Tana Toraja : Negeri di Atas Awan

  • 2/01/2012 02:27:00 AM
  • By adriyani.ayu
  • 3 Comments

Perjalanan ke Toraja bukan tentang bagaimana waktu terbunuh, bukan tentang bagaimana lelah terkuras, tapi lebih kepada sebuah proses untuk menemukan Negeri di atas Awan.

Sumber : Di sini

Udara malam cukup menusuk malam itu, tanggal 23 Desember 2011. Sisa hujan beberapa jam sebelumnya masih terasa. Daun-daun yang masih bertengger erat di dahan pohon, bahkan yang sudah meranggas pun masih basah. Seakan memberi tanda bahwa hujan sempat menyapa.
Koridor KOSMIK (Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi), Universitas Hasanuddin cukup padat dengan kerumunan anak manusia dengan segala remeh temehnya. Bukan untuk mengikuti proses perkuliahan tentunya―sudah terlalu malam dan proses perkuliahan pun tengah berada di ujung semester. Mereka―kami―berkumpul untuk memulai perjalanan ke Tana Toraja, sebagai rangkaian Diskusi Nasional dengan tema “Penguatan Internal Lembaga dalam Era Demokrasi”  yang terlaksana oleh kerja sama antara IMIKI (Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia), KOSMIK UNHAS, dan HIMAKOM UNIFA.
Beberapa mahasiswa Ilmu Komunikasi yang berasal dari berbagai almamater yang berbeda berkumpul malam itu, mencoba menciptakan kehangatan dengan berbagai perbincangan yang alot, paling tidak untuk diri mereka masing-masing.
Pemberitahuan dan doa yang terpanjat menjadi ceremony yang dilakukan sebelum akhirnya kami naik ke Bus. Ya, tiga bus berbaris dengan gagah malam itu. Perjalanan dimulai setelah jarum jam betul-betul melenggang pasti melewati pukul 22.00 WITA. Bagi sebagian orang, ini sudah menjadi waktu yang paling empuk untuk menghabiskan waktu bersama bantal tentunya. Tapi, tidak untuk malam ini.
Berbagai aktifitas dilakukan untuk menikmati perjalanan. Meskipun, mayoritas memilih untuk menikmati perjalan di alam mimpi. Ya, untuk sebagian orang menikmati hawa malam yang dingin di luar sana yang mencoba merasuk ganas melalui AC dalam bus serta merasakan gerakan bus yang sudah mulai mengikuti lekukan jalan yang mulai tidak berperasaan dengan mata yang terpejam, jauh lebih menyenangkan. Namun untuk sebagian lagi, tidak demikian halnya.
Makassar, Maros, Pangkep, Barru, Enrekang. Hingga keesokan harinya, saat langit mulai terang, dan bagian paling ujung Kabupaten Enrekang bersiap melepas kami, seakan memberi isyarat untuk mengucap salam saat badan bus mulus melewati sebuah gerbang yang bertuliskan ”Tana Toraja”. Selamat datang di Bumi Lakipadada.
Sumber : Di sini
Kenapa kalian senang sekali lihat kabut, padahal itu tandanya dingin”, kalimat itu yang diucapkan oleh Pipi, seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi UNHAS. Perkataanya merupakan ketidak setujuan atas pemandangan kabut yang sedari tadi, saya dan teman saya puji. Maklum saja, dia adalah seseorang yang sulit bersahabat dengan udara dingin.
Ya, Matahari yang belum nampak sempurna di Langit Toraja pagi itu, membuat kabut nampak jelas. Menyelinap masuk di sela-sela ranting pohon yang berbaris rapi di sisi kiri maupun kanan. Seakan memberi isyarat bahwa jalan yang kami lalui ini adalah milik mereka, kami berada di tengah-tengah―mungkin saja, mereka siap menelan kami. Kabut, pohon dengan perpaduan warna alam tercipta begitu mempesona pagi itu. Sesuatu yang sangat sulit ditemukan di kota-kota besar saat ini. Bagaimana tidak, pohon-pohon digantikan posisinya oleh gedung-gedung yang dengan gagah menantang langit.     
Roda bus terus berputar, hingga memasuki daerah Makale. Di tempat inilah, para rombongan mahasiswa Ilmu Komunikasi akan menginap hingga tanggal 27 Desember. 
Pada sore hari, setelah melepas lelah dengan melanjutkan tidur yang sempat terpotong, kami pun bersiap melanjutkan kegiatan yang telah dijadwalkan. Sore disambut dengan hujan yang mengguyur dengan santainya.
Agenda selanjutnya adalah Diskusi Nasional. Langkah kami mencoba bersahabat dengan rintik-rintik hujan yang membuat genangan air di atas aspal disepanjang jalan dari Wisma menuju Aula tempat diskusi. Sambil sedikit berlari kecil, menantang dingin.
Diskusi berlangsung hingga waktu melewati pukul 20.00 WITA. Suasana ramai, mewarnai Makale. Langit malam yang gelap, tiba-tiba berubah menjadi lautan warna-warna cerah dengan suara ledakan kembang api di mana-mana. Sangat indah. Danau buatan di tengah kota menjadi pusat keramaian. Ya, pesta kembang api menjadi rangkaian ceremonial untuk menyambut Perayaan Hari Natal, yang jatuh pada keesokan harinya, 25 Desember. Toraja memang merupakan salah satu daerah di Indonesia yang mayoritas masyarakatnya beragama Kristen. Tapi jangan salah, meskipun mayoritas Kristen, tingkat peghargaan terhadap orang-orang di luar keyakinan mereka juga tetap tinggi.


