Kata teman, bertani itu ada dua. Bertani di dalam hati dan bertani di alam nyata. Kalau tidak bertani di dalam hati, jangan harap tumbuh subur di alam nyata –Armin Salassa-
| Pak Armin Salassa |
Armin Salassa adalah penggerak pertanian alami di Desa Salassae, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Suatu waktu, saya berkesempatan bertemu langsung dan mendengar bagaimana proses bercerita, mendengar, belajar bersama dimaknai secara paripurna secara sederhana yang dimulai oleh Komunitas Swabina Petani Salassae (KSPS).
Tahun 2011 adalah tahun-tahun penuh refleksi bagi Desa Salassae. Pak Armin dan beberapa orang mencoba menghidupkan kembali budaya komunikasi yang lebih arif. Komunikasi semacam ini tiba pada pemaknaan yang jauh lebih dalam dan tentunya kontekstual. Tidak berhenti pada gagasan klasik Laswell, tentang sederhananya komunikasi adalah pesan yang dikirim dari komunikator kepada komunikan, melainkan komunikasi universal yang melibatkan pertukaran makna mendalam antara pendekatan “alamiah” alam dengan “alamiah” manusia.
Proses komunikasi yang dibangun kemudian mentransformasikan cita-cita individu menjadi cita-cita bersama dalam kelompok yang lebih besar. “Kami ingin, orang bangga dengan Desa Salasae,” kata Pak Armin. Cita-cita bersama ini dimulai dengan melihat tanah lebih dari sekedar ruang spasial. Bahwa tanah juga menjadi aspek penting bagi keberlanjutan kehidupan manusia. Tanah tempat mereka menanam diperlakuan dengan sebaik-baiknya perlakuan. Harapannya, sistem yang dibangun hari ini akan terus bertransformasi mengikuti zaman dan menjadi bekal pengetahuan yang arif bagi generasi-generasi mendatang.
Upaya yang dilakukan dimulai dengan menghidupkan budaya diskusi untuk menjaga agar sirkulasi pengetahuan mengalir sehat. Hal yang ingin dikejar adalah memanifeskan sumber daya yang laten. Dari proses diskusi, muncullah masalah-masalah bersama. Mulai dari persoalan orang-orang desa yang banyak meninggalkan kampung, kenakalan remaja, hingga pada potensi sumber daya alam yang tidak tergarap optimal. Dari isu ke isu, dari masalah ke masalah, memunculkan proses yang terus direspon dan direspon. Beginilah, pembangun mewujud orientasi tak berkesudahan. Akhirnya, dari banyak masalah yang ditemukan, sekelompok orang memutuskan untuk mengoptimalkan potensi pertanian yang mereka miliki. Mereka memutuskan untuk beralih dari pertanian konvensional ke pertanian alami. Tidak ada lagi penggunaan bahan kimia, apalagi racun.
Setiap orang yang telah mengimani sistem pertanian ini mempersiapkan diri untuk berbagi dan melatih orang lain. Meski dengan kemampuan yang berbeda-beda satu sama lain. Tentu tidak menjadi masalah. Satu orang, menularkan pengetahuan ke satu orang saja. Atau, hanya mampu berinteraksi dengan bahasa bugis saja, ya tidak apa. Di sini, kuantitas bukan masalah. Kerja keras untuk melipatkangandakan pengetahuan individu lebih mendapat porsi besar dibandingkan menggunakan tenaga untuk memobilisasi massa. Keterlibatan sekelompok orang dengan didasari faktor kesadaran dan determinasi inilah yang justru menegaskan proses partisipasi yang berlangsung. Satu konsep yang humanis dalam pembangunan.
Buah dari kesadaran untuk berbagi, keikhlasan untuk mendengar, dan keinginan untuk sama-sama belajar adalah kuantitas tinggi serta kualitas tanaman dan tanah yang lebih baik akhirnya bisa didapat dengan biaya yang rendah. Biaya produksi untuk setiap Hektar tanah hanya sekitar Rp. 60.000-80.000. “Bahkan Pak Arman kawan saya, dia hanya mengeluarkan Rp. 80.000 untuk pembuatan nutrisi sejak tahun lalu. Dan, belum habis sampai sekarang. Padahal, sawahnya 3 Ha,” ungkap Pak Armin. Ya, tidak ada ruang untuk bahan kimia terlebih racun pada pertanian alami, maka segala nutrisi yang diberikan pada tanaman inipun dibuat sendiri. Ada banyak keuntungan yang didapatkan dari keputusan untuk beralih ke pertanian alami ini. Diantaranya adalah bobot padi yang lebih berisi. Jika dalam pertanian konvensional, satu karung padi hanya berisi 40-50 liter, maka dalam pertanian alami bisa mencapai 80-125 liter.
Upaya yang dilakukan dimulai dengan menghidupkan budaya diskusi untuk menjaga agar sirkulasi pengetahuan mengalir sehat. Hal yang ingin dikejar adalah memanifeskan sumber daya yang laten. Dari proses diskusi, muncullah masalah-masalah bersama. Mulai dari persoalan orang-orang desa yang banyak meninggalkan kampung, kenakalan remaja, hingga pada potensi sumber daya alam yang tidak tergarap optimal. Dari isu ke isu, dari masalah ke masalah, memunculkan proses yang terus direspon dan direspon. Beginilah, pembangun mewujud orientasi tak berkesudahan. Akhirnya, dari banyak masalah yang ditemukan, sekelompok orang memutuskan untuk mengoptimalkan potensi pertanian yang mereka miliki. Mereka memutuskan untuk beralih dari pertanian konvensional ke pertanian alami. Tidak ada lagi penggunaan bahan kimia, apalagi racun.
