Meja Makan

  • 10/05/2013 01:01:00 AM
  • By adriyani.ayu
  • 0 Comments

Halo kamu….

Sumber
Apa kabar? Semoga tuhan senantiasa mencerahkan jalanmu. Kita dekat tapi masih saja berjarak seperti sangat jauh. Doa itu saja, hanya mampu kuucapkan dalam hati. Bibir ini kelu, diam membisu. Padahal (sepertinya) sosokmu masih duduk tiga jengkal dari posisi dudukku malam ini.

Malam hening, langit bening dalam hitam, angin memilih memeluk tubuh ini dengan erat hingga rasanya menusuk ke tulang-tulang. Tak jauh beda dengan satu, dua, tiga, malam yang lalu saat mata ini betul-betul yakin menangkap sosokmu di tempat yang (dulunya) sepakat kita sebut rumah. Di tempat yang untuk sebagian orang selalu menjadi alasan untuk mereka kembali.


Tapi mungkin tidak untuk dirimu kali ini. Entah karena, engkau tak betah dengan hanya cukup punya satu rumah. Hingga jika kau lelah, kau bisa memilih rumah terdekat, saat lelahmu mulai membuncah ditengah perjalanan pulangmu ke tempatku menunggu.

Baguslah kawan…


Sumber
Paling tidak, aku tak perlu tercekik rasa cemas karena memikirkan keadaanmu di luar sana. Atau mungkin, terus bertahan di depan jendela yang tirainya mulai sering memakiku. Ada atap lain yang menaungimu dari rintik hujan, ada pintu lain yang menghadang dingin menusuk tulang-tulangmu, ada tubuh lain yang mendekapmu hingga kau aman.

Namun rasa cemas itu beda dengan rasa rindu. Aku pun tak yakin keduanya adalah dua bentuk hubungan sebab akibat. Rasa cemas boleh hilang. Tapi rindu ini semakin membuncah, sebentar lagi tumpah ruah seperti sebotol soda yang menemani kita di suatu malam yang lalu.

Soda malam itu, membuka pembicaraan hangat kita. Tentang mereka yang juga telah merangkak menjauh. Kita mencoba memungut kata-kata dari sepotong, dua potong kue malam itu. perbincangan ini milik kita, hanya milik kita.

Kita berbicara tentang mereka. Yang akhir-akhir ini tak jua makan bersama dengan kita di atas meja makan yang kita beli dari hasil jualan Koran selama dua pekan. Kita sepakat, membeli meja makan yang harganya terbilang mahal untuk kita yang dihampiri uang tak selalu deras layaknya air mata yang mengalir saat kau kehilangan cintamu.

Alasannya sederhana dan selalu masuk di akal menurut kita. Ya, “biar saja meja makannya mahal. Biar, makanan apa saja yang ditaro di atasnya bisa terasa enak. Bisa seperti makanan-makanan restoran. Ya paling tidak seperti restoran di ujung jalan sana,” ungkap salah satu dari kita, sambil mengarahkan telunjuknya ke arah sandikala yang mulai berpendar di ufuk barat, tidak jauh dari tempat yang telah sepakat kita sebut rumah.

Anggap saja itu sugesti. Terbukti, makan jadi lahap. Sekalipun hanya ada nasi dan kerupuk pemberian tukang sayur yang selalu markir di depan rumah. Satu, dua, tiga pekan kita begitu menikmati. Namun setelahnya, waktu tak lagi membiarkan mata kita―aku, kamu, dan mereka―saling menatap di bawah temaram lampu, di atas meja makan sambil bercakap tentang cinta di luar sana.

Aku dan kamu pun mulai mulai mengatasi rindu dengan bercakap malam itu. Menyadari ada yang beda. Menyadari ada yang hilang. Seakan kita telah menjadi yang paling benar. Seakan keputusan kita untuk selalu makan di atas meja makan ini tepat waktu dan (tetap) menunggu mereka adalah yang paling benar. Sedangkan mereka yang tak jua muncul, salah.  

Kita terus bercerita. Rasa kecewa ini, memaksa setetes demi tetes air dari kantong mata pun tumpah tak tertahankan. Kita mengutuk keadaan. “kenapa mereka tidak memikirkan kita yang ada di sini?” ucapmu lirih.

Ah, darah ini mengalir deras kala imaji tentang malam itu muncul. Lucunya kita…

Kita bisa saja mensugesti diri sendiri bahwa tempe yang ada di depan mulut dan siap santap ini adalah ayam goreng. Namun sayangnya, sugesti tak pernah cukup untuk mengembalikanmu benar-benar ke tempat ini. Semuanya tak semudah perbincangan di meja makan lagi kawan.

Seakan termakan omongan sendiri. Bukan hanya mereka yang tak lagi sering kutemui di meja makan, tapi juga kini dirimu. Kupikir sikapmu yang peka, akan membuatmu selalu rindu untuk pulang. Karena, kehangatan itu di sini, di dalam rumah ini, di atas meja makan ini. Di atas meja makan yang kakinya pernah kita perbaiki bersama sambil menunggu mereka pulang. Kutau, ke”aku”anku salah ditempat ini. Sayangnya, asaku terlalu besar terhadap mereka dan juga dirimu.


Sumber
Kini, aku sendiri di meja makan ini. Tak bisa benar-benar kuputuskan, aku yang benar karena tetap merasakan nikmatnya makan makanan dari meja ini walau tanpa kalian? Atau kah kalian yang salah yang memilih untuk tak sesering dulu lagi saling bertukar rasa di atas meja makan? Aku takut, meja ini (betul-betul) kosong nantinya. Kosong tanpa jejak kebahagiaan ataukah kalaupun ada hanya kebahagiaan yang menjelma menjadi mitos. Bahkan kini, aku tak tahu harus (selalu) mendoakanmu atau kah mengutukmu seperti yang kau lakukan dulu kepada mereka yang meningggalkanmu, meninggalkan kita.

You Might Also Like

0 comments