25 Desember 2011, perjalanan ke beberapa tempat eksotik di Tana Toraja dimulai. Dimulai dari Londa. Bebatuan curam yang membentuk jalan telah menghubungkan pintu gerbang ke Gua. Gua ini digunakan untuk menyimpan peti mati yang telah berisi mayat. Di tempat ini, pemandangan peti mati dan tulang belulang manusia yang mengisi celah-celah di dinding Gua bukanlah sesuatu yang tidak biasa. Karena, inilah kepercayaan masyarakat Toraja yang telah diwariskan dari leluhur mereka. Sebelum memasuki bibir gua, peti mayat yang dimasukkan ke dinding gua dengan ketinggian berbeda-beda juga nampak dengan jelas. Ketinggian tempat penyimpanan peti mayat tersebut merupakan sebuah isyarat tentang bagaimana status sosial dari mahluk Tuhan yang berpulang lebih dulu itu.
Sumber : Di sini


Sumber : Di sini

Perjalanan kedua, dilanjutkan ke Ke’te Kesu. Di Ke’te Kesu, orang-orang yang datang berkunjung disuguhi dengan pemandangan Rumah Tongkonan yang berbaris rapi di sisi kiri maupun kanan. Rumah Tongkonan, merupakan rumah adat khas Tana Toraja. Di depan rumah Tongkonan, terdapat lumbung padi. Bentuknya hampir mirip dengan rumah Tongkonan, namun ukurannya sedikit lebih kecil. Saat langkah diperpanjang, sekitar beberapa meter dari barisan Rumah Tongkonan, dengan anak tangga yang menyambut ramah akan mengantarkan kita ke kumpulan tulang belulang manusia. Banyak diantaranya telah lapuk termakan waktu. Seakan memberi isyarat, bahwa apa yang kita gunakan saat ini hanyalah simbol yang memberi kita identitas, namun waktu akan mengantarkan kita ke penghujung jalan dengan tanpa membawa apa-apa. 



