Untukmu yang Tak Tersaingi

  • 3/06/2014 07:09:00 AM
  • By adriyani.ayu
  • 0 Comments

47 tahun silam, Allah mengijinkan seorang perempuan hebat―paling hebat―lahir. Perempuan yang membesarkan saya dengan cinta kasih tulus hingga hari ini. Perempuan perancang yang paling tahu merancang apa yang paling baik untuk suami dan dua orang anaknya. Perempuan tangguh yang mampu melakukan banyak hal dalam satu waktu. Perempuan yang dalam setiap doanya terucap nama lain selain dirinya sendiri. Perempuan yang mau membagi sepiring nasinya dengan anak-anaknya. Perempuan sabar yang selalu berubah cerewet kalau-kalau anak-anaknya mulai lelet dan ceroboh. Perempuan yang tidak bisa diam melihat pekerjaan-pekerjaan bertumpuk. Perempuan yang selalu menyisikan waktunya 3 kali bahkan lebih dalam sehari untuk menelfon anak-anaknya yang tidak sedang di rumah, hanya untuk mengucapkan “hati-hati”. Perempuan yang tidak akan tidur nyenyak sebelum memastikan anak-anaknya sudah sampai ditujuan dengan selamat.

Sumber

Perempuan itu, mama. Membesarkan tanpa pamrih. Mencintai tanpa syarat. Mama selalu bilang, “Mama PNS, bapak juga, kalau mama sama bapak  insya Allah panjang umur, terus bisa pensiun, mama sama bapak tetap punya gaji. Jadi sekarang kamu sekolah, ya untuk kamu sendiri. Toh, nanti hasilnya kamu juga yang panen. Mama tidak minta lebih. Cukup jaga diri dan sekolah yang baik.”

5 Maret, mama ulang tahun. Saya belum melakukan apa-apa. Ah, bahkan sekalipun sudah melakukan apa-apa, tidak akan pernah mampu membalas setetes air susu yang ia berikan untuk menjaga anaknya bisa tumbuh sebaik yang ia harapkan. Di hari ulang tahunnya saja, saya tidak bisa menyentuh dan mencium tangannya sembari mengucap doa secara langsung. Tulisan inipun saya tulis sehari setelah tanggal kelahiranmu, 47 tahun silam. Saya memang tidak akan pernah bisa menyaingimu ma.

Tapi ma, kita masih berteduh di bawah satu langit yang sama. Doa terbaik akan senantiasa tertumpah ruah untukmu meskipun tak akan pernah sebanding dengan doamu dalam setiap sujudmu yang khusyu’. Cinta dan kasih tulus yang terhanturkan, semoga mengundang keberkahan dalam setiap langkahmu. Terima kasih sudah mengajarkan tentang kehidupan.



Untukmu Mama
Sehari setelah tanggal lahirmu.

Dari anakmu yang tidak akan pernah bisa menyaingimu.
Maaf..

You Might Also Like

0 comments