Hai Isem…..
Rasa Gado-Gadonya pasti semakin kuat, kan?! Ingin sekali rasanya menyaksikanmu dalam balutan adat, penuh suka cita. Dengan lamming yang sakral, dengan baju bodo yang anggun. Namun apa daya, Yogyakarta-Makassar itu bukan Tamalanrea-Minasaupa yang bisa kau pilih pete-pete mana yang ingin kau tumpangi.
Dari sini, kami (saya dan Saqinah) mengirim sesuatu untukmu. Iya, Saqinah, kawanmu yang dari berbulan-bulan yang lalu selalu dengan wajah gembira penuh harap dan bercerita kalau kemungkinan besar, ia akan pulang dan bersamamu di hari bahagia esok. Selain dengan harapan bisa ikut meresapi aroma sakral di hari pernikahanmu, ia juga begitu senang karena akhirnya ia bisa ke Bulukumba. Sesuatu yang belum kesampaen semenjak ia mengenal kita berdua, tujuh tahun yang lalu.
“Rumahmu, dimananya rumahnya Isma, Yu’?,” tanyanya suatu hari yang mungkin sudah dia lupa. Saya jawab “saya ndak tau dimananya. Yang jelas masih jauh”. Anak ini memang sudah seharusnya ke Bulukumba, biar pertanyaan di atas diganti menjadi “Berapa jam jarak rumahmu ke rumahnya Isem?” ah, pertanyaan ini serius sekali. Tapi pertanyaan pertama, seakan-akan di Bulukumba hanya ada Isem punya rumah, terus ada rumah lain di depan, di belakang, di samping kiri, di samping kanan, heh menurut ngana? Tapi sayang, atmosfer politik di Jakarta justru berimbas ke rencana ujiannya. Kenapa? Ah, panjang ceritanya. Akhirnya, jadilah kami berdua beriweh-riweh ria.
Akhir-akhir ini langit Jogja sering mendung. Di hari kami memutuskan untuk keluar bersama mencarikan sesuatu untukmu, kami memulai di salah satu mall. Tapi di mall ini sejujurnya, kami hanya ingin berburu tiket murah ke beberapa destinasi, namun nihil. Di mall ini, kami kesulitan mencari yang terbaik untukmu Isem. Sempat mau cari mobil, ada niatan memilihkanmu satu, kemudian silahkan lanjutkan cicilannya. Tapi, tak tegalah kami. Akhirnya, saya hanya beli roti Hamtaro kesukaan di salah satu gerai roti di mall itu.
Dari situ, niatnya akan pindah ke satu pusat perbelanjaan yang lain. Tapi sayangya, setelah keluar mall ini, gerimis mengundang. Karena tidak ada satu pun dari kami yang bawa jas hujan, akhirnya kami berteduh. Miris juga sih Isem, di umur kawanmu Sakinah yang tidak sedikit lagi ini, kami sama-sama selalu gagal membaca langit. Oh iya, berteduh. Dan tau tidak, berteduh di mana? TO -_-. Dengan iming-iming, harga murah untuk film Indonesia, ikutlah saya dengan Saqinah. Meski ternyata, dia salah harga Isem. Iyya sih, beda 5000. Tapi 5000 itu bisa makan kenyang di Burjo dekat kosanku e Isem. Tapi apa daya, mba’ bioskopnya kadung ramah, sayang kalau mundur. Akhirnya, jadilah kami berteduh, dan jadi pulalah kami nonton Galih dan Ratna.
Nah setelah ashar, film selesai. Benar, hujan baru saja reda. Berangkatlah kami ke tujuan utama kami sebenarnya. Sampai di toko itu, semua harga mengecewakan bagi kami, terlebih dompet kami. Padahal Saqinah bilang, katanya temannya juga sempat beli sesuatu di toko ini, bentuknya lumayan, harganya pas. Setelah muter-muter di toko yang luasnya melebihi lapangan bola itu, akhirnya Saqinah memutuskan menelfon kawannya itu. Daaaannn, ternyata yang dia maksudkan kawannya itu bukan toko ini, melainkan di toko yang lain.
Karena saya tidak tahu tokonya, ya saya ikut-ikut saja. “Jalan kaki saja nah, janganmi ambil motor, kalau naik motor, kita mesti mutar lagi” katanya. Yoweiss saya ikut, karena memang parkiran pun cukup jauh. Daaannn, ternyata jaraknya lumayan juga Isem apalagi jalan kaki. Apalagi kalau kami berhasil mendapatkan sesuatu untukmu di toko itu. Which is kami harus jalan kaki kembali dengan ditambah tentengan yang sudah bisa kami prediksi berukuran besar.
