Bestari Untuk Lestari

  • 6/13/2014 08:07:00 AM
  • By adriyani.ayu
  • 0 Comments


Hampir ada sekitar 4 hari atau lebih dalam seminggu, saya melihat papa (bapak, tempat saya menumpang hidup di Miangas) berpamitan dengan orang-orang rumah untuk berangkat bajubi. Bajubi adalah cara menangkap ikan dengan menggunakan panah. 

Papa selalu siap sedia, layaknya tentara perang yang akan berangkat ke medan perang. Panah, Kacamata buatan sendiri, Senter. Tidak jarang papa harus lebih jauh meninggalkan tepian. Perahu, lengkap dengan kompresor, dan peralatan-peralatan sederhana lainnya menemani dengan setia.

Di malam hari, kalau kita berjalan di tepi salah satu pantai di Miangas, tidak jarang kita akan melihat cahaya-cahaya dari dalam air. Itu bukan ikan atau apa, tapi lebih tepatnya para nelayan-nelayan tangguh yang mencari kehidupan dari dalam laut.

Dari tepi dermaga, Saya dan beberapa teman-teman tidak jarang berkumpul saat malam hari. Ada yang mengisi waktu luang sambil memancing. Ada yang sekedar tiduran sambil mengagumi milayaran bintang yang terserak tanpa ampun di langit Miangas. Ada yang bercengkrama sambil mengagumi cahaya-cahaya yang terus bergerak di bawah kami. Ya, mereka nelayan-nelayan itu. 


Miangas terletak di tepian Samudera Pasifik. Ombaknya selalu serius menampar tepian. Dari bibir dermaga, tempat kapal perintis Meliku Nusa selalu bersandar, kita masih bisa menikmati benda-benda kecil yang kita lempar ke bawah menyapa dasar. Biru lautnya selalu memukau, dan tidak jarang menakutkan.




Meski lahir dan besar di daerah yang dikelilingi oleh pantai, saya tak kunjung khatam merapal tanah sendiri. Banyak benda-benda laut yang baru saya nikmati setelah di Miangas. Ya, untuk pertama kalinya saya makan gurita dan tidak jarang jadi makanan untuk berhari-hari. Karena di Miangas, saya jadi bisa makan ikan Kaka Tua. Karena di Miangas, saya jadi bisa sering-sering makan lobster tanpa harus keluarkan uang ratusan ribu. Dan banyak lagi. Sepulang bajubi, ada saja mahluk-mahluk laut baru yang dibawa papa. Dan seperti biasa, mama selalu semangat memperkenalkan. Ini seperti memperkenalkan teman baru. Dan seperti biasa juga, kami melengkapi proses perkenalan itu dengan menyantapnya lezat di meja makan.

Selain itu, mungkin karena terletak di tepian Samudera, tak banyak sampah-sampah yang bisa bertahan menepi di Miangas. Ombak serupa mengerti. Saat pasang, volume air laut tidak jarang terlampau tinggi dan menjorok masuk hingga menampar serupa akan menelan talud. Talud-talud ini mulai dibangun oleh masyarakat setempat. Karena abrasi air laut semakin menjadi, sedikit demi sedikit bagian daratan pun mulai terkikis.

Pasir tidak terlalu putih di Miangas. Kata seorang teman yang jauh lebih mengerti, ini karena Miangas murni dikelilingi lautan. Dia sendiri, di tengah-tengah lautan lepas. Makanya struktur pasir pantainya lebih kasar dan berbutir-butir. Untuk pasir, Pantai Bira misalnya jauh lebih putih. Sayangnya, putih dan bersih menjadi pemandangan yang selalu dirindukan oleh masyarakat sekitar, terlebih saat musim liburan di Pantai ini.


Perjalanan menuju dan pulang dari Miangas, bisa dibilang adalah perjalanan yang memaksa kita untuk berdamai dengan berbagai jenis pemandangan laut. Bukan hanya tentang air dengan kadar garam yang tinggi, tentang banyaknya kapal yang lalu lalang. Tapi lebih dari itu, ada banyak mahluk hidup yang bergantung kepadanya. 

Entah di hari keberapa, saat menempuh kurang lebih delapan hari perjalanan laut dengan beberapa kali transit, air laut tidak ubahnya seperti air sungai. keruh, sangat keruh. Seperti setelahnya, tidak akan ada apa-apa lagi di atas dan di bawahnya. Seperti barang sekali pakai saja. Kapal-kapal dengan mudahnya meludah. Tidak mungkin saya membandingkannya dengan Miangas. Mereka-mereka takut gelombang besar.

Laut memang menjadi muara raksasa. Tapi sekaligus, tempat kehidupan terus dipoles agar benar-benar hidup. Sayangnya, banyak orang yang alpa menjadi bestari agar lestari tempatnya menumpang hidup.


*Foto: Dokumentasi Pribadi Teman-teman KKN Miangas Unhas Gel. 85

You Might Also Like

0 comments