Setiap orang yang telah mengimani sistem pertanian ini mempersiapkan diri untuk berbagi dan melatih orang lain. Meski dengan kemampuan yang berbeda-beda satu sama lain. Tentu tidak menjadi masalah. Satu orang, menularkan pengetahuan ke satu orang saja. Atau, hanya mampu berinteraksi dengan bahasa bugis saja, ya tidak apa. Di sini, kuantitas bukan masalah. Kerja keras untuk melipatkangandakan pengetahuan individu lebih mendapat porsi besar dibandingkan menggunakan tenaga untuk memobilisasi massa. Keterlibatan sekelompok orang dengan didasari faktor kesadaran dan determinasi inilah yang justru menegaskan proses partisipasi yang berlangsung. Satu konsep yang humanis dalam pembangunan.
Buah dari kesadaran untuk berbagi, keikhlasan untuk mendengar, dan keinginan untuk sama-sama belajar adalah kuantitas tinggi serta kualitas tanaman dan tanah yang lebih baik akhirnya bisa didapat dengan biaya yang rendah. Biaya produksi untuk setiap Hektar tanah hanya sekitar Rp. 60.000-80.000. “Bahkan Pak Arman kawan saya, dia hanya mengeluarkan Rp. 80.000 untuk pembuatan nutrisi sejak tahun lalu. Dan, belum habis sampai sekarang. Padahal, sawahnya 3 Ha,” ungkap Pak Armin. Ya, tidak ada ruang untuk bahan kimia terlebih racun pada pertanian alami, maka segala nutrisi yang diberikan pada tanaman inipun dibuat sendiri. Ada banyak keuntungan yang didapatkan dari keputusan untuk beralih ke pertanian alami ini. Diantaranya adalah bobot padi yang lebih berisi. Jika dalam pertanian konvensional, satu karung padi hanya berisi 40-50 liter, maka dalam pertanian alami bisa mencapai 80-125 liter.
Mereka lebih nyaman untuk menyebut pola pertanian yang mereka lakukan adalah praktik pertanian alami, dibanding pertanian organik. Pertanian alami dipandang sebagai penghargaan atas kehidupan. Bertani menjadi proses membina tanah, mengurus tanaman. Keduanya adalah satu kesatuan. Bagi mereka, berpindah dari pertanian konvensional ke pertanian alami tidak boleh setengah-setengah. Sekali memutuskan untuk berpindah, maka semua proses pertanian yang dilakukan juga harus berpindah prosesnya. Jika pertanian alami, semua nutrisi diolah secara alami tanpa ada yang dikomersilkan. Sedikit berbeda dengan pertanian organik yang nutrisinya tetap beredar luas di toko-toko, juga dengan treatment tanah yang mesti diperlakukan secara telaten.
Usaha desa untuk memaknai “Negara Agraris”, di tengah banyaknya lahan yang hanya dikuasai oleh segelintir orang dan sebagian lainnya hanya menjadi pekerja serta konflik masyarakat vis a vis Negara yang tak berujung, dengan cara semacam ini seakan menjadi angin segar. Proses refleksi yang terus berlangsung hingga hari ini di Desa Salassae sebenarnya adalah bentuk bagaimana aspek kehidupan sosial secara komprehensif berperan menekan eksploitasi berlebihan terhadap lingkungan atas nama peningkatan kesejahteraan. Kesadaran bahwa keberlangsungan hidup jangka panjang ditentukan dari pemaknaan atas ruang secara arif yang dimulai dari hari ini.
Pertemuan dengan Pak Armin ini sebenarnya telah berlangsung sejak tahun 2017 yang lalu. Dalam kurun waktu hampir dua tahun, Desa Salassae terus berkembang dan diakui oleh berbagai pihak dan lembaga. Namun satu hal penting yang saya ingat dari pertemuan ini adalah optimisme Pak Armin dan seluruh orang-orang yang mulai tergerak untuk tidak larut dalam bingkai narasi media. Bagi mereka, kesuksesan yang dipotret oleh media tidaklah mampu mewakilkan seluruh capaian yang diperjuangkan secara terus menerus.
Di media, kita sangat dicloseup, seolah-olah sudah tuntas semua. Ini kalau kita liat Salassae di youtube, seolah-olah satu Salassae ini sudah mengalami semua. Padahal tidak, ya belum. Di sini ada sekitar 4000 orang. Sedang yang ikut diskusi, paling sekitar 400. Belum 10%. Demplot, belum banyak. Ini luasnya, 10,08 km2. Paling yang alami sekitar 200 atau 300 kebun. Artinya jauh.
Konsep pertanian alami yang telah diupayakan di Desa Salassae adalah bagian dari pengoptimalan tanah dalam konteks pembangunan. Tanah tidak hanya dijadikan sebagai ruang hidup yang mampu dikalkulasikan secara ekonomi, namun juga tetap dirawat dengan memperhatikan aspek sosial dan ekologinya. Hal ini penting, agar berdaulat bukan hanya jargon. Melainkan konsep yang wujudnya bisa dijabarkan dari hulu ke hilir. Dari sektor produksi hingga pada distribusi.
0 comments