Nah, sampai di toko itu, muter-muterlah. Isem tau ndak, harganya sama saja -_-. Okei, kita Sudah jalan jauh untuk ketemu sama harga yang sama. Dan dengan santainya dia bilang “ayokmi kembali ke tempat yang tadi”. Allahu akbar! Untung cantik ini anak -_-.
Ah, sebenarnya masih banyak yang ingin saya ceritakan Isem. Tentang kami berdua yang ribut hanya perkara memilih warna ungu atau coklat, atau perkara menuliskan nama atau tidak di kotak itu (maka jangan tertawa saat bingkisan itu sampai di tempatmu). Ah, Tapi tulisan yang satu ini saja, ragu kau baca sebelum besok. Saya menulis ini, karena saya ragu paket kami sampai sebelum hari bahagiamu. Terlebih, kau ragu sepertinya T*KI tidak mengantar sampai ke tempatmu, dan mungkin kau sendiri yang akan menjemputnya ke kota setelah resepsimu selesai, yasssaalaammm -_-. Kau di Bulukumba bagian mana kah Isem? Hahahha.
Oh iya, yang kami kirimkan mungkin tidak seberapa. Itu bukan barang mahal. Kami pun tahu, dalam banyak hal, manusia sebenarnya lebih butuh kehadiran orang-orang disekitarnya, berbagi duka, berbagi suka. Sesuatu yang tidak bisa digantikan dengan benda mati apapun itu. Tapi sayang, kami kalah dengan jarak.
| Jarang juga ya kita foto bertiga. Sekalinya ada, iklan dimana-mana -_- |
Hemm….kami menyelipkan surat ini untukmu…….
“Dear “Perempuan Mata Indah Bola Pingpong”
Kata Iwan Fals, pria mana yang tak suka senyummu Juwita? Kalau ada yang tak suka, mungkin sedang goblok. Engkau baik, engkau cantik, pastilah sudah tak kosong lagi. Tulisan ini menjumpaimu pastilah dalam keadaan suka cita dibaluti cinta. Bisa saja sebelum “Hari Bahagia”mu tiba, tapi bisa juga setelah semua selesai. Maklum saja, perjalanannya jauh…hehehhe.
Meski seharusnya tak ada kata selesai untuk Bahagia, namun masing-masing kita harus tetap bergerak meramu bahagia, agar ia terus ada dan berlipat ganda. Bahagia tentu tak berhari, karena ia ada di setiap hari, setiap saat, bahkan ketika kau lupa hari ini hari apa. Iya, bahkan ketika kau lupa.
“Hari Bahagia”. Tentu ini bukan hanya seremoni semata. Ada rasa yang jauh lebih indah dari sekedar terminologi seremoni ini. Rasa Nano-Nano yang sudah lama kau nanti, sudah lama kau persiapkan, bahkan tanpa sadar kau “keluhkan” lewat status BBM. Pastilah melelahkan mengurusi ini sampai itu, begini hingga begitu. Tapi proses ini, proses yang manis. Proses yang seharusnya bisa kau maknai sebagai awal yang indah untuk babak kehidupan yang baru.
Saya percaya, laki-laki yang telah memberanikan diri bertemu orang tuamu ini adalah orang yang baik. Buktinya, dia mendapatkanmu. Kata Tuhan, laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, pun juga sebaliknya. Nah, kau buktinya.
Di hampir seperempat abad umurmu, kau sempurnakan separuh agamamu dengan menikah, kau genapkan tanggung jawab ayahmu dengan menyerahkanmu kepada laki-laki terbaik setelahnya dalam hidupmu, kau penuhi kewajiban untuk membahagiakan dengan menjadi kebaikan bagi laki-laki beruntung itu. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?
Dear Perempuan yang pasti berbahagia….
Tidaklah mudah kemudian untuk menjelma keteladanan layaknya Aisyah kepada baginda Rasulullah SAW, atau layaknya Fatimah kepada Ali. Dan adalah mustahil mendapati bahtera rumah tangga yang tak beriak. Hanya saja, setiap manusia adalah pembelajar. Dan semesta ini, Sekolah Kehidupan. Rasa-rasanya kau sudah mafhum, bahwa sakinah, mawaddah, warahmah adalah ridhoNya atas ketangguhan bersama yang kalian bagi dalam berumah tangga.
Maka menjadi baiklah, menyempurnalah.
With Love,
Yang turut berbahagia (dan yang berdoa)…."
Oh Iya, tumben-tumbennya tulisanku serapi itu Isem. UTS dan UAS saja lewat. Hidup, BULUKMBA BERLAYAR!!!
1 comments
Duuuu jadi ingat Isma jaman kita di Surabaya dulu, pas lomba. Sama kamu pun. Semoga kapan waktu kita bisa saling berjumpa lagi ya. Aamiin.
BalasHapus