Ini laporan perjalanan yang ibarat kerupuk, ini sudah melempem. Tapi tak apa lah. Terlambat? Semoga saja tidak. Toh, ini hanya permasalahan waktu.
1, 2, 3, 4 Bus terparkir dengan gagah tepat di depan pagar besi yang mengelilingi Museum Geologi. Museum Geologi ini, tepatnya terletak di Jl. Diponegoro, No. 57, Bandung. Disepanjang jalan, pedagang kaki lima pun berjejer. Seakan tak mau kalah dengan bus yang sedari tadi berjejer rapi, menantang.
Segerombolan anak sekolah dengan perpaduan warna orange dan putih pada seragam yang mereka gunakan terlihat menyebar di depan Museum. Seorang pria dengan tubuh tegap, dengan seragam yang sama memberi aba-aba untuk berkumpul sejenak. Pulpen dan kertas tengah berada di tangan mereka. Seakan menegaskan bahwa mereka telah siap, melihat bukti bagaimana waktu terus berjalan.
Suasana museum menjadi sangat ramai. Ramai dengan kerumunan orang, ramai dengan suara-suara yang datang dari segala penjuru. Petugas pun nampak kewalahan menghadapi rombongan study tour dengan usia yang berbeda-beda.
Museum Geologi, dibuka setiap hari senin hingga hari sabtu. Tidak ada bayaran yang dipungut untuk masuk ke Museum ini. Museum ini terdiri atas 2 lantai dengan berbagai fungsinya masing-masing.
Pada kunjungan kali ini, lantai dua mengalami renovasi sehingga pengunjung tidak bisa dengan leluasa untuk melihat isi ruangan yang yang terletak di lantai dua. Lantai 1, terdiri atas sayap kiri dan sayap kanan. Dilansir dari salah satu situs bahwa Museum Geologi Bandung terdiri dari 2 lantai, dimana lantai 1 terdiri dari 3 ruang utama dan lantai 2 juga terdiri dari 3 ruang utama dimana di salah satu ruangnya di bagi lagi menjadi 7 ruangan kecil.
Sekelompok anak SD duduk berkumpul di sepanjang koridor. Jadilah saya terperangkap. Keputusan untuk diam dan duduk manis di dalam sebuah ruangan yang dibagian atas pintu masuknya bertuliskan “SEJARAH KEHIDUPAN, HISTORY OF LIFE” menjadi keputusan yang paling tepat sembari menunggu ada sedikit celah yang memungkinkan saya untuk keluar dari ruangan ini.
Seorang perempuan bertubuh tinggi, dengan jilbab dan pakaian sopan yang membalutnya berdiri di depan sekumpulan anak yang sedari tadi tengah duduk manis di koridor dengan peralatan menulis yang lengkap. “ya, adik-adik….Museum Geologi pada awalnya merupakan laboratorium penelitian geologi. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan waktu yang terus bergerak koleksi laboratorium semakin banyak. Maka tempat yang tadinya menjadi laboratorium penelitian pun diubah menjadi museum. Museum ini didirikan pada tahun 1928 oleh pemerintah Hindia Belanda”, kata perempuan itu menjelaskan dengan sangat pelan. Anak-anak yang berada di depannya pun mencatat apa yang mereka dengarkan.
Museum ini memang didirikan pada tahun 1928, namun baru diresmikan pada tanggal 16 Mei 1929, bersamaan dengan Kongres Asia-Pasifik yang ke-4. Sebenarnya, apa yang disaksikan saat ini bukanlah bangunan asli sejak pertama kali didirikan, melainkan telah mengalami renovasi sebelumnya. Renovasi dilakukan pada tahun 1998-2000 dengan menggunakan bantuan dana dari pemerintah Jepang. Lalu kemudian diresmikan kembali pada tanggal 22 Agustus 2000 oleh Ibu Megawati Soekarno Putri.
Masing-masing ruangan punya fungsi tersendiri dalam memamerkan sejarah-sejarah kehidupan, bagaimana alam terus bergerak, dll.Jam di tangan, melenggang sempurna melewati angka 2. Di luar Museum, matahari tak begitu angkuh bersinar. Awan hitam bergerak, merangkak perlahan menyelimuti kota Bandung. Ungkapan bahwa, mendung tak selamanya berarti akan hujan menjadi harapan besar saya saat itu.
