Traveler's Tale, Belok Kanan: Barcelona!

  • 7/28/2011 11:55:00 PM
  • By adriyani.ayu
  • 0 Comments



Author: Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, Ninit Yunita
paperback, 230 pages
Published 2007 by Gagas Media
ISBN13: 9789797800949
primary language: Indonesian
original title: Travelers' Tale, Belok Kanan: Barcelona!
characters: Francis, Farah, Jusuf, Retno

******
"A thousand mile journey begins with the first step" -Lao Tzu-



Sebuah kalimat yang cukup bermakna diletakkan di halaman awal novel ini. Novel yang cukup menarik. Terima kasih untuk Mba’ Zidni yang dengan suka rela memberi obat untuk segala kebosananan yang melanda di salah satu akhir pekan, sewaktu di Pare kemarin. Ya, Novel inilah obatnya.
Novel ini bercerita tentang empat orang anak manusia. They are Francis, Farah, Jusuf, Retno. Mereka semua bersahabat sejak kecil. Persahabatan merekapun diawarnai dengan kisah cinta. Ya, itu mereka sewaktu SMA. Hingga, waktu membuat mereka terpisah satu sama lain. Inilah yang menarik. Novel ini menceritakan lika-liku perjalanan dari satu negara ke negara yang lain untuk mencapai satu tujuan, Barcelona.
Kisah mereka berawal dari sebuah Email (Electronic Mail) yang dikirim oleh Francis kepada tiga orang sahabatnya. Email tersebut merupakan undangan pernikahan milik Francis dengan seorang wanita Barcelona yang berhasil membuat ketiga orang temannya bertanya-tanya. Siapa wanita beruntung itu? Atau, siapa wanita bodoh itu? Ya, sama dengan novel-novel yang lain. Penggambaran cinta menjadi bumbu yang wajib dimixkan dalam sebuah cerita.
Francis memang menaruh hati terhadap Retno. Tidak tanggung-tanggung, Francis telah pernah menyatakan cintanya kepada Retno sebanyak dua kali. Namun tidak tanggung-tanggung pula, sebanyak itupun Retno menolaknya. Ya, dengan alasan perbedaan keyakinan yang selalu dilontarkan Retno kepada Francis. Tapi dengan alasan itu, tak pelak membuat Francis putus asa.
Ucup alias Jusufpun tidak mau ketinggalan. Ia menaruh hati terhadap Farah. Meskipun, menjadi sangat sulit untuknya menaklukkan hati Farah karena ia tahu persis betapa cintanya Farah terhadap Francis (Nah…looooo).
Kembali ke Email yang dikirim Francis. Setelah membacanya, Jusuf mencoba menghubungi Farah. Ia ingin memastikan, apakah Farah akan menghadiri acara pernikahan Francis di Barcelona? Ada sedikit perasaan gembira bagi Jusuf, entah karena ia merasa bahwa sudah tidak ada lagi orang yang secara tidak langsung menjadi pesaingnya untuk mendapatkan Farah atau apa. Tapi, betapa terkejutnya ia ketika Farah memastikan bahwa dirinya akan datang menghadiri pernikahan Francis. Ya, bukan untuk apa-apa, melainkan untuk membatalkan pernikahan Francis. Farah ingin menyatakan perasaannya kepada Francis yang telah terpendam sejak sekian lama, sesampainya ia nanti di Barcelona. Mengetahui hal itu, tanpa berpikir panjang lagi terlebih memikirkan budget yang dimilikinya, Jusuf membulatkan tekadnya untuk berangkat ke Barcelona. Tentunya, untuk membatalkan niat gila Farah.

