Segelas Teh dan Pelajaran Hidup

  • 2/24/2013 02:29:00 AM
  • By adriyani.ayu
  • 0 Comments

Sumber: Here


Belum lama ini, saya terlibat dalam satu kegiatan Penelitian di daerah Kolaka. Actually, that was my first time to be part of something like that. Bukan penelitiannya, tapi prosesnya.

Kolaka sendiri adalah satu kota di ujung Sulawesi Tenggara yang menjadi tempat bersandar kapal-kapal yang memecah ombak sekian jam dari daerah-daerah tertentu dengan tujuan beberapa daerah di Sulawesi Tenggara. Seperti kami misalnya (Ya, kami. 10 orang laki-laki dan 5 orang perempuan), yang memulai perjalanan dari Pelabuhan Bajoe di Bone. Perjalanan ini ditempuh dengan jarak yang mumpuni untuk para penumpang melepas lelah dengan dinina bobokkan ombak. Apalagi setelah melalui jalanan yang “menggila”. Untung saja, keadaan jalanan berbanding lurus dengan pemandangan di sisi kanan kirinya. What a beautiful scenery!!

Fery yang kami tumpangi berlabuh meninggalkan Pelabuhan Bajoe pukul 21.00 WITA dan bersandar di pelabuhan penyeberangan Kolaka pada pukul 05.30 WITA. Menghirup udara pagi di daerah Kolaka pagi itu menjadi angin segar setelah berjuang melawan mabuk laut.

Setelah beristirahat selama sehari, saya pun melakukan hal-hal yang semestinya harus saya lakukan dan sesegera mungkin dituntaskan di daerah ini. Puluhan Kuisioner sudah di tangan. Selanjutnya, tinggal mencari dan menentukan puluhan rumah yang jadi sasaran.

Day by day I’ve passed. I have many things to learn. Kolaka memang bukan tempat pertama yang saya datangi dimana saya sama sekali tidak punya kenalan di tempat itu, tapi Kolaka menjadi tempat pertama saya merasakan betul tidak enaknya ditolak#eh.

Suatu sore di Kolaka, saya mendatangi responden pengganti setelah responden saya sebelumnya menolak untuk diwawancarai dengan alasan kesehatan yang tidak memungkinkan. Namun sayang, sebelum saya sempat menjelaskan maksud dan tujuan saya datang ke rumahnya saya sudah ditolak duluan.. Mungkin dikiranya, saya ini peminta sumbangan. Walhasil, saya harus mengganti responden untuk kesekian kalinya.

Namun, cerita hari itu tidak berhenti disitu. Tuhan menciptakan yang buruk dan yang baik itu secara beriringan. Masyarakat Kolaka tidak sedikit yang merupakan pendatang. Walhasil yang tentunya bukan kebetulan, saya bertemu dengan keluarga yang berasal dari satu kampung yang sama dengan saya. Sifatnya bertolak belakang dengan responden sebelumnya, bahkan sebelum saya memperkenalkan diri.

Di hari yang lain, saat Matahari menjadi lima di langit Kolaka, seorang ibu pedagang sayur yang tinggal di salah satu kosan di Kolaka memberi jamuan yang tidak terpikirkan sebelumnya. Sedangkan di rumah yang lain, yang beralaskan tegel, dengan luas rumah menyaingi lapangan sepak bola hanya bisa tersenyum melihat, ahhh syukur juga kalau senyum kalau Cuma menatap dingin saja??

Banyak hal yang bisa saya pelajari dari perjalanan ini. Bahwa, di tempat yang baru kamu kunjungi, tidak ada yang mengenalmu. Jadi, terserah mereka mau memperlakukanmu seperti apa. 

Dan yang terpenting adalah “Berbagi” bukan hanya milik mereka yang punya limpahan materi, melainkan juga milik mereka yang hidup dengan kecintaan yang teramat sangat untuk keluarganya dan membanting tulang untuk mereka hanya untuk memastikan mereka bisa makan dan tetap hidup hari ini. Walau hanya melalui segelas teh. Tapi saya, belajar banyak darinya.

Dan saya percaya bahwa Tuhan tidak melihat apa yang kau berikan dari ukurannya, tapi lebih kepada keikhlasan. Saya yakin, Tuhan tidak tidur. Dia melihatmu, melihat kita....

You Might Also Like

0 comments