Memutuskan keluar dari Museum, membuat “kepusingan” melanda. Berjalan sendiri, dan memutuskan sendiri harus kemana adalah pekerjaan yang berada di garis pertengahan antara menyenangkan dan tidak menyenangkan. Terlebih dalam hal dokumentasi. Bus-bus yang dijumpai di awal ternyata masih saja berbaris rapi akrab bersama pedagang kaki lima yang padat berbaris di sepanjang Trotoar.
***Museum Pos Indonesia***
Museum Pos Indonesia terletak di jalan Cilaki, No. 73, Bandung. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Museum Geologi dan juga Gedung Sate. Museum ini hadir sejak zaman Hindia Belanda, tepatnya pada tahun 1933 dengan nama Museum PTT (Pos Telegrap dan Telepon) dan menempati bagian sayap kanan bawah gedung kantor PTT . Bangunan museum ini dibangun pada tanggal 27 Juli 1920 dengan luas bangunan 706 m2 dan dirancang oleh arsitek Ir. J. Berger dan Leutdsgebouwdienst dengan gaya arsitektur Italia masa Renaissance sebagai sebuah tempat yang mengoleksi perangko-perangko dari berbagai negara.
Sebelum mencapai pintu masuk museum, terdapat sebuah patung berukuran setengah badan, yaitu patung Bapak PTT. RI Almarhum Mas Soeharto yang dibuat pada tahun 1983 oleh seniman kondang Ad. Pirous. Museum ini, buka dari hari Senin-Jum’at, pukul 09.00-16.00 WIB.
Museum yang terbuka untuk umum ini, semula hanya menyajikan benda koleksi sebatas prangko-prangko, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Menyadari arti pentingnya Museum sebagai sarana pendidikan, informasi, dan rekreasi untuk generasi muda pada masa sekarang maupun yang akan datang, maka dilakukan upaya renovasi museum. Renovasi ini bertujuan untuk memelihara serta melestarikan kekayaan warisan budaya dalam pelayanan pos. Bertepatan dengan Hari Bhakti Postel, tanggal 27 September 1983 hasil renovasi tersebut diresmikan oleh menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi dengan nama Museum Pos dan Giro.
Museum Pos Indonesia mempunyai benda koleksi berupa prangko-prangko dan benda filateli lainnya, peralatan yang dipergunakan layanan Pos semenjak jaman Hindia-Belanda, dan benda yang bernilai sejarah.
Hampir pukul 16.00. Museum sudah sangat sepi. Di basement sendiri hanya ada saya. Takut? Iya. Pikiran melayang kemana-mana. Yang paling mengganggu adalah, saya takut kalau-kalau penjaga museum tidak tahu kalau ada orang di bawah dan dengan sekonyong-konyong menutup pintu dan mematikan lampu. Arggghhhh…..tidak! Jantung berdegup dengan sangat cepat. Sepertinya, saya telah berjalan dengan kecepatan pelari balap karung (-_-“), semuanya karena yang satu ini..
Menghabiskan waktu dua hari di Bandung bukan waktu yang cukup lama untuk berkenalan dengan kota kembang yang satu ini. Someday lah, kita akan lanjutkan lagi.....aaamiiin. Museum menjadi tempat sederhana untuk mempelajari hal-hal yang tidak terpikir sebelumnya, atau mungkin sekedar mengasah kembali ingatan kita tentang banyak hal yang sempat terlupa. That's why, I chose it. Ada banyak Museum di kota ini, tapi untuk perjalanan yang satu ini, hanya ini yang bisa saya ceritakan.
Oh iya, wisata kuliner sempat menjadi salah satu pilihan. Mulai dari Odading di pagi hari (makanan yang selalu saya makan, tapi tidak tahu namanya apa. Ini teguran besar buat orang yang tahunya cuma makan saja..hehehhe), Es Putri Bandung, Soerabbi, Lumpiak basah, dll.
And the last but not least, thank you so much for Deny Sundary Syahrir si Mahasiswa rantau.
.jpg)
1 comments
wah museum geologi, bulan lalu saya mengantar anak2 ke sana...dan sempat mampir ke sebrang museum itu untuk menikmati lezatnya youghurt cisangkuy :)
BalasHapus