![]() |
| Sumber: Here |
Belum lama ini, saya terlibat
dalam satu kegiatan Penelitian di daerah Kolaka. Actually, that was my first
time to be part of something like that. Bukan penelitiannya, tapi prosesnya.
Kolaka sendiri adalah satu kota
di ujung Sulawesi Tenggara yang menjadi tempat bersandar kapal-kapal yang
memecah ombak sekian jam dari daerah-daerah tertentu dengan tujuan beberapa daerah di Sulawesi Tenggara. Seperti kami
misalnya (Ya, kami. 10 orang laki-laki dan 5 orang perempuan), yang memulai perjalanan dari Pelabuhan Bajoe di Bone. Perjalanan ini
ditempuh dengan jarak yang mumpuni untuk para penumpang melepas lelah dengan
dinina bobokkan ombak. Apalagi setelah melalui jalanan yang “menggila”. Untung
saja, keadaan jalanan berbanding lurus dengan pemandangan di sisi kanan
kirinya. What a beautiful scenery!!
Setelah beristirahat selama sehari,
saya pun melakukan hal-hal yang semestinya harus saya lakukan dan sesegera
mungkin dituntaskan di daerah ini. Puluhan Kuisioner sudah di tangan.
Selanjutnya, tinggal mencari dan menentukan puluhan rumah yang jadi sasaran.
Day by day I’ve passed. I have
many things to learn. Kolaka memang bukan tempat pertama yang saya datangi
dimana saya sama sekali tidak punya kenalan di tempat itu, tapi Kolaka menjadi
tempat pertama saya merasakan betul tidak enaknya ditolak#eh.
Suatu sore di Kolaka, saya
mendatangi responden pengganti setelah responden saya sebelumnya menolak untuk
diwawancarai dengan alasan kesehatan yang tidak memungkinkan. Namun sayang,
sebelum saya sempat menjelaskan maksud dan tujuan saya datang ke rumahnya saya
sudah ditolak duluan.. Mungkin dikiranya, saya ini peminta sumbangan. Walhasil, saya harus mengganti responden untuk kesekian kalinya.
Namun, cerita hari itu tidak
berhenti disitu. Tuhan menciptakan yang buruk dan yang baik itu secara
beriringan. Masyarakat Kolaka tidak sedikit yang merupakan pendatang. Walhasil
yang tentunya bukan kebetulan, saya bertemu dengan keluarga yang berasal dari
satu kampung yang sama dengan saya. Sifatnya bertolak belakang dengan responden
sebelumnya, bahkan sebelum saya memperkenalkan diri.
Di hari yang lain, saat
Matahari menjadi lima di langit Kolaka, seorang ibu pedagang sayur yang tinggal
di salah satu kosan di Kolaka memberi jamuan yang tidak terpikirkan sebelumnya.
Sedangkan di rumah yang lain, yang beralaskan tegel, dengan luas rumah
menyaingi lapangan sepak bola hanya bisa tersenyum melihat, ahhh syukur juga
kalau senyum kalau Cuma menatap dingin saja??
Banyak hal
yang bisa saya pelajari dari perjalanan ini. Bahwa, di tempat yang baru kamu
kunjungi, tidak ada yang mengenalmu. Jadi, terserah mereka mau memperlakukanmu
seperti apa.
Dan yang terpenting adalah
“Berbagi” bukan hanya milik mereka yang punya limpahan materi, melainkan juga
milik mereka yang hidup dengan kecintaan yang teramat sangat untuk keluarganya
dan membanting tulang untuk mereka hanya untuk memastikan mereka bisa makan dan
tetap hidup hari ini. Walau hanya melalui segelas teh. Tapi saya, belajar banyak darinya.
Dan saya percaya bahwa Tuhan tidak melihat apa yang kau berikan dari ukurannya, tapi lebih kepada keikhlasan. Saya yakin, Tuhan tidak tidur. Dia melihatmu, melihat kita....

0 comments