Langit mendung. Udara dingin masih cukup menusuk. Suara tetesan air masih terdengar jelas dari atap. Sisa hujan masih terbaca. Hari kedelapan Juni, untuk pertama kalinya hujan menyapa di saat matahari belum sempurna merangkak naik.
Entah apa yang salah, dan mungkin memang tak ada yang salah. Di luar dingin, mendung pun masih ada. Dan, saya masih saja tergesa-gesa mempersiapkan segala sesuatu yang harus saya bawa ke salah satu sekolah di Makassar. Seperti berolahraga pagi, keringat tak mau berkompromi.
Hp berdering, sebuah pesan singkat masuk dari salah satu teman SMA saya. Isinya singkat, berita duka. Salah satu teman saya sewaktu SMA telah berpulang lebih dulu ke pangkuannya. Tak banyak kata, tak banyak tanya, hanya sedikit bercengkrama dengan hati dalam kesunyian.
Memang ini hanya permasalahan waktu. Setiap dari kita akan mengalaminya. Cepat atau lambat “kehidupan yang lain” itu telah menunggu. Tuhan memang tahu, tapi menunggu. Mungkin setahun, sebulan, seminggu, sehari, sejam, atau bahkan semenit kemudian, tak ada upaya yang bisa membuat kita selamat dari cengkramannya. Bukan permasalahan masih muda atau tidak lagi. Sekali lagi, ini hanya permasalahan waktu.
Di luar, hujan kembali menyapa. Arghhh, langkah memang tak harus terhenti tapi berdamai dengan rerintihan hujan dan tentengan barang yang tak berprasaan, bukan waktu yang tepat yang saat ini.
| Sumber: Di sini |
Waktu tak pernah menunggu, tak terkecuali menunggu saya untuk berbenah. Ia terus berjalan. Bersama senja kedelapan di bulan Juni, saya menerima kabar lagi. Salah seorang paman saya akan diopname di salah satu rumah sakit di Makassar. Bersama senja kedelapan di bulan Juni, di tengah gegap gempita adzan maghrib semuanya terasa beda.
Hidup memang terus bergulir. Banyak cerita, banyak kisah. Tidak hanya suka, tapi juga duka. Senja telah menghilang, bersamaan dengan datangnya gelap. Kecut bercampur manis menyatu dalam satu buah jeruk. Hemmm…rasanya berhasil membawa ingatan ini berkenalana ke tempat belasan tahun yang lalu saya berada. Arggghh…sudah lama. Dan saya merindukannya…
1 comments
R.I.P, temannya Ayu. Semoga tenang disisi Sang Pemilik Raga .. Aamiin :)
BalasHapus