Halo kamu….
| Sumber |
Apa kabar? Semoga tuhan
senantiasa mencerahkan jalanmu. Kita dekat tapi masih saja berjarak seperti
sangat jauh. Doa itu saja, hanya mampu kuucapkan dalam hati. Bibir ini kelu,
diam membisu. Padahal (sepertinya) sosokmu masih duduk tiga jengkal dari posisi
dudukku malam ini.
Malam hening, langit bening dalam
hitam, angin memilih memeluk tubuh ini dengan erat hingga rasanya menusuk ke
tulang-tulang. Tak jauh beda dengan satu, dua, tiga, malam yang lalu saat mata
ini betul-betul yakin menangkap sosokmu di tempat yang (dulunya) sepakat kita
sebut rumah. Di tempat yang untuk sebagian orang selalu menjadi alasan untuk
mereka kembali.
Tapi mungkin tidak untuk dirimu
kali ini. Entah karena, engkau tak betah dengan hanya cukup punya satu rumah.
Hingga jika kau lelah, kau bisa memilih rumah terdekat, saat lelahmu mulai
membuncah ditengah perjalanan pulangmu ke tempatku menunggu.
Baguslah kawan…
| Sumber |
Paling tidak, aku tak perlu
tercekik rasa cemas karena memikirkan keadaanmu di luar sana. Atau mungkin, terus bertahan di depan jendela yang tirainya mulai sering memakiku. Ada atap lain
yang menaungimu dari rintik hujan, ada pintu lain yang menghadang dingin
menusuk tulang-tulangmu, ada tubuh lain yang mendekapmu hingga kau aman.
Namun rasa cemas itu beda dengan
rasa rindu. Aku pun tak yakin keduanya adalah dua bentuk hubungan sebab akibat.
Rasa cemas boleh hilang. Tapi rindu ini semakin membuncah, sebentar lagi tumpah
ruah seperti sebotol soda yang menemani kita di suatu malam yang lalu.
Soda malam itu, membuka
pembicaraan hangat kita. Tentang mereka yang juga telah merangkak menjauh. Kita
mencoba memungut kata-kata dari sepotong, dua potong kue malam itu.
perbincangan ini milik kita, hanya milik kita.
Kita berbicara tentang mereka.
Yang akhir-akhir ini tak jua makan bersama dengan kita di atas meja makan yang
kita beli dari hasil jualan Koran selama dua pekan. Kita sepakat, membeli meja
makan yang harganya terbilang mahal untuk kita yang dihampiri uang tak selalu
deras layaknya air mata yang mengalir saat kau kehilangan cintamu.
Alasannya sederhana dan selalu
masuk di akal menurut kita. Ya, “biar
saja meja makannya mahal. Biar, makanan apa saja yang ditaro di atasnya bisa
terasa enak. Bisa seperti makanan-makanan restoran. Ya paling tidak seperti restoran di ujung jalan sana,” ungkap salah
satu dari kita, sambil mengarahkan telunjuknya ke arah sandikala yang mulai
berpendar di ufuk barat, tidak jauh dari tempat yang telah sepakat kita sebut
rumah.
Anggap saja itu sugesti.
Terbukti, makan jadi lahap. Sekalipun hanya ada nasi dan kerupuk pemberian
tukang sayur yang selalu markir di depan rumah. Satu, dua, tiga pekan kita
begitu menikmati. Namun setelahnya, waktu tak lagi membiarkan mata kita―aku,
kamu, dan mereka―saling menatap di bawah temaram lampu, di atas meja makan
sambil bercakap tentang cinta di luar sana.
Aku dan kamu pun mulai mulai
mengatasi rindu dengan bercakap malam itu. Menyadari ada yang beda. Menyadari
ada yang hilang. Seakan kita telah menjadi yang paling benar. Seakan keputusan
kita untuk selalu makan di atas meja makan ini tepat waktu dan (tetap) menunggu
mereka adalah yang paling benar. Sedangkan mereka yang tak jua muncul, salah.
Kita terus bercerita. Rasa kecewa
ini, memaksa setetes demi tetes air dari kantong mata pun tumpah tak
tertahankan. Kita mengutuk keadaan. “kenapa mereka tidak memikirkan kita yang
ada di sini?” ucapmu lirih.
Ah, darah ini mengalir deras kala imaji tentang malam itu muncul. Lucunya kita…
Kita bisa saja mensugesti diri
sendiri bahwa tempe yang ada di depan mulut dan siap santap ini adalah ayam
goreng. Namun sayangnya, sugesti tak pernah cukup untuk mengembalikanmu
benar-benar ke tempat ini. Semuanya tak semudah perbincangan di meja makan lagi
kawan.
Seakan termakan omongan sendiri.
Bukan hanya mereka yang tak lagi sering kutemui di meja makan, tapi juga kini dirimu.
Kupikir sikapmu yang peka, akan membuatmu selalu rindu untuk pulang. Karena,
kehangatan itu di sini, di dalam rumah ini, di atas meja makan ini. Di atas
meja makan yang kakinya pernah kita perbaiki bersama sambil menunggu mereka
pulang. Kutau, ke”aku”anku salah ditempat ini. Sayangnya, asaku terlalu besar
terhadap mereka dan juga dirimu.
| Sumber |
Kini, aku sendiri di meja makan
ini. Tak bisa benar-benar kuputuskan, aku yang benar karena tetap merasakan
nikmatnya makan makanan dari meja ini walau tanpa kalian? Atau kah kalian yang
salah yang memilih untuk tak sesering dulu lagi saling bertukar rasa di atas
meja makan? Aku takut, meja ini (betul-betul) kosong nantinya. Kosong tanpa
jejak kebahagiaan ataukah kalaupun ada hanya kebahagiaan yang menjelma menjadi
mitos. Bahkan kini, aku tak tahu harus (selalu) mendoakanmu atau kah mengutukmu
seperti yang kau lakukan dulu kepada mereka yang meningggalkanmu, meninggalkan
kita.
0 comments