Media Literasi: Tentang Akses dan Analisis
- 2/26/2013 08:18:00 PM
- By adriyani.ayu
- 0 Comments
| Sumber: Here |
What
the mass media offers is not popular art, but entertainment which is intended
to be consumed like food, forgotten, and replaced by a new dish
-W.H.Auden-
Di era globalisasi seperti
sekarang ini, tidak bisa dipungkiri bahwa pengaruh media sudah begitu besar
terhadap pola perilaku dan cara berfikir manusia. Sehingga, tidak sedikit orang
yang mengeluhkan kehidupan di tengah dunia sesak-media
(media-saturated world). Perkembangan
media menjadi suatu keniscayaan dalam perkembangan masyarakat. Media dan
masyarakat bagaikan dua sisi uang logam yang saling melengkapi.
Sayling
Wen menegaskan bahwa terdapat enam jenis media. Yaitu, grafik, suara, musik,
animasi, dan video. Nah, kelima media
yang ditegaskan bisa dinikmati secara bersama-sama dalam satu media, televisi.
| Sumber: Here |
Televisi
adalah media massa elektronik yang paling luas dikonsumsi oleh masyarakat
Indonesia. Jenis media ini, sebagai media audio-visual,
tidak membebani banyak syarat bagi masyarakat untuk menikmatinya. Untuk
masyarakat Indonesia, yang lebih kuat dengan budaya lisan, media televisi tidak
memiliki jarak yang jauh. Sekalipun, menonton televisi tentunya berbeda dengan
budaya baca-tulis.
Postingan yang terlangkahi adalah mengenai Literasi Media. Namun berbicara mengenai Literasi Media, maka salah satu
definisi yang paling ramai digunakan berkenaan dengan media literasi adalah kemampuan
untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan pesan yang
disajikan oleh media.
Berbicara
tentang kemampuan untuk mengakses. Setiap orang memiliki hak untuk memperoleh
informasi seluas-luasnya. Informasi tentang Sarana pemenuhan akan kebetuhan
informasi dapat diperoleh melalui media massa. Di sinilah pentingnya media.
Namun, apakah masyarakat telah betul-betul memperolehnya?
Keberadaan
media tentunya akan berhubungan erat dengan efek yang dihasilkan setelahnya. Hal
ini tentunya berkaitan pula dengan kemampuan manusia dalam menerima pesan.
Sebuah teori menyebutkan bahwa kemampuan daya tangkap manusia hanya 15% jika
pesan diterima hanya dengan perangkat audio.
Sedangkan presentase akan meningkat, hingga mencapai 55% jika perangkat yang
digunakan adalah perangkat audio visual.
Bahkan akan meningkat hingga 95% jika turut melibatkan emosi.
Selanjutnya,
berbicara tentang kemampuan menganalisis. Hal ini tentunya berkaitan erat
dengan content media. Setelah
mencapai tahapan akses informasi dari berbagai macam media. Pertanyaan
selanjutnya adalah apakah content
yang disajikan oleh media dan didapatkan oleh masyarakat adalah informasi yang
memang betul-betul dibutuhkan?
Pada
tahapan inilah, dibutuhkan kemampuan yang lebih dari masyarakat untuk menganalisis,
untuk melihat, untuk membaca makna dari setiap content yang disajikan media. Mengingat, saat ini tidak sedikit
tayangan media yang mengesampingkan hak setiap orang untuk memperoleh informasi
yang benar-benar dibutuhkan.
| sumber: Here |
Media
Watch The Habibie Center, edisi 76/2009 mengulas tentang Program yang
menyuguhkan seksualitas yang telah sampai pada titik mengkhawatirkan. Bahkan, nampaknya
pengelola TV makin percaya bahwa suatu acara tidak akan terasa enaknya jika tidak
dibumbui dengan adegan seks. Tak jarang pula, tayangan yang seperti itu pulalah
yang dijadikan andalan. Hal ini dapat dengan mudah ditemui di sinetron, variety show, acara musik, dan terlebih
film-film asing yang ditayangkan di stasiun TV Indonesia.
Sebagai
contoh, visualisasi pakaian minim atau ketat yang menonjolkan bagian organ
seksualitas atau yang lazim diasosiasikan dengan daya tarik seksual dan
keintiman atau tari-tarian seksual, menunjukkan bahwa TV terjebak makin dalam pada
lingkaran industri budaya pop dan kapitalisme. Dengan analisis tersebut tumbuh
gerakan budaya pasar atau kapitalisme dengan mengeksploitasi tubuh perempuan.
Dalam
masyarakat komoditas, kecantikan dan ketampanan adalah komoditas yang berharga.
Karena ia didukung budaya citra yang mengutamakan penampilan. Tak heran, TV
(media massa) kemudian menentukan cantiknya wanita sekarang bila mereka
memiliki penampilan wajah yang anggun namun atraktif, tubuhnya sintal, bibirnya
merah sensual, langsing semampai, putih dan memiliki daya pikat seksual.
Sementara ketampanan diukur dengan wajah ganteng, tinggi, tubuh atletis
berotot.
Televisi
merupakan ruang publik. Namun, kesalahan yang menjadi hobby saat ini adalah penayangan hal-hal yang berbau pribadi di
ruang publik ini. Ruang yang semestinya digunakan untuk memberikan informasi
yang bermanfaat bagi kepentingan publik. Hal ini dapat dengan mudah ditemukan
pada program infotainment. Bahkan
nampaknya infotainment malah
menghamba pada kesalahan yang satu ini.
Masih
lekat dalam ingatan, ketika RCTI lewat salah satu programnya menayangkan
prosesi pernikahan Anang dan Ashanty secara langsung. Pernikahan mereka
bukanlah sesuatu yang salah. Yang salah adalah penggunaan frekuensi milik
publik untuk menampilkan ranah pribadi dari seorang selebritis.
Tidak
hanya berkutat pada ranah itu saja. Pada sebuah kesempatan, di salah satu
workshop penulisan majalah, salah seorang pembicaranya mengatakan bahwa jika
ingin menguasai dunia, maka terlebih dahulu kuasailah media.
| Sumber: Here |
Dapat
dilihat, SIAPA dibalik APA saat ini. TVone, ANTV? Metro TV?,
MNC TV, RCTI, GlobalTV? Belum lagi mereka yang bermain aman.
Bisa
dilihat perdebatan-perdebatan atas nama rakyat yang terus menerus
dipertontonkan dengan sengaja dan dengan berbagai setting. Seolah – olah peduli tapi yang terjadi adalah propaganda.
Melihat
fenomena saat ini, tentang media yang semakin menempatkan masyarakat sebagai
pihak kesekian dalam menyajikan sebuah tayangan. Sehingga berujung pada
propaganda-propaganda yang terencana secara sadar. Maka, pada tahap inilah
dibutuhkan adanya Literasi Media. Bahwa kemampuan mengakses harus dibarengi
dengan kemampuan menganalisis.
NB: Tulisan ini, tulisan yang tertunda pada sebuah buletin.
0 comments