***perjalananpun dimulai***

Farah, seorang gadis cantik yang diam-diam menaruh hati terhadap Francis itu memulai perjalanannya dari Hoi An di Vietnam. Ia bergerak lincah melewati Amman, Budapest, Wina, Paris hingga bisa sampai di Barcelona. Padahal sebenarnya, ia memiliki catatan hitam kalau berurusan dengan yang namanya penerbangan. Ya, Farah termasuk orang yang Phobia naik pesawat. But, It’s not a problem. Dia melakukan semuanya untuk satu tujuan. Menghentikan pernikahan Francis untuk mengungkapkan rasa yang selama ini dipendamnya. Francis hanya milik Farah.
Jusuf, seorang pria yang (selalu mengaku) ganteng (katanya) memulai perjalanannya dengan bermodalkan nekat dari Cape town. Crowded country, sebutan itu mungkin pas untuk setiap start yang diambilnya. Untuk orang sekaliber Jusuf penggambarannya sangat pas dengan wilayah perjalanan di negeri-negeri yang tidak beraturan. Peperangan lah, ini lah, itu lah. Tengok saja, ia bergerak dari Cape Town menuju Nairobi. Lalu bergerak menuju Dakkar melalui Abidjan. Lalu, Seville melalui Marrakech, and finally he has arrived in Barcelona. Sekalipun dengan berbagai peristiwa-peristiwa kurang menyenangkan yang harus diterimanya. Dikejar-kejar orang lah, diini lah, diitu lah, hingga digebukin orang karena disangka terrorist (dengan alasan yang cukup lucu. Ya, hanya karena namanya Jusuf dan wajahnya yang sedikit khas). Tapi, bencana membawa nikmat bagi Jusuf. Iapun bisa sampai di Barcelona dengan Cuma-Cuma.  Tentunya dengan tujuan untuk menghentikan Farah. Lucky for Jusuf.
Retno si maniak kopi tidak mengalami perjalanan yang panjang jika dibandingkan dengan Farah dan Jusuf. Ia memulai perjalanannya dari Kopenhagen. Bergerak melalui Amsterdam, lalu Milan, Madrid, dan akhirnya Barcelona. Och ya, dibagian awal terselip kisah Retno yang kerap kali mendapat kiriman Post-card dari teman-temannya yang tidak jarang menghabiskan waktu liburan mereka ditempat yang tidak pernah dikunjungi oleh Retno sebelumnya. Sejujurnya Retno memiliki catatan hitam kalau berbicara soal liburan, betapa tidak liburannya hanya satu jalur, rumah nenek. Retno bilang "gara2 tidak pernah kemana2 saat liburan sekolah, saya punya motivasi besar harus melihat dunia suatu saat nanti. Suatu saat, bukan hanya Farah dan Francis yg mengirim Post-card, tetapi saya pada mereka".
Terakhir, Francis. Francis adalah seorang pianist. Ia menuju tempat pernikahannya dengan melakukan traveling sambil konser dari kota ke kota (hemm…what a cool job!). Ia hanya mengikuti jadwal konsernya hingga ia bisa tiba di Barcelona sesuai dengan waktu yang telah diinformasikan kepada teman-temannya. Berangkat dari Kansas City menuju Atlanta, lalu bergerak menuju Miami, New York dan akhirnya Barcelona. Tentunya, untuk memenuhi “sesuatu” yang telah dituliskannya pada Email yang telah dikirimnya kepada ketiga sahabatnya. Sekalipun, ia ragu. Francis masih sulit membungkam hatinya untuk perasaan istimewa yang dari dulu didekapnya erat, hanya untuk Retno.

******

Sebagai novel yang bisa menjadi petunjuk travelling tentunya menjadi sangat menarik. Tengok saja, mereka yang dengan modal nekat berangkat ke Barcelona, Farah yang Phobia naik pesawat, dan kisah kocak Jusuf yang kena grass landing, dievakuasi lah, disangka terrorist, sampai harus disetrum. Och iya, asyik juga tuh, jurus andalan Jusuf kalau lagi terjebak. Cuma teriak “Liat, sapi terbang……”, setelah memastikan semua orang sudah memalingkan wajahnya ke langit sembari mencari-cari “sapi terbang” (katanya) yang dimaksud oleh Jusuf, iapun lari terpingkal-pingkal (Fiuuuhhh…..Good job, Jusuf!!).
Beberapa kejadian lucu memang terselip dalam setiap perjalanan mereka. Ya, salah satunya yaa itu tadi, kisah Jusuf. Terlebih ketika disangka Terorist, setelah digebukin tanpa ampun, mereka Cuma bilang "Maafkan kami, senor. Kami kira anda termasuk jaringan Al-Qaeda d Asia Timur. Pas sekali. Paspor anda Indonesia. Visa aktif semua ke negara2 Afrika yg berkonflik, anda berwajah Asia dan on top of everything else anda bernama Jusuf. Hal lucu lainnya, adalah ketika Francis bertemu dengan seseorang berkebangsaan China disebuah bar. Perbincangan singkatpun terjadi. Where are you from?” Katanya. Francis menjawab “I’m from Indonesia”. Dengan lincahnya ia berkata "so far hah....Niu Yok Sity, Ingdonesia, so vely far hah! I'm from chainah. Far olso hah...!".
Endingnya? Hemm….sedikit nanggung. Mereka berempat bertemu kembali. Farah mengutarakan perasaanya kepada Francis. Sedangkan, Francis memang membatalkan pernikahannya dengan wanita Barcelona yang namanya ia cantumkan di Emailnya tapi bukan karena Farah, melainkan karena Retno. Tidak mau kalah, Jusufpun mengutarakan perasaannya kepada Farah (akhirnya….).
Tapi, terlepas dari hal itu. Dua jempol untuk novel ini. What a cool story! Tips travelnya sangat membantu buat mereka yang menyebut dirinya sebagai seorang Backpacker lah atau mungkin masih menjadi pemula dalam dunia Travelling tentunya. Atau mungkin lagi untuk mereka yang mencoba untuk bermain-main dengan alam khayal mereka. Jetlag tipsnya juga keren. Hehehhe….baru tau jetlag itu apa. Och Ya, benar juga dalam buku ini yang menegaskan bahwa dalam dunia Travelling terlebih dalam hal belanjaan, kita hanya memiliki dua pilihan. Mau belanja barang-barang, atau mau belanja pengalaman. Retno bilang, “barang dapat habis dijual ataupun dibeli. Tapi pengalaman, tidak akan pernah habis untuk diingat dan diceritakan”.

You Might Also Like

0 comments