Media Literasi: Tentang Akses dan Analisis

  • 2/26/2013 08:18:00 PM
  • By adriyani.ayu
  • 0 Comments

Sumber: Here


What the mass media offers is not popular art, but entertainment which is intended to be consumed like food, forgotten, and replaced by a new dish
-W.H.Auden-

Di era globalisasi seperti sekarang ini, tidak bisa dipungkiri bahwa pengaruh media sudah begitu besar terhadap pola perilaku dan cara berfikir manusia. Sehingga, tidak sedikit orang yang mengeluhkan kehidupan di tengah dunia sesak-media (media-saturated world). Perkembangan media menjadi suatu keniscayaan dalam perkembangan masyarakat. Media dan masyarakat bagaikan dua sisi uang logam yang saling melengkapi.

Rivers, dkk (dalam Iriantara, 2009: 29) mengatakan bahwa “Media massa merupakan salah satu institusi sosial yang penting dalam masyarakat modern”. Hal ini juga didukung oleh Effendy yang mengatakan bahwa “Sebagai institusi sosial, media massa menjalankan fungsi mendidik, meghibur, menginformasikan, dan memengaruhi serta dipandang sebagai kekuatan keempat setelah kekuatan eksekutif, legilatif, dan yudikatif”.

Sayling Wen menegaskan bahwa terdapat enam jenis media. Yaitu, grafik, suara, musik, animasi, dan video. Nah, kelima media yang ditegaskan bisa dinikmati secara bersama-sama dalam satu media, televisi.
Sumber: Here

Televisi adalah media massa elektronik yang paling luas dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Jenis media ini, sebagai media audio-visual, tidak membebani banyak syarat bagi masyarakat untuk menikmatinya. Untuk masyarakat Indonesia, yang lebih kuat dengan budaya lisan, media televisi tidak memiliki jarak yang jauh. Sekalipun, menonton televisi tentunya berbeda dengan budaya baca-tulis.

Postingan yang terlangkahi adalah mengenai Literasi Media. Namun berbicara mengenai Literasi Media, maka salah satu definisi yang paling ramai digunakan berkenaan dengan media literasi adalah kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan pesan yang disajikan oleh media.

Berbicara tentang kemampuan untuk mengakses. Setiap orang memiliki hak untuk memperoleh informasi seluas-luasnya. Informasi tentang Sarana pemenuhan akan kebetuhan informasi dapat diperoleh melalui media massa. Di sinilah pentingnya media. Namun, apakah masyarakat telah betul-betul memperolehnya?

Keberadaan media tentunya akan berhubungan erat dengan efek yang dihasilkan setelahnya. Hal ini tentunya berkaitan pula dengan kemampuan manusia dalam menerima pesan. Sebuah teori menyebutkan bahwa kemampuan daya tangkap manusia hanya 15% jika pesan diterima hanya dengan perangkat audio. Sedangkan presentase akan meningkat, hingga mencapai 55% jika perangkat yang digunakan adalah perangkat audio visual. Bahkan akan meningkat hingga 95% jika turut melibatkan emosi.

Selanjutnya, berbicara tentang kemampuan menganalisis. Hal ini tentunya berkaitan erat dengan content media. Setelah mencapai tahapan akses informasi dari berbagai macam media. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah content yang disajikan oleh media dan didapatkan oleh masyarakat adalah informasi yang memang betul-betul dibutuhkan?

Pada tahapan inilah, dibutuhkan kemampuan yang lebih dari masyarakat untuk menganalisis, untuk melihat, untuk membaca makna dari setiap content yang disajikan media. Mengingat, saat ini tidak sedikit tayangan media yang mengesampingkan hak setiap orang untuk memperoleh informasi yang benar-benar dibutuhkan.
sumber: Here

Media Watch The Habibie Center, edisi 76/2009 mengulas tentang Program yang menyuguhkan seksualitas yang telah sampai pada titik mengkhawatirkan. Bahkan, nampaknya pengelola TV makin percaya bahwa suatu acara tidak akan terasa enaknya jika tidak dibumbui dengan adegan seks. Tak jarang pula, tayangan yang seperti itu pulalah yang dijadikan andalan. Hal ini dapat dengan mudah ditemui di sinetron, variety show, acara musik, dan terlebih film-film asing yang ditayangkan di stasiun TV Indonesia.

Sebagai contoh, visualisasi pakaian minim atau ketat yang menonjolkan bagian organ seksualitas atau yang lazim diasosiasikan dengan daya tarik seksual dan keintiman atau tari-tarian seksual, menunjukkan bahwa TV terjebak makin dalam pada lingkaran industri budaya pop dan kapitalisme. Dengan analisis tersebut tumbuh gerakan budaya pasar atau kapitalisme dengan mengeksploitasi tubuh perempuan.

Dalam masyarakat komoditas, kecantikan dan ketampanan adalah komoditas yang berharga. Karena ia didukung budaya citra yang mengutamakan penampilan. Tak heran, TV (media massa) kemudian menentukan cantiknya wanita sekarang bila mereka memiliki penampilan wajah yang anggun namun atraktif, tubuhnya sintal, bibirnya merah sensual, langsing semampai, putih dan memiliki daya pikat seksual. Sementara ketampanan diukur dengan wajah ganteng, tinggi, tubuh atletis berotot.

Televisi merupakan ruang publik. Namun, kesalahan yang menjadi hobby saat ini adalah penayangan hal-hal yang berbau pribadi di ruang publik ini. Ruang yang semestinya digunakan untuk memberikan informasi yang bermanfaat bagi kepentingan publik. Hal ini dapat dengan mudah ditemukan pada program infotainment. Bahkan nampaknya infotainment malah menghamba pada kesalahan yang satu ini.

Masih lekat dalam ingatan, ketika RCTI lewat salah satu programnya menayangkan prosesi pernikahan Anang dan Ashanty secara langsung. Pernikahan mereka bukanlah sesuatu yang salah. Yang salah adalah penggunaan frekuensi milik publik untuk menampilkan ranah pribadi dari seorang selebritis.

Tidak hanya berkutat pada ranah itu saja. Pada sebuah kesempatan, di salah satu workshop penulisan majalah, salah seorang pembicaranya mengatakan bahwa jika ingin menguasai dunia, maka terlebih dahulu kuasailah media.
Sumber: Here

Dapat dilihat, SIAPA dibalik APA saat ini. TVone, ANTV? Metro TV?, MNC TV, RCTI, GlobalTV? Belum lagi mereka yang bermain aman.

Bisa dilihat perdebatan-perdebatan atas nama rakyat yang terus menerus dipertontonkan dengan sengaja dan dengan berbagai setting. Seolah – olah peduli tapi yang terjadi adalah propaganda.

Melihat fenomena saat ini, tentang media yang semakin menempatkan masyarakat sebagai pihak kesekian dalam menyajikan sebuah tayangan. Sehingga berujung pada propaganda-propaganda yang terencana secara sadar. Maka, pada tahap inilah dibutuhkan adanya Literasi Media. Bahwa kemampuan mengakses harus dibarengi dengan kemampuan menganalisis.


NB: Tulisan ini, tulisan yang tertunda pada sebuah buletin.

You Might Also Like

0 comments