| Sumber : Di sini |
Sekumpulan orang datang bersama-sama ke sebuah warung kopi. Warung kopi (warkop) ini, tidak hanya menyediakan kopi sebagai sajian “the one and only”nya. Namun juga, berbagai varian menu. Sebagian dari mereka mulai memesan makanan dan minuman. Sedangkan salah seorang dari mereka berjalan menghampiri sebuah meja di pojok warkop ini. Tangannya dengan lincah meraih beberapa password wifi yang oleh si empunya warkop di letakkan pada satu wadah di meja pojok, dekat kasir.
Setelah mengambil kertas yang bertuliskan password itu, ia membaginya ke masing-masing temannya. Masing-masing dari mereka pun mulai mengeluarkan laptop dari tasnya. Sesaat sebelum koneksi internet mereka on, mereka masih sibuk dengan pembicaraan yang mereka bawa dari rumah. Samar-samar terdengar pembicaraan mereka tentang pertandingan sepak bola yang mereka saksikan di tempat yang berbeda namun dengan satu media―televisi. Mereka sibuk mengkritik ini dan itu, entah cara bermainnya yang kurang greget lah, sampai kekecewaan mereka karena club yang mereka idolakan harus kalah dari lawannya. Pembicaraan mereka pun mulai memecah keheningan―awalnya.
Bunyi
tombol keyboard yang ditekan oleh
banyak orang di ruangan itu seakan berkumpul seperti bunyi mesin tik―mereka
mulai mengetik user name dan password di laptop masing-masing. Lalu
kemudian hening. Tidak ada pembahasan tentang bola, tidak ada kritikan, yang
ada hanya bunyi keyboard yang
mengajak mereka berkelana ke dunia maya.
*****
| Sumber: Di sini |
Dalam
perjalanannya, media mempunyai peran penting untuk masyarakat. Berbicara
tentang media, maka sekarang ini sedang terjadi revolusi yang luar biasa
menarik, bahkan menakjubkan bagi manusia. Hal ini karena media membawa suatu
perubahan terhadap pola dan struktur bagi proses komunikasi manusia.
Selain
itu, berawal dari hal inipun juga tumbuh dan berkembang teknologi informasi
manusia yang pada akhirnya mampu untuk melampui ruang dan waktu untuk
menciptakan dunia global yang berkembang tanpa mengenal batas negara maupun
bangsa, seakan-akan hal itu nyata dan dapat dirasakan.
Akan tetapi revolusi ini juga dapat membawa
pengaruh yang tidak hanya positif, namun juga negatif baik dari segi penggunaan
maupun dalam proses pemanfaatannya. Bagaimana revolusi ini akan mengubah pola
dan struktur kehidupan manusia secara baik atau justru mengakibatkan suatu
malapetaka bagi penggunannya? Ketika
informasi menjadi unsur penting dalam kehidupan di masyarakat, maka
masyarakat mulai “mau tidak mau” membuka diri pada media massa dan komunikasi
global.
Itulah
yang terjadi saat ini. Dalam media online, perkembangan new media terjadi begitu pesat. Internet pada dasarnya telah
memanjakan manusia dengan fasilitas-fasilitas “sosial” di dunia maya. Apa yang
disajikannya mengalahkan kehangatan yang disajikan dari sapaan dan jabat tangan
secara langsung di dunia “bukan maya”.
Media baru (new media) merupakan
sebuah terminologi untuk menjelaskan konvergensi antara teknologi komunikasi
digital yang terkomputerisasi serta terhubung ke dalam jaringan. Martin Liester dan kawan-kawan dalam
bukunya New Media: a Critical
Introduction mengusulkan tiga definisi: pertama, New Media adalah pikiran, gagasan atau ide baru yang berhubungan
penting dengan zaman; apakah penyebab atau pengaruh media ini memberikan dampak
lebih besar ke global maupun perubahan sejarah. Kedua, New Media memberikan khayalan yang sangat kuat dan perubahan
ideology positif ke konsep “baru”. Ketiga,
bermanfaat dan “Portmanteau” (digunakan
untuk mengurangi istilah “new media” ke
teknis atau lebih spesialis (Kontroversial)).
