Menjadi bijak dengan Sosial Media

  • 10/06/2012 08:42:00 AM
  • By adriyani.ayu
  • 0 Comments


Sumber : Di sini
 
Sekumpulan orang datang bersama-sama ke sebuah warung kopi. Warung kopi (warkop) ini, tidak hanya menyediakan kopi sebagai sajian “the one and only”nya. Namun juga, berbagai varian menu. Sebagian dari mereka mulai memesan makanan dan minuman. Sedangkan salah seorang dari mereka berjalan menghampiri sebuah meja di pojok warkop ini. Tangannya dengan lincah meraih beberapa password wifi yang oleh si empunya warkop di letakkan pada satu wadah di meja pojok, dekat kasir.

Setelah mengambil kertas yang bertuliskan password itu, ia membaginya ke masing-masing temannya. Masing-masing dari mereka pun mulai mengeluarkan laptop dari tasnya. Sesaat sebelum koneksi internet mereka on, mereka masih sibuk dengan pembicaraan yang mereka bawa dari rumah. Samar-samar terdengar pembicaraan mereka tentang pertandingan sepak bola yang mereka saksikan di tempat yang berbeda namun dengan satu media―televisi. Mereka sibuk mengkritik ini dan itu, entah cara bermainnya yang kurang greget lah, sampai kekecewaan mereka karena club yang mereka idolakan harus kalah dari lawannya. Pembicaraan mereka pun mulai memecah keheningan―awalnya.
Bunyi tombol keyboard yang ditekan oleh banyak orang di ruangan itu seakan berkumpul seperti bunyi mesin tik―mereka mulai mengetik user name dan password di laptop masing-masing. Lalu kemudian hening. Tidak ada pembahasan tentang bola, tidak ada kritikan, yang ada hanya bunyi keyboard yang mengajak mereka berkelana ke dunia maya.
*****
Sumber: Di sini

Dalam perjalanannya, media mempunyai peran penting untuk masyarakat. Berbicara tentang media, maka sekarang ini sedang terjadi revolusi yang luar biasa menarik, bahkan menakjubkan bagi manusia. Hal ini karena media membawa suatu perubahan terhadap pola dan struktur bagi proses komunikasi manusia.
Selain itu, berawal dari hal inipun juga tumbuh dan berkembang teknologi informasi manusia yang pada akhirnya mampu untuk melampui ruang dan waktu untuk menciptakan dunia global yang berkembang tanpa mengenal batas negara maupun bangsa, seakan-akan hal itu nyata dan dapat dirasakan.
 Akan tetapi revolusi ini juga dapat membawa pengaruh yang tidak hanya positif, namun juga negatif baik dari segi penggunaan maupun dalam proses pemanfaatannya. Bagaimana revolusi ini akan mengubah pola dan struktur kehidupan manusia secara baik atau justru mengakibatkan suatu malapetaka bagi penggunannya? Ketika  informasi menjadi unsur penting dalam kehidupan di masyarakat, maka masyarakat mulai “mau tidak mau” membuka diri pada media massa dan komunikasi global.
Itulah yang terjadi saat ini. Dalam media online, perkembangan new media terjadi begitu pesat. Internet pada dasarnya telah memanjakan manusia dengan fasilitas-fasilitas “sosial” di dunia maya. Apa yang disajikannya mengalahkan kehangatan yang disajikan dari sapaan dan jabat tangan secara langsung di dunia “bukan maya”.   
Media baru (new media) merupakan sebuah terminologi untuk menjelaskan konvergensi antara teknologi komunikasi digital yang terkomputerisasi serta terhubung ke dalam jaringan. Martin Liester dan kawan-kawan dalam bukunya New Media: a Critical Introduction mengusulkan tiga definisi: pertama, New Media adalah pikiran, gagasan atau ide baru yang berhubungan penting dengan zaman; apakah penyebab atau pengaruh media ini memberikan dampak lebih besar ke global maupun perubahan sejarah. Kedua, New Media memberikan khayalan yang sangat kuat dan perubahan ideology positif ke konsep “baru”. Ketiga, bermanfaat dan “Portmanteau” (digunakan untuk mengurangi istilah “new media” ke teknis atau lebih spesialis (Kontroversial)).
New media membawa suatu perubahan yang dikatakan sebagai new technoculture (new media sebagai suatu hal yang membuka zaman/ fenomena baru dan masih terlihat sebagai bagian dari perubahan secara teknologi, sosial, dan budaya) sehingga dengan begitu new media mempunyai beberapa karakteristik yang merujuk ke arah new technoculture. Yaitu, digital, interaktifitas, hipertektual dan virtual.
Digital dimaksudkan dalam proses penginputan data, diconvert ke dalam angka-angka yang lebih cepat serta real penggunaannya sehingga menjadi lebih baik dibandingkan dengan proses analog. Interaktifitas menandakan bahwa users (the individuals members of the new media ‘audience’) dapat secara langsung berkomunikasi dua arah atau berinteraksi terhadap perubahan gambar, teks, dll yang diakses. Sehingga, audience dari new media bukan lagi viewer akan tetapi users.
Hypertextual menggambarkan teks yang menyediakan jaringan link untuk mengakses teks-teks yang lain. Jadi dengan menuju ke satu teks saja yang terdapat di link maka akan terhubung dengan halaman lain dari isi teks yang berbeda. Dunia virtual, space, environments, realitas, identitas, dan objek-objek immaterial serta wacana-wacana tentang new media termasuk aplikasi di dalamnya, diproduksi dari hasil virtualitas. Walaupun new media memiliki kehadiran yang tidak secara fisik, itulah yang membentuk budaya virtual atau disebut dengan dunia maya (martin dalam Febriani dan Permana, 198:2011).
*****
Sumber: Di sini

