| Sumber |
Rasanya? Tentu tidak enak. Suka coklat tapi tidak pernah bisa sepuas mata menikmatinya. Mungkin rasanya seperti menyukai seseorang yang sudah memiliki pasangan. Kau tentu tahu rasanya.
Benar memang, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Entah garam, vetsin, terlebih manis.
"Rasa" kita beda. Kau malah tidak suka rasa pahit. Oh iya, dulu pernah sewaktu sakit menyerang tubuh kecilku, ayah memberiku obat. Indera pengecap manisku tak berdaya mengubahnya menjadi manis. Tetap pahit. Mukaku memerah waktu itu, sewaktu kulihat belakang ayah menjauh, aku lari ke halaman belakang rumah dan mebuangnya. Waktu itu, aku berfikir bahwa rasa pahit obat yang sedikit larut saat minum air sudah cukup untuk menyembuhkan. Ya, itu cukup. Untungnya, pahit itu tidak mengikutiku hingga sekarang. Aku malah lebih pandai memilah kapan seharusnya aku berkawan pahit. (Mungkin) saat sakit sudah tak bersahabat lagi. Pahit mengajarkan bahwa hidup tidak hanya tentang manis yang dikagumi.
Waktu mengajarkan kita untuk mengeja hingga membaca. kalau lah bisa bertukar, mari bertukar. Aku tahu rasa tak pernah sebercanda itu, pun juga perasaan. Namun aku tidak sedang bercanda kali ini. Kita bisa bertukar, barang sehari saja. Agar kau tahu, bagaimana rasanya jadi diriku. Dan selanjutnya, aku akan belajar untuk tidak harus menunggu belakang ayah berlalu hanya untuk membuang pahit yang nyaris tertelan. Selanjutnya, syukur jadi tugas kita bersama.
0 comments