New
media membawa suatu
perubahan yang dikatakan sebagai new
technoculture (new media sebagai suatu hal yang membuka zaman/ fenomena
baru dan masih terlihat sebagai bagian dari perubahan secara teknologi, sosial,
dan budaya) sehingga dengan begitu new
media mempunyai beberapa karakteristik yang merujuk ke arah new technoculture. Yaitu, digital, interaktifitas,
hipertektual dan virtual.
Digital dimaksudkan dalam proses penginputan
data, diconvert ke dalam angka-angka yang lebih cepat serta real penggunaannya sehingga menjadi
lebih baik dibandingkan dengan proses analog. Interaktifitas menandakan bahwa
users (the individuals members of the new
media ‘audience’) dapat secara langsung berkomunikasi dua arah atau
berinteraksi terhadap perubahan gambar, teks, dll yang diakses. Sehingga, audience dari new media bukan lagi viewer akan
tetapi users.
Hypertextual menggambarkan teks yang menyediakan
jaringan link untuk mengakses
teks-teks yang lain. Jadi dengan menuju ke satu teks saja yang terdapat di link maka akan terhubung dengan halaman
lain dari isi teks yang berbeda. Dunia virtual, space, environments, realitas, identitas, dan objek-objek
immaterial serta wacana-wacana tentang new
media termasuk aplikasi di dalamnya, diproduksi dari hasil virtualitas. Walaupun
new media memiliki kehadiran yang
tidak secara fisik, itulah yang membentuk budaya virtual atau disebut dengan
dunia maya (martin dalam Febriani dan Permana, 198:2011).
*****
| Sumber: Di sini |
Ilustrasi di awal tulisan ini, telah
menggambarkan bagaimana dunia maya mengambil ruang dalam masyarakat saat ini,
bahkan menjadi pengalih. Di satu sisi yang pasti, setiap orang memiliki
aktivitas di dunia nyata. Namun dengan perkembangan internet, aktivitas setiap
orang tidak hanya di dunia nyata namun juga di dunia maya. Berinteraksi di dunia
maya itu tidak pernah salah, yang salah adalah ketika dunia maya malah menjadi
pengalih aktivitas-aktivas sosial kita di dunia nyata.
Internet itu bagaikan uang logam.
Satu sisinya adalah positif, dan sisi lainnya adalah negatif. Bermain di dunia
maya, terutama di jejaring sosial membuat kita punya banyak teman berbagi.
Selain itu, tali siturahmi dengan kawan lama juga bisa terjalin kembali. Dan
tentunya, ada banyak informasi yang di dapat di dalamnya.
Mengingat bahwa informasi yang ada
di dalamnya bukan hanya yang bernilai positif, maka pada saat inilah sisi
negatif dari jejaring sosial itu muncul. Ketika, penggunanya lebih memilih
untuk mengambil informasi yang negatif ketimbang yang positif. Atau bahkan
ketika batasan antara ranah publik dan private
pun telah menjadi buram dan sehinga sulit untuk membedakannya. Walhasil,
informasi-informasi mengenai sesuatu yang pribadi pun di share di ranah publik dan
tentunya menjadi konsumsi publik.
Meminjam kalimat dari seorang dosen
“Internet bisa menemui titik disfungsinya ketika ada orang yang tidak paham
akan konteks-konteks komunikasi. Bisa jadi konteks komunikasi yang dilakukannya
adalah komunikasi antar pribadi namun karena tidak paham, maka dijadikanlah komunikasi
pribadi ini sebagai komunikasi publik yang tentunya mempunyai dampak”.
Berbicara mengenai Internet, maka
saat ini produk sosial media menjadi barang yang sangat digandrungi oleh para
penjelajah dunia maya. Tentunya, semua orang mampu membeli hingga menguasai
produk kemajuan zaman tersebut, namun tidak semua orang mampu menggunakannya
dengan bijak. Kehadiran sosial media, penuh dengan konsekuensi. Sosial media
akan menampakkan sisi negatifnya ketika kita mulai melupakan interaksi sosial
yang terjadi di kehidupan nyata kita, hingga memanfaatkannya untuk menjadi
ruang private yang terakses secara
mudah oleh dunia. Namun sebaliknya, sisi positifnya akan nampak ketika kita
memanfaatkannya untuk mengambil atau bahkan berbagi informasi-informasi yang pada
dasarnya memang bermanfaat untuk publik. Dan tentunya, masing-masing dari kita
memiliki kesempatan untuk menjadi pengguna internet yang sehat dan bijak.
0 comments