Perjalanan ketiga, dilanjutkan ke Pasar Rantepao. Seperti biasa, dalam setiap rangkaian perjalanan, cinderamata khas seakan menjadi barang utama yang harus dibawa pulang. Di sinilah tempatnya. Pasar Rantepao, menjual berbagai pernak-pernik dan makanan khas Toraja. Maka, jangan heran kalau banyak wisatawan yang datang dan menjadikan pasar ini sebagai tempat yang juga wajib dikunjungi saat ke Tana Toraja.
Perjalanan terakhir, dilakukan keesokan harinya, 26 Desember. Selepas waktu dhuhur, perjalanan dimulai ke Batutumonga oleh beberapa rombongan. Lokasi Batutumonga ternyata tidaklah dekat dengan tempat di mana perjalanan dimulai. Hampir sekitar dua jam, akhirnya sampai juga di lereng Gunung Sesean ini.
Dari semua rangkaian perjalanan, perjalanan ke Batutumonga inilah yang memacu adrenalin. Jalan yang tidak terlalu lebar dan sedikit berlubang menjadi warna tersendiri. Di tengah perjalanan, nampak kerumunan orang yang berjalan memasuki jalan setapak menuju tanah lapang. Langkah terhenti di tempat ini. Ternyata, ada ritual serangkaian dengan upacara kematian Rambu Solok, yaitu Ma’passilaga Tedong. Di tempat ini, masyarakat berkumpul untuk menyaksikan kerbau yang beradu. Kerbau merupakan binatang yang yang dianggap suci oleh suku Toraja.

Banyak yang bilang, kalau upacara kematian di Tanah Toraja akan jauh lebih semarak dan menghabiskan uang yang tidak sedikit dibandingkan dengan acara-acara lainnya. Itulah tradisi mereka. Maka tak heran pula, jika ada yang mengatakan bahwa Tana Toraja adalah Negeri orang mati yang hidup.
Perjalanan dilanjutkan, dengan pakaian yang mulai basah karena hujan dan rentetan peristiwa diluar dugaan yang terjadi. Jalan menuju Batutumonga, betul-betul menantang. Terasering nampak jelas dari atas. Ya, semakin roda angkutan umum yang kami gunakan berputar maka akan semakin tinggi pula jalan yang kami lewati. Jurang yang curam di sisi kiri dan kanan menegaskan itu. Cuaca dingin semakin menusuk. Selanjutnya, pemandangan yang akan sangat sulit dan bisa saja tidak mungkin ditemukan di daerah lain adalah adanya beberapa batu alam dengan ukuran yang cukup besar yang dijadikan sebagai kuburan. Jadi, masyarakat setempat menggunakan batu alam ini sebagai tempat untuk memasukkan mayat di dalamnya. Untuk satu batu alam yang besar itu bisa digunakan sebagai kuburan untuk beberapa mayat, yang berasal dari satu keluarga.
Perjalanan yang cukup lama, dengan kondisi jalan yang tidak biasa, cukup membuat rentetan pertanyaan hinggap dengan sendirinya. “Apami mau diliat nanti sampai di atas ini?”, “dimanami ini ujungnya kasian?” beberapa teman, mulai angkat bicara dengan logat Makassar yang khas. Tak berselang lama kemudian, roda kendaraan berhenti berputar. Akhirnya sampai juga. Dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut, dingin begitu menusuk di tempat ini. Dari Batutumonga, pemandangan indah nampak dengan jelas. Meski sedikit berselimut kabut, tapi pemandangan akan hamparan sawah, pepohonan yang berbaris rapi, dan yang paling penting adalah hamparan kota Rantepao itu masih nampak jelas. Keringat dingin yang sempat bercucuran akibat jalan yang tidak berprasaan, terbayar sudah. Di tempat ini, langit nampak dekat, awan seakan berada sejajar dengan tanah, tepat diatas jurang yang curam. Layaknya, sebuah negeri di atas awan.
(Ayu Adriyani)

You Might Also Like

3 comments

  1. lebih dari sekedar pengalaman yang berharga.. mau lagi ke sana...

    BalasHapus
  2. selamat...telah menikmati sejarah alat dan hidup di tana toraja....
    ^_^

    BalasHapus
  3. tulisannya bagus,,inspiratif,,selamat anda telah berhasil mengabarkan Toraja jadi lebih indah

    BalasHapus