Penyala Makassar: Dan Bahagia Itu, Kembali Sederhana

  • 2/27/2013 07:15:00 AM
  • By adriyani.ayu
  • 1 Comments


Nyala dalam kamus bahasa Indonesia merupakan cahaya yang keluar dari api. Namun ketika ditambahkan imbuhan “Me-” menjadi “menyala” maka akan berarti tampak bersinar. Sedangkan ketika ditambahkan imbuhan “Pe-”, maka akan berarti subjek yang membuat sesuatu menjadi bersinar.

Sumber: Here

Saya sedang bermain. Layaknya seperti seorang anak kecil yang diarahkan untuk belajar sambil bermain oleh orang tuanya. Meskipun butuh pemanasan di awal, namun pada akhirnya menjadi kesenangan. Saya sedang bermain.

Ya, saya sedang bermain. Bermain kata lebih tepatnya. Namun saya tidak akan banyak bermain kata pada ranah definisi. Saya hanya ingin banyak bermain kata, bermain sastra sambil bercerita tentang satu komunitas yang baru saja saya kenal―Penyala Makassar.

Perkenalan dengannya pun tanpa disengaja namun tentunya bukan suatu kebetulan. Melalui Kelas Inspirasi Makassar, kami berkenalan. Kelas Inspirasi merupakan Kelas yang dibangun atas dasar kepedulian akan kondisi dunia pendidikan di Indonesia saat ini.

Sumber: Here
Kelas Inspirasi merupakan nyala api yang diharapkan mampu membumi hanguskan anggapan bahwa mimpi dan masa depan yang cerah hanya milik segelintir orang. Dari kelas ini pun, diharapkan tumbuh satu alasan lagi untuk tetap terus bersekolah.

"Bagi Anda hanya satu hari cuti bekerja, namun bagi murid-murid itu bisa menjadi hari yang menginspirasi mereka seumur hidup. Berbagi cerita, pengetahuan, dan pengalaman untuk menjadi cita-cita dan mimpi mereka."

Kalimat di atas adalah kalimat yang saya kutip dari proposal yang saya baca mengenai Kelas Inspirasi. Hidup itu tentang banyak hal. Salah satunya adalah pengorbanan. Untuk menjadi sejarah dan bahkan mimpi untuk seorang anak kecil, siapa pun harus mengorbankan sehari dalam hidupnya untuk memalingkan diri sejenak dari aktifitas rutin selama ini, dan masuk ke ruang-ruang kelas. Berbagi pengalaman, cinta dan kasih dengan ikhlas tanpa mengaharap sesuatu yang lain sebagai balasan. Ah, bukankah nikmatnya hidup itu selalu sederhana? adalah ketika berbagi tidak lagi menjadi hal yang sulit untuk dilakukan. Bukankah, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya?

Bicara tentang Penyala Makassar, tentunya saya masih akan tetap berbicara tentang Kelas Inspirasi. Kenapa? Ya, ibarat rumah maka ruang pertama yang saya lihat adalah Kelas Inspirasi. 24 Februari 2013 adalah hari pertama saya bergabung. Bertepatan pada sosialisasi Kelas Inspirasi Makassar di Pantai Losari, Makassar. Kesan pertama yang manis.

Saya masih ingin bermain. Bermain kata. Layaknya anak kecil, yang selalu punya semangat untuk terus bermain, bahkan makan pun tidak lagi jadi kebutuhan. Bermain kata, bermain sastra itu selalu menyenangkan. Dan tentu, saya mengatakannya bukan karena Pramoedya Ananta Toer yang telah lebih dulu berucap, “Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.”  Namun karena sastra itu sendiri.

Sumber: Here
Sebuah lilin tidak akan berfungsi sebagai penerang  jika dinyalakan di bawah terkaman sinar lampu. Ia akan jauh lebih berarti, saat sekelilingnya sedang gelap gulita. Seperti itulah Penyala Makassar. Menjadi satu dari tidak banyak lilin yang tetap bersinar di tengah cahaya pendidikan yang tak―lagi—terang untuk setiap orang. Di tengah redupnya cahaya dunia pendidikan Indonesia, Penyala Makassar kembali membuka mata bahwa kita masih punya banyak lilin yang siap memberi sinarnya dengan suka rela.

Saya masih ingin bermain. Sekarang saya sedang bermain Lilin. Tanpa harus takut terbakar saat ia mengenai kain atau apa pun itu yang mudah terbakar. Karena saya yakin, dia bersinar di tempat yang benar. Dan bahagia itu, kembali sederhana.

Sumber: Here

You Might Also Like

1 comments

  1. Selamat bermain lilin, menyalakan dan menyebarkannya melalui tulisan. :)

    BalasHapus