Tuan, apa kabarmu di seberang sana?
Masih berkilau kah tahta emasmu?
Sudikah sejenak kau tengok kami disini?
Kami, oh tidak..dia saja
Peluhnya mengalir,
Kakinya bergetar,
Matahari lagi tak malu-malu,
Awan pun enggan mendekat,
Lihat dia, Tuan,
Tak ia hiraukan sekitar,
Cinta di ujung jalan menanti,
Itu jauh lebih nikmat dibanding menatap sinis matahari siang ini,
Kau, Tuan?
Di salah satu lantai di gedung pencakar langit itu,
Kau berbalut sejuk,
Kau pecundang Tuan,
Enggan kau menemui Matahari,
Dia menantangmu,
Sedang, dia?
Lihat dia, Tuan,
Bahkan dia lebih berani,
Rentanya bukan alasan,
Ah, kau Tuan,
pecundang!
0 comments