Di salah satu Asharmu, aku datang. Tidak ada yang berubah dari hari ke hari di tempat ini. Semua masih sama. Qur'an, mukenah yang bergantung nyaris rapi, sajadah yang tergelatak menunggu sujud, dan tak pernah ketinggalan majelis-majelis ilmu tempat cinta sang maha, terberi.
Dari salah satu sudut tempatku menepi, dalam sunyi kudengar sesenggukan dari seseorang di sudut lain. Tak begitu kulihat jelas wajahnya, hanya punggungnya yang menyapaku. Kulihat, dua, tiga orang lainnya menyeka rintik yang tumpah dari dua mata indahnya. Semilir angin yang masuk lewat celah-celah atap mengantarkan sedikit pesan dari mereka untuk sampai di telingaku. Tak benar-benar teralamatkan untukku nampaknya, namun tak apa, aku selalu bersedia menjadi pendengar.
Mereka, menyebut namaMU. Sang Maha indah dari seluruh keindahan yang mewujud. Dari jauh, samar-samar kulihat rintik itu semakin deras. Ah, tidak ada yang paling indah memang selain menikmati rintik yang jatuh karena mengingatMU.
Engkau penenang. Melebihi dari segala ketenangan yang dicari sebagian orang dari butir-butir kapsul ataupun bubuk itu. Engkau penyejuk, melebihi kesejukan yang ditawarkan bau tanah bekas hujan ashar ini. Tentu saja, karena engkau maha dari segala maha.
| Sumber |
Lelah ini menguap seketika. Saat pertanyaan-pertanyaan memuakkan itu menghujami bak peluru tentara perang. Saat banyak orang yang mulai menarik langkah, dan aku masih memaku di tempat ini. Seperti sedang menghakimi diri sendiri. Ah, biasalah ini. Toh, tak ada yang peduli. Mereka sedang sibuk di panggungnya, memainkan lakon masing-masing. Menjadi cahaya di tengah cahaya yang benderang, percuma. Semuanya menguap, bersama dialog sunyi mereka.
Cahaya di ufuk barat mulai menguning, sandikala itu semakin indah. Seindah wajahmu yang mulai menjauh. Senja. Selalu menyadarkan kita untuk tidak larut pada keindahan. Bahwa, keindahan punya masa yang tak bisa diredam. Bahwa, gelap dan terang punya sunyinya masing-masing.
Di sudut sana, mereka masih alot. Aku memaku. Ini jauh lebih baik, mungkin. Benar katanya, tak ada ruang hampa yang jadi jarak diantara kita. Ada banyak partikel tak kasat mata yang membunuh jarak. Termasuk juga kita. Ya, kita. Aku dan kau disana.
0 comments