merancang apa yang paling baik untuk suami dan dua orang anaknya.
Perempuan tangguh yang mampu melakukan banyak hal dalam satu waktu. Perempuan
yang dalam setiap doanya terucap nama lain selain dirinya sendiri. Perempuan
yang mau membagi sepiring nasinya dengan anak-anaknya. Perempuan sabar yang
selalu berubah cerewet kalau-kalau anak-anaknya mulai lelet dan ceroboh.
Perempuan yang tidak bisa diam melihat pekerjaan-pekerjaan bertumpuk. Perempuan
yang selalu menyisikan waktunya 3 kali bahkan lebih dalam sehari untuk menelfon
anak-anaknya yang tidak sedang di rumah, hanya untuk mengucapkan “hati-hati”. Perempuan yang tidak akan tidur nyenyak sebelum memastikan anak-anaknya sudah sampai ditujuan dengan selamat.
| Sumber |
Perempuan itu, mama. Membesarkan
tanpa pamrih. Mencintai tanpa syarat. Mama selalu bilang, “Mama PNS, bapak
juga, kalau mama sama bapak insya Allah
panjang umur, terus bisa pensiun, mama sama bapak tetap punya gaji. Jadi sekarang
kamu sekolah, ya untuk kamu sendiri. Toh, nanti hasilnya kamu juga yang panen.
Mama tidak minta lebih. Cukup jaga diri dan sekolah yang baik.”
5 Maret, mama ulang tahun. Saya
belum melakukan apa-apa. Ah, bahkan sekalipun
sudah melakukan apa-apa, tidak akan pernah mampu membalas setetes air susu yang
ia berikan untuk menjaga anaknya bisa tumbuh sebaik yang ia harapkan. Di hari
ulang tahunnya saja, saya tidak bisa menyentuh dan mencium tangannya sembari
mengucap doa secara langsung. Tulisan inipun saya tulis sehari setelah tanggal
kelahiranmu, 47 tahun silam. Saya memang tidak akan pernah bisa menyaingimu ma.
Untukmu Mama
Sehari setelah tanggal lahirmu.
Dari anakmu yang tidak akan
pernah bisa menyaingimu.
Maaf..
0 comments