Sebelumnya, adik-adik Sekolah Dasar (SD) dilatih membaca puisi dan juga menyanyi. Oh iya, tidak usah tanyakan SD yang mana, karena di Miangas hanya ada satu SD. Adik-adik itu tidak terkecuali, adik angkat saya di Miangas. Namanya Intan, dia anak kedua dari tiga bersaudara.
Malam itu, di ruang tamu, saya, mama, papa, Eka (teman serumah dari FKM), Mama Mesye (tetangga samping rumah) berkumpul. Satu per satu orang mulai lalu lalang di depan rumah, mengajak untuk segera bergabung di Pendopo. Namun saya masih larut. Sesekali melirik ke kotak kaca yang sedari tadi sibuk sendiri. Menyaksikan Mama Mesye bercerita tentang anak-anak yang sering dilihatnya berlatih jauh lebih menyenangkan. Mama Meisye melihat mereka latihan bahkan hingga ke Liang (salah satu sumber mata air tawar yang ada di Miangas. Lokasinya lumayan jauh untuk berjalan kaki. Ya, sekitar 15 menitan lah. Liang sering kali jadi tempat kami untuk mencuci pakaian). Semangatnya menggebu-gebu, diselingi canda, dan kami pun tertawa.
Intan sedari tadi tak kunjung beranjak dari kursi coklat di depan Tv. Mama pun menyuruhnya untuk bersih-bersih badan dulu sebelum berangkat ke Pendopo (tempat lomba seni diadakan). Setahu saya, Intan pun sudah latihan berhari-hari untuk hari ini bersama dengan salah satu kakak dari teman-teman KKN. Sembari melihat, Intan mulai bersiap, saya dan Eka pun pamit untuk berangkat lebih dulu ke Pendopo.
Di Pendopo, saya bertemu dengan salah satu teman KKN saya yang mendampingi Intan selama proses latihan. Dia bilang kalau Intan tidak jadi ikut. "Loh, bukannya dia sudah latihan?" tanya saya. "Tidak. Tidak tau kenapa. Dia tiba-tiba tidak mau ikut," jawabnya.
Saya pun memanggil teman serumah saya waktu itu, ada Kak Eci dan juga Eka. Kami bertiga memutuskan pulang ke rumah dan memanggil Intan. Setibanya kami di rumah yang tidak berjarak begitu jauh dari Pendopo, mama tengah sibuk membujuk Intan. Intan sudah mulai gelisah, sedang mama masih saja melumuri muka Intan dengan bedak. Kami bertiga pun mulai membujuk Intan. Nampaknya Intan waktu itu hanya grogi, lebih mirip gejala demam panggung dini. Meski sempat menitikkan air mata, dan seribu satu macam bujuk rayu, akhirnya Intan mau ke Pendopo. Di sepanjang perjalanan, orang-orang sudah mulai ramai, anjing-anjing pun tak jua terlelap, kami masih berempat mencoba menenagkan Intan yang tangannya sudah mulai dingin. Meski berulang kali kami tenangkan, tangannya semakin dingin, bibirnya bahkan tak berucap sepatah katapun.
Sesampainya di Pendopo, suasana riuh semakin terasa. Satu per satu peserta mulai dipanggil. Intan memilih untuk mengambil kursi di tengah-tengah. Kami bertiga tidak serta merta meninggalkannya. Rasa gugupnya serasa menular. Tangannya menggenggam erat tangan-tangan kami. Masih, dia sama sekali masih membisu. "Tenang saja, ada kakak-kakak di sini. Intan sudah latihan kan? Suaranya Intan bagus. Kakak Eci, sama kakak Eka saja kalau nyanyi tidak sebagus Intan, Intan tidak usah takut. Itu lihat, masa' Intan kalah sama mereka?," tanpa sadar kalimat itu saya ucapkan berulang kali, meski dengan susunan yang kata yang saya bolak-balik. Bagitu pun juga dengan kak Eci dan Eka. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menghandle Intan.