            Ilustrasi di awal tulisan ini, telah menggambarkan bagaimana dunia maya mengambil ruang dalam masyarakat saat ini, bahkan menjadi pengalih. Di satu sisi yang pasti, setiap orang memiliki aktivitas di dunia nyata. Namun dengan perkembangan internet, aktivitas setiap orang tidak hanya di dunia nyata namun juga di dunia maya. Berinteraksi di dunia maya itu tidak pernah salah, yang salah adalah ketika dunia maya malah menjadi pengalih aktivitas-aktivas sosial kita di dunia nyata.
            Internet itu bagaikan uang logam. Satu sisinya adalah positif, dan sisi lainnya adalah negatif. Bermain di dunia maya, terutama di jejaring sosial membuat kita punya banyak teman berbagi. Selain itu, tali siturahmi dengan kawan lama juga bisa terjalin kembali. Dan tentunya, ada banyak informasi yang di dapat di dalamnya.
            Mengingat bahwa informasi yang ada di dalamnya bukan hanya yang bernilai positif, maka pada saat inilah sisi negatif dari jejaring sosial itu muncul. Ketika, penggunanya lebih memilih untuk mengambil informasi yang negatif ketimbang yang positif. Atau bahkan ketika batasan antara ranah publik dan private pun telah menjadi buram dan sehinga sulit untuk membedakannya. Walhasil, informasi-informasi mengenai sesuatu yang pribadi pun di share  di ranah publik dan tentunya menjadi konsumsi publik.
            Meminjam kalimat dari seorang dosen “Internet bisa menemui titik disfungsinya ketika ada orang yang tidak paham akan konteks-konteks komunikasi. Bisa jadi konteks komunikasi yang dilakukannya adalah komunikasi antar pribadi namun karena tidak paham, maka dijadikanlah komunikasi pribadi ini sebagai komunikasi publik yang tentunya mempunyai dampak”.
            Berbicara mengenai Internet, maka saat ini produk sosial media menjadi barang yang sangat digandrungi oleh para penjelajah dunia maya. Tentunya, semua orang mampu membeli hingga menguasai produk kemajuan zaman tersebut, namun tidak semua orang mampu menggunakannya dengan bijak. Kehadiran sosial media, penuh dengan konsekuensi. Sosial media akan menampakkan sisi negatifnya ketika kita mulai melupakan interaksi sosial yang terjadi di kehidupan nyata kita, hingga memanfaatkannya untuk menjadi ruang private yang terakses secara mudah oleh dunia. Namun sebaliknya, sisi positifnya akan nampak ketika kita memanfaatkannya untuk mengambil atau bahkan berbagi informasi-informasi yang pada dasarnya memang bermanfaat untuk publik. Dan tentunya, masing-masing dari kita memiliki kesempatan untuk menjadi pengguna internet yang sehat dan bijak.

You Might Also Like

0 comments