Menikmati Negeri di Awan

  • 8/16/2018 06:32:00 AM
  • By adriyani.ayu
  • 0 Comments

Dieng di pagi hari
Tau tidak, kalau lagu Negeri di Awan yang dilantunkan Katon Bagaskara terinspirasi dari sebuah desa yang benar-benar di atas awan? Lagu ini terinspirasi dari desa tertinggi di Pulau Jawa, yaitu Dataran Tinggi Dieng, di Kabupaten Wonosobo dan sebagian wilayahnya di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Desa ini terletak di ketinggian lebih dari 2000 Mdpl. Benar saja, saat pagi hari, sebelum matahari meninggi hamparan kabut tebal menyelimuti desa ini dan semakin menipis seiring cahaya matahari yang semakin menghangat. Suhunya pun sangat dingin, bahkan bisa mencapai suhu di bawah 0 derajat.

Masyarakat Dieng telah berdamai dengan ini. Suhu di bawah 0 bisa menghasilkan Dieng yang membeku. Masyarakat setempat menyebutnya bun upas (embun racun). Bun upas bisa jadi adalah fenomena tidak biasa yang sangat instagramable untuk masyarakat dari berbagai daerah. Namun bagi masyarakat setempat, selain memang akan menambah pemasukan dari para wisatawan yang datang, juga berarti kerugian untuk sektor pertanian yang selama ini menjadi sektor andalan mereka. 

"Bun upas ini tidak bisa diprediksi. Tahun 2017 tidak ada. Tahun 2018, baru turun lagi. Ya kalau tau mau turun, kita ndak perlu tanam kentang. Kan sudah tau akan rugi"

Begitu kata Bu Dibyo, pemilik penginapan yang saya dan kawan-kawan saya sewa. Saat saya berkunjung di tahun 2018 ini, saya memang tidak menemukan bun upas. Malam itu, angin berhembus cukup terasa, rintik hujan juga sempat turun di tanah Dieng. Namun tetap saja, suhu hingga 6 derajat cukup membuat ngilu. Bun upas justru turun semalam sebelumnya, suhu yang mencapai minus 2 membuat pelataran candi arjuna diselimuti es.

Cuplikan video dan foto-foto fenomena bun upas (embun es) di kawasan Dieng, Wonosobo yang beredar pada 6 Juli 2018. Humas Dieng Culture Festival
Bun upas (Sumber: Di sini)
Tentang bu Dibyo, ini adalah kali kedua pertemuan saya dengannya. Di tahun 2017, saat pertama kali saya berkunjung ke Dieng, seorang kawan mengantarkan saya untuk menginap di sini saat rumah kawan yang rencananya akan kami tumpangi ternyata berjarak cukup jauh dari Dieng. Mengingat medan yang cukup mengerikan dilalui saat tengah malam dan terlebih jika hujan, saya dan kawan saya pun memutuskan untuk menginap di tempat bu Dibyo. Bu Dibyo menyelamatkan kami. Penginapan bu Dibyo ini menyenangkan. Letaknya yang lebih tinggi dari rata-rata peginapan yang ada, membuat kita bisa menyaksikan gas yang mengepul dari Kawah Sikidang. Hal lain yang menyenangkan adalah keluarga bu Dibyo yang ramah, penginapannya murah, ada fasilitas air panas di kamar mandinya (INI PENTING), dan nasi gorengnya enak (TIDAK KALAH PENTINGNYA). 

Pemandangan dari teras rumah bu Dibyo
Dieng adalah daerah yang menyimpan banyak artefak berikut dengan kisah-kisah yang dirawat oleh masyarakatnya. Mulai dari Candi Arjuna, Danau Telaga Warna, hingga pada fenomena tumbuhnya rambut gimbal pada anak-anak “pilihan” yang diyakini sebagai utusan dewa. Mereka meyakini bahwa rambut gimbal ini hanya bisa tumbuh di Dieng. 
Telaga Warna
Anak berambut gimbal
Puncak Ruwatan di Kompleks Candi Arjuna
Prosesi pemotongan rambut gimbal memang tidak sederhana. Mulai dari rambut yang tidak boleh dipotong jika bukan keinginan anak yang bersangkutan, hingga pada keharusan untuk mengikuti keinginan si anak, sesederhana atau serumit apapun itu. Di tanah ini, rasa-rasanya anak-anak sangat dihargai sebagaimana identitas yang melekat di dalam dirinya. Suara anak-anak dilegitimasi melalui ritual-ritual sakral yang  apik.

Ritual budaya pemotongan rambut gimbal ini pun dikemas dengan berbagai rangkaian kegiatan yang membuat ribuan orang dari berbagai daerah tertarik untuk berkunjung. Diantaranya adalah “Jazz atas Awan” yang menghadirkan berbagai musisi-musisi ternama dengan pesta kembang api dan lampion setelahnya. Selain itu, berbagai gelaran produk-produk lokal juga ditampilkan. Dalam program ini, perputaran uang masyarakat-masyarakat berpindah sejenak ke Dataran Tinggi Dieng.

