Resep Rahasia Krabby Patty, Guru Juga Harus Punya
- 5/18/2014 09:31:00 PM
- By adriyani.ayu
- 1 Comments
| Sumber |
Seperti biasa, saya tidak begitu hafal nama jalan. Sekalipun sudah menumpang hidup hampir empat tahun di kota yang semakin sesak ini. Lain ceritanya, kalau ditanya nama jalan, tempat Mall bertengger. Ifa, seorang teman di Penyala Makassar pun memberi petunjuk lokasi dimana sekolah menulis ini berlangsung.
Jarum jam melenggang sempurna melewati angka 10. Untung saja tidak butuh waktu lama untuk bertemu SD Cilallang. Bersama dengan empat orang kawan yang tiga diantaranya baru saya temui di sana. Mohon maaf, selain susah menghafal nama jalan, saya pun susah menghafal nama orang, terlebih jikalau baru sekali bertemu.
Hari sabtu, harinya (coklat) Pramuka. Semacam coklat berjalan, anak-anak ini lincah berlarian kesana kemari dengan seragam Pramuka. Wiwik (semoga saya tidak salah menyebut nama), perempuan berbaju merah muda yang saya temui di Parkiran dan tidak sadar saya buntuti dari belakang. Entahlah, tiba-tiba saja terlintas, kalau dia petunjuk yang tepat untuk bertemu dengan SD Cilallang. Dan Ya, dia berbelok di salah satu gedung yang didepannya berkerumun anak-anak SD.
Wiwik memberi aba-aba untuk mencuri perhatian adik-adik. Semacam salam, yang akan direspon oleh adik-adik. Sembari mengamati, terkadang berhasil, namun terkadang tidak cukup menghentikan perbincangan hangat mereka satu sama lain. Adik-adik diminta menulis tentang cita-cita, tentang ingin jadi apa atau seperti siapa mereka jika sudah besar nanti.
Saya hanya melempar senyum, sembari mendekati beberapa dari mereka. Ada yang mau jadi Polisi, Guru Matematika, Dokter, Tentara, dll. Tidak ada yang salah, dan tidak akan pernah ada yang salah. Tuhan memeluk mimpi kita, kan?
Saya hanya melempar senyum, sembari mendekati beberapa dari mereka. Ada yang mau jadi Polisi, Guru Matematika, Dokter, Tentara, dll. Tidak ada yang salah, dan tidak akan pernah ada yang salah. Tuhan memeluk mimpi kita, kan?
Berhadapan dengan anak kecil itu tidak selamanya mudah ternyata. Artinya, tidak selamanya sulit juga. Sejak tahun lalu, saya jadi terbiasa dengan riuh renyah canda tawa anak kecil, begitupun juga manis manja mereka. Hanya saja, sering bertemu dengan mereka tidak menjadi jaminan kita bisa tahu bagaimana mengatasi mereka yang lagi sedang ingin bermain dan bukan mendengarkan kakak-kakak berceloteh di depan. Cukuplah beberapa guru-guru yang terkadang bisa dengan leluasa mengarahkan mistar panjang ke arah mereka, meski hanya untuk menakut-nakuti, bukan?
Waktu semakin siang. Adik-adiknya mungkin sudah mulai lapar. Tidak ada yang bisa memungkiri. Satu per satu mulai teriak-teriak. "Kak, pulang meki' e. Cepatmeki'." Mungkin memang sulit untuk bisa menguasai kelas secara keseluruhan. Beberapa relawan membagi diri.
Kelas berakhir, gaduh semakin menjadi dari siswa-siswa laki-laki. Satu, dua orang merobek kertas tempat mereka menulis cita-cita tadi dan membuangnya di tempat sampah. Saya tidak tahu harus berkomentar apa, saya memutuskan untuk memunguti kembali kertas-kertas itu. Mungkin bisa sobekan-sobekan itu digabung dan dijadikan karya lain yang mereka bisa lihat. Diluar dugaan saya, dua, tiga orang diantara mereka turut membantu saya. Benar mungkin, anak-anak harusnya belajar dari tindakan. Seorang anak mendekati saya, dan bilang "Kak, kak, ini saya e ndak saya robekji kertasku", saya hanya mengangguk sembari melempar senyum dan melihat kertas yang diberikan. Kertas yang tadinya saya lihat ditinggalkan tergeletak begitu saja di atas mejanya. Paling tidak, itu membuat dia mengambil lagi kertasnya.