Beberapa menit kemudian genggaman Intan mulai mereda. Ia pun mulai menarik kedua tangannya dari tangan kami. Jari-jari tangan kanannya saling bertemu dengan jari tangan kiri, bersatu, ia menunduk, menikmati khidmat sekian detik. Intan lahir dan besar dengan Agama Kristiani memang. Ya, mayoritas penduduk Miangas memang beragama kristiani.
Saya hanya terdiam menanti Intan selesai. Kelopak matanya yang tertutup, tangannya yang mengepal, seakan mengirim pesan bahwa Tuhan selalu punya cara menguatkanmu. Kita hanya perlu yakin bahwa ia selalu ada, terlebih di saat kita takut.
Intan membuka mata, "kak, saya siap," ungkapnya. Kami bertiga pun tersenyum. Syukurnya, malam itu tidak berakhir dengan pulang ke rumah tanpa mendengarkan Intan bernyanyi. Malam semakin larut, juara lomba bernyanyi tingkat SD pun diumumkan. Intan memang tidak mendapat juara. Hanya saja, setelah latihan selama berhari-hari malam ini adalah yang terbaik dari hari-hari sebelumnya. Selamat, dik.
Di Pendopo, saya bertemu dengan salah satu teman KKN saya yang mendampingi Intan selama proses latihan. Dia bilang kalau Intan tidak jadi ikut. "Loh, bukannya dia sudah latihan?" tanya saya. "Tidak. Tidak tau kenapa. Dia tiba-tiba tidak mau ikut," jawabnya.
Saya pun memanggil teman serumah saya waktu itu, ada Kak Eci dan juga Eka. Kami bertiga memutuskan pulang ke rumah dan memanggil Intan. Setibanya kami di rumah yang tidak berjarak begitu jauh dari Pendopo, mama tengah sibuk membujuk Intan. Intan sudah mulai gelisah, sedang mama masih saja melumuri muka Intan dengan bedak. Kami bertiga pun mulai membujuk Intan. Nampaknya Intan waktu itu hanya grogi, lebih mirip gejala demam panggung dini. Meski sempat menitikkan air mata, dan seribu satu macam bujuk rayu, akhirnya Intan mau ke Pendopo. Di sepanjang perjalanan, orang-orang sudah mulai ramai, anjing-anjing pun tak jua terlelap, kami masih berempat mencoba menenagkan Intan yang tangannya sudah mulai dingin. Meski berulang kali kami tenangkan, tangannya semakin dingin, bibirnya bahkan tak berucap sepatah katapun.
| Yang ini namanya Juliandri, dia peserta baca puisi. Tidak ada larangan, Kakak pendampingnyapun turut membantu. |
Beberapa menit kemudian genggaman Intan mulai mereda. Ia pun mulai menarik kedua tangannya dari tangan kami. Jari-jari tangan kanannya saling bertemu dengan jari tangan kiri, bersatu, ia menunduk, menikmati khidmat sekian detik. Intan lahir dan besar dengan Agama Kristiani memang. Ya, mayoritas penduduk Miangas memang beragama kristiani.
Saya hanya terdiam menanti Intan selesai. Kelopak matanya yang tertutup, tangannya yang mengepal, seakan mengirim pesan bahwa Tuhan selalu punya cara menguatkanmu. Kita hanya perlu yakin bahwa ia selalu ada, terlebih di saat kita takut.
Intan membuka mata, "kak, saya siap," ungkapnya. Kami bertiga pun tersenyum. Syukurnya, malam itu tidak berakhir dengan pulang ke rumah tanpa mendengarkan Intan bernyanyi. Malam semakin larut, juara lomba bernyanyi tingkat SD pun diumumkan. Intan memang tidak mendapat juara. Hanya saja, setelah latihan selama berhari-hari malam ini adalah yang terbaik dari hari-hari sebelumnya. Selamat, dik.
0 comments