Panggung Jazz atas Awan 2018
Sadar akan hal ini, masyarakat Dieng mengolah kekayaan kultur dan geografisnya dalam banyak hal. Ritual kebudayaan dan aktivisme kontemporer dibingkai dalam program tahunan yang mereka namai “Dieng Cuture Festival”. Kegiatan yang awalnya dikelola secara swadaya oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat ini, akhirnya mendapat perhatian dari Kementerian Pariwisata. Memasuki tahun ke-10 di 2019, Dieng Culture Festival (DCF) menjelma produk keberdayaan yang terus dirawat oleh masyarakat setempat.

Penerbangan Lampion
Bagaimana tidak, kerja-kerja partisipatif ini akhirnya memberi ruang pada pengetahuan-pengetahuan lokal untuk tidak serta merta dimatikan atas nama pembangunan. Masih seperti gelaran DCF yang sudah-sudah, perputaran ekonomi masyarakat kota kelas menengah bersirkulasi secara sehat di Dieng. Penginapan-penginapan terisi penuh, pedagang asongan berbondong-bondong datang ke Dieng, warung-warung kecil laku keras, sentra oleh-oleh pun panen raya. 

Tidak hanya terfokus di venue acara DCF saja, salah satu kawasan yang mendapat berkah DCF adalah masyarakat di area pendakian Bukit Sikunir. Orang-orang pun tumpah di kawasan ini. Memang jika beruntung, Golden Sunrise akan bisa dinikmati. Hanya saja, berburu golden sunrise di bukit Sikunir ini seperti mengundi dadu. Karena alam, siapa yang tahu? Sering kali, menanjaki Bukit Sikunir hanya berakhir dengan pemandangan kabut yang terlalu tebal, hingga matahari nampak setelah benar-benar meninggi. Seperti yang saya dapatkan, tentunya. Olehnya, sangat disarankan memilih menanjaki Bukit Sikunir bukan pada waktu liburan orang kebanyakan, apalagi di sela-sela DCF. Karena bisa jadi, selain kabut, hanya lautan sesak manusia yang akan didapat.
Ramai kan?
Sisa-sisa cahaya di tengah-tengah kabut
Sebuah usaha menangkap cahaya
Tahun 2018 adalah tahun kedua saya berkunjung ke Dieng, Wonosobo. Di tahun sebelumnya, saya hanya berangkat berdua bersama kawan dan berlelah-lelah ria dengan kendaraan roda dua selama kurang lebih empat jam. Sedangkan di tahun ini, saya berangkat bersama tujuh orang yang lain dari Jogja. Catatan saya tentang Dieng Culture Festival di tahun 2017 bisa dibaca Di sini

Tidak banyak yang berubah memang. Selain beberapa event tambahan dan juga sampah yang terus tertinggal dari para pengunjung. Persoalan sampah ini tentu bukan soal mudah. Masyarakat Dieng yang tak seberapa, tentu tidak berbanding lurus dengan riuhnya manusia berikut dengan sampah-sampah yang dihasilkan selama kurang lebih tiga hari. Dibutuhkan kesadaran kolektif untuk memahami bahwa kita adalah bagian yang saling terhubung satu sama lain. Selain mahluk sosial, jati diri manusia sebagai mahluk ekologis tidak boleh dinafikkan. Menjaga lingkungan dengan cara yang paling sederhana yaitu membuang sampah pada tempatnya, terlebih jika sampah tersebut di daur ulang adalah wujud prinsip hubungan siklis yang tejaga di alam. Hubungan ini yang membuat alam tetap ada dan berkelanjutan hingga miliaran tahun. Maka untuk memapankan keberlanjutan, kita bisa memulainya dengan hal paling sederhana ini, membuang sampah pada tempatnya.

Di alam, hubungan siklis ini dapat dipahami dari mata rantai kehidupan. Wujudnya, hasil buangan dari suatu organisme dapat diserap oleh organisme lain sebagai asupan makanan dan energi baru. Begitu terus. Sehingga, tidak ada materi yang diproduksi yang akhirnya terbuang percuma tanpa manfaat. Pandangan ini diungkapkan oleh Fritjof Capra, seorang Fisikawan Amerika yang melebarkan pandangan positivistiknya menuju bangunan paradigma yang holistik dan ekologis untuk memahami fenomena sekitar yang terus berkembang. Pemikiran Capra sangat dapat diadopsi untuk membaca pola perilaku masyarakat yang apakah sudah cukup ecoliterate atau melek ligkungan atau tidak? 
 
Ya, alih-alih mengharapkan lingkungan yang berkelanjutan, jika siklus limbah kita saja tidak bisa diatur, apa yang bisa kita harapkan dari dasawarsa-dasawarsa mendatang? Semangat DCF tentunya adalah semangat berkelanjutan, namun merawat lingkungan di atas semua upaya memajukan daerah juga adalah penopang keberlanjutan itu sendiri. Lagipula sederhananya, merawat lingkungan pada umumnya dan membuang sampah di tempatnya pada khususnya, adalah wujud kembalinya fitrah kita sebagai mahluk ekologis. Mahluk yang memelihara relasi intersubjektif (subjek-subjek) dengan alam. Bahwa, kita tidak bisa hidup tanpa adanya manusia lain, begitupun juga dengan sistem ketergantungan kita terhadap alam. Baik di DCF, maupun dalam konteks lainnya, masing-masing kita sering kali harus mampu kembali memaknai bagaimana relasi kita dengan alam. Hal ini penting, agar sekiranya kita tidak boleh alpa mengingat bahwa kehidupan bukan hanya tentang kita saja.

You Might Also Like

0 comments