Butuh Pendidik(an) yang Mendidik

  • 12/17/2014 10:00:00 PM
  • By adriyani.ayu
  • 0 Comments

“Menjadi guru, bukan saja tentang A,B,C dan 1, 2, 3. Siapa yang menyangka, sebuah tato tiga bintang akan membawaku sejauh ini?” –Ann-

Sumber
Ann (Cherman Boonyasak), seorang guru perempuan Sekolah Baan Gaeng Wittaya yang ditugaskan untuk mengajar di Sekolah Rumah Kapal yang terpisah jauh dari hingar bingar kota. Akses menuju sekolah ini hanya dengan menggunakan perahu kecil. Tidak ada listrik, tidak ada signal Hp, tidak ada air mengalir. “Kalau aku mati di sini, mungkin aku sudah reinkarnasi duluan sebelum orang menemukan mayatku,” tulis Ann dalam buku hariannya. Ya, tidak jarang hal-hal besar dalam kehidupan kita, datang dari hal-hal sederhana.

Entah kenapa, saya sering merasa tidak begitu tertarik menyaksikan karya-karya visual dari negeri Thailand. Banyak teman yang merekomendasikan berbagai judul film dari negeri ini, entah karena alur cerita yang lucu, pemerannya yang masuk definisi cakep menurut mereka, dll. Meski begitu, saya tidak pernah berhasil menyaksikan film Thailand dari awal hingga akhir, paling tidak sampai saya memutuskan menonton The Teacher’s Diary.



Sumber
Film yang disutradarai oleh Nithiwat Tharathorn ini jadi salah satu karya yang mencoba merefleksikan bagaimana seharusnya seorang guru, seorang pendidik itu. Bahwa guru yang baik adalah guru yang tidak hanya mengajarkan tentang rumusan baku atau dalil dalam buku paket, tapi bagaimana seorang siswa bisa berpengetahuan dengan keluar, dan menjadi diri mereka sendiri.

Ini sedikit sama dengan film Monalisa Smile. Film yang disetting di Universitas Wellesley ini, juga menceritakan tentang Katherine Watson (Julia Roberts) seorang guru Jurusan Sejarah Seni yang harus menghadapi murid-muridnya yang cerdas namun tidak bisa berfikir keluar dari apa yang telah ditetapkan sekolah lewat silabus-silabusnya.

Pendidikan formal hari ini, tidak jarang muncul sebagai penjara. Anak-anak dibentuk agar tumbuh menjadi penurut, yang patuh terhadap komando. Mereka yang pandai adalah mereka yang mampu mengulang kembali apa yang dibaca dari buku-buku pelajaran. Tak ada ruang untuk kreasi, tak ada ruang untuk belajar banyak hal-hal baru, tak ada ruang untuk jadi diri sendiri. Sama seperti seragam, cara berfikirpun dibentuk seragam. Tak jarang, seorang guru menghakimi siswanya yang tidak sepaham dengan apa yang dikatakannya.

Menghadapi anak-anak, berbeda dengan menghadapi orang dewasa. Ada banyak hal yang mestinya kita pahami untuk berbaur bersama mereka. Agar jatuhnya, tidak seperti orang dewasa yang mendiktekan, tapi (bisa jadi) lebih dekat seperti hubungan orang tua dan anak. 

The Teacher’s Diary pun juga memvisualkan betapa anak-anak tidak hanya bisa belajar dari apa-apa yang dikhotbahkan para orang dewasa di depannya. Melainkan juga belajar dari tindakan, dan contoh-contoh yang lebih nyata yang dekat dengan kehidupan mereka, lebih dari sekedar kata-kata.

Sumber
Selain institusi pendidikan formal, Paulo Freire, seorang tokoh pendidikan asal Brazil menawarkan pendidikan alternatif. Pendidikan alternatif dipandang sebagai sistem pendidikan yang melihat siswa dan guru adalah dua pihak yang sama-sama belajar.

Tentang pendidikan alternatif, pernah satu waktu, saya bergabung dengan beberapa teman. Ingatan saya masih jelas merekam, salah seorang dari mereka sedang berdiri di depan kelas. Ia menjelaskan tentang tugas yang mesti dikerjakan oleh adik-adik siang itu.

Sekali lagi, berbaur dengan anak-anak itu tidaklah mudah. Ia yang tadinya berdiri di depan kelas, berlari keluar, menunjuk dan meneriaki salah seorang siswa yang meninggalkan bangkunya karena menolak mengerjakan tugas yang diberikan. Dalam logat Makassar yang sangat kental, teriakannya bisa diartikan oleh siapa saja yang mendengar. Tak terkecuali saya, yang mengamati. Ah, kata-katanya masih bisa saya ingat dengan jelas hingga hari ini.

Kehidupan mengajarkan banyak hal, bukan? Cukuplah dipahami bahwa, butuh kesabaran ekstra untuk berhadapan dengan anak-anak. Pilihan kata, sikap dari orang yang mereka lihat bisa jadi adalah materi yang mereka serap. Olehnya perlu, seorang pengajar menjadi pendidik agar menjadi panutan.

Salah seorang professor yang saya kenal pernah mengatakan bahwa pendidikan di perguruan tinggi adalah pendidikan orang dewasa. Mahasiswa harus bisa memilih jalannya agar setelah keluar bisa menjadi pribadi mandiri. Namun sayang, beliau mungkin alpa mengamati bahwa mereka yang disebut pengajar tak sepenuhnya adalah pendidik dan mendidik secara dewasa. Tidak jarang, sisi emosional jadi alasan mencegat mahasiswa, merasa lebih pandai dari mahasiswa, hingga menutupi ketidak tahuan dengan tugas-tugas yang mulai tidak masuk di akal. Akhirnya, institusi pendidikan hanya jadi panggung untuk mereka mempertontonkan kuasa.

Di penghujung film The Teacher’s Diary, tokoh Song (Sukrit Wisetkaew), guru yang datang setelah Ann pergi, menggambarkan bahwa, kesuksesan dan kegagalan seorang siswa tidak lepas dari peran serta guru di dalamnya. Song pun memutuskan untuk berhenti mengajar saat seorang siswanya di Sekolah Rumah Kapal gagal menyelesaikan soal tepat waktu saat ujian semester. Ia berniat untuk kembali bersekolah agar bisa kembali mengajar suatu masa nanti dengan kualitas yang lebih.

Tokoh Song menggambarkan kedewasaan seorang pendidik. Pendidik bisa jadi adalah satu-satunya tonggak yang bisa berdiri ketika masalah negeri ini terus meluap. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkannya adalah melalui pendidikan. Berbaur dengan anak-anak. Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mempersiapkan tangan-tangan baik yang bisa merawat negeri ini di masa mendatang.

You Might Also Like

0 comments