Satu per satu mereka menjabat tangan para kakak-kakak, dan berpamitan pulang. Seorang anak perempuan, berparas manis, berambut panjang, mendekati saya. Sosoknya mengingatkan saya dengan salah satu adik di Sekolah Media Literasi, dengan gaya centil khas anak kecil, ia melayangkan jari telunjuknya ke saya sembari berucap "Ah, gara-gara kitami itu kak, saya ingatmi nenekku". Saya memutar otak, mencerna apa maksudnya. Oh, mungkin surat yang saya bacakan tadi, mengingatkan dia dengan neneknya yang telah berpulang lebih dulu, seperti kakak Diva.
Seperti biasa, bukan hanya mereka yang harusnya belajar. Tapi kakak-kakaknya juga, belajar lebih sabar. Tidak sembarang orang memang yang bisa jadi guru, seperti Krabby Patty yang juga punya resep rahasia tersendiri. Ya, seperti itu mungkin seorang guru hingga bisa membuat kelas menjadi lebih hidup, harus punya resep racikan sendiri. Terhantur apresiasi tinggi saya untuk para guru (terutama TK dan SD) di dunia.
Waktu semakin siang. Adik-adiknya mungkin sudah mulai lapar. Tidak ada yang bisa memungkiri. Satu per satu mulai teriak-teriak. "Kak, pulang meki' e. Cepatmeki'." Mungkin memang sulit untuk bisa menguasai kelas secara keseluruhan. Beberapa relawan membagi diri.
Saya memilih bergabung dengan adik-adik perempuan saja. Salah satu surat saya pilih untuk saya bacakan. Meskipun dengan sedikit pertimbangan. Karena agak-agak emosional. Tapi karena itulah kemudian, dia terpilih jadi salah satu yang terbaik dari yang semua yang paling baik. Tulisan itu dibuat oleh Diva. Seorang gadis yang duduk di bangku baris kedua. Anak perempuan yang beberapa laki-laki disudut lain sebelumnya membisik ke saya "kak..kak..artis kakaknya itu". Ya, suratnya pun saya bacakan. Dan walhasil, Diva menangis. Serupa menular, satu, dua, tiga yang lainpun menunduk, matanya berkaca-kaca. Saya meminta maaf kepada Diva, tapi ini yang terbaik untuk menarik perhatian mereka hari itu, menyintil sedikit sisi emosional.
Kelas berakhir, gaduh semakin menjadi dari siswa-siswa laki-laki. Satu, dua orang merobek kertas tempat mereka menulis cita-cita tadi dan membuangnya di tempat sampah. Saya tidak tahu harus berkomentar apa, saya memutuskan untuk memunguti kembali kertas-kertas itu. Mungkin bisa sobekan-sobekan itu digabung dan dijadikan karya lain yang mereka bisa lihat. Diluar dugaan saya, dua, tiga orang diantara mereka turut membantu saya. Benar mungkin, anak-anak harusnya belajar dari tindakan. Seorang anak mendekati saya, dan bilang "Kak, kak, ini saya e ndak saya robekji kertasku", saya hanya mengangguk sembari melempar senyum dan melihat kertas yang diberikan. Kertas yang tadinya saya lihat ditinggalkan tergeletak begitu saja di atas mejanya. Paling tidak, itu membuat dia mengambil lagi kertasnya.
Satu per satu mereka menjabat tangan para kakak-kakak, dan berpamitan pulang. Seorang anak perempuan, berparas manis, berambut panjang, mendekati saya. Sosoknya mengingatkan saya dengan salah satu adik di Sekolah Media Literasi, dengan gaya centil khas anak kecil, ia melayangkan jari telunjuknya ke saya sembari berucap "Ah, gara-gara kitami itu kak, saya ingatmi nenekku". Saya memutar otak, mencerna apa maksudnya. Oh, mungkin surat yang saya bacakan tadi, mengingatkan dia dengan neneknya yang telah berpulang lebih dulu, seperti kakak Diva.
Seperti biasa, bukan hanya mereka yang harusnya belajar. Tapi kakak-kakaknya juga, belajar lebih sabar. Tidak sembarang orang memang yang bisa jadi guru, seperti Krabby Patty yang juga punya resep rahasia tersendiri. Ya, seperti itu mungkin seorang guru hingga bisa membuat kelas menjadi lebih hidup, harus punya resep racikan sendiri. Terhantur apresiasi tinggi saya untuk para guru (terutama TK dan SD) di dunia.

1 comments
suka deh, sayang sekali gak bisa gabung hari sabtu kemarin
BalasHapus