"Dunia bukan cuma apa yang kita lihat dari lubang sedotan", Begitu katamu.
Kita punya kebiasaan bermain-main sedotan, kala ibu membelikan minuman kemasan sepulang sekolah dulu.
Hingga tetes terakhir, sedotan jadi mainan kita.
Lucu. Dari sedotan itu, kita bisa lihat musuh yang mulai mendekat.
Dari lubang sedotan, kita juga bisa lihat ibu membawa makan siang berhias sayur yang memuakkan kerongkongan.
Kita pun lari terbirit-birit dengan telapak tangan menempel ke mulut.
| Sumber |
Aroma khas anak kecil tercium menyengat.
Setelah kupikir-pikir, ada benarnya juga.
Dunia tidak sekecil lubang sedotan mainan kita rupanya.
Sepakat, Kita seirama.
Mencintai perjalanan, mengagumi kalam-kalam suci ihwal segala indah yang menyapa bumi.
Dunia tidak sekecil lubang sedotan.
| Sumber |
"Kulihat kau acap kali mengikuti rasa bosanmu di rumah. Setelah lelah menonton tv, kau beralih ke laptop, berselancar di dunia maya seakan menemui dunia yang sebenarnya. Lagi-lagi, kita butuh keluar. Sekali-kali tak pulang. Mengumpul rindu. Agar kau tahu, tidak ada tempat yang paling nyaman memang selain rumah," lanjutmu.
Lagi-lagi kau benar, selalu menyenangkan menikmati rindu rumah hingga ke ubun-ubun.
Ah, Dunia tak sekecil lubang sedotan memang.
0 comments