| Sumber |
Tak banyak kata yang keluar, sore ini terlalu emosional bagi kami. Aroma-aroma kesedihan masih tercium, menyengat.
Tidak terlalu jauh dari sini, untuk pertama kalinya saya mengunjungimu. Tidak ada mata yang tenggelam saat tertawa, tidak ada canda saat berkunjung ke rumah nenek hari ini. Nisan itu jadi jawaban semuanya.
| Sumber |
Beberapa hari yang lalu, tepat 100 hari kepergianmu. Kata ayahmu, banyak teman-temanmu yang datang berkunjung. Terdengar lirih, matanya menghadap lurus kedepan, masih sisi kiri wajahnya yang kulihat. Dalam hitungan detik, tangan kananya sontak menyeka rintik di sisi kanan wajahnya.
Ah, kau keberatan pasti. Hanya saja, untuk sebuah cinta yang mendalam, ihwal perpisahan mengundang banyak air mata yang harus diseka. Bahkan dari seorang laki-laki yang selalu nampak kuat sekalipun.
Ah, sekali lagi tak banyak kata. Aroma ini berbeda. Terkirim Al-Fatihah untukmu. Maaf jika mengusik istirahatmu. Dalam dekapan cinta sang Maha, lanjutkanlah.
0 comments