Cermin Maneka

  • 5/29/2012 07:17:00 AM
  • By adriyani.ayu
  • 0 Comments

Pagi ini Maneka kembali bangun dan kembali melirik, hidup sudah tidak membosankan lagi bagi Maneka karena setiap hari betul-betul dialaminya peristiwa baru. ketika ia melirik, dilihatnya semburat cahaya senja yang kemerah-merahan karena cahaya senja dari matahari yang sedang turun perlahan-lahan di balik cakrawala di seberang sana. Angin meniupkan bau laut. Cuping hidung Maneka bergerak. Ia melompat bangun dan menengok cermin itu dan tertatap olehnya sebuah pemandangan yang penuh pesona. Tiada yang bisa lebih memesona selain senja yang merah keemas-emasan di sebuah pantai yang membuat langit semburat jingga seperti seolah-olah terbakar sehingga air laut yang memantulkannya bagai genangan cat air yang kejingga-jinggaan dan keemas-emasan dan berkilau-kilauan. 

Sumber: Di sini

Maneka beranjak dan melompat tanpa berpikir lagi. Baginya pemandangan senja adalah segala-galanya dalam hidupnya, karena adalah senja yang memberi keyakinan padanya betapa hidup memang tidak akan pernah sama. Senja selalu menyadarkan Maneka, betapa perubahan adalah keberlangsungan setiap detik dan meski betapa indah dan betapa penuh pesona senja itu, namun akan selalu berakhir. Itulah sebabnya ia selalu memburu senja, seperti memburu cinta, betapa tiada akan pernah abadinya cinta itu.

Potongan cerpen "Cermin Maneka" oleh Seno Gumira Ajidarma, Paragraf 17-18. (Linguae)

You Might Also Like

0 comments