“Menjadi guru, bukan saja tentang A,B,C dan 1, 2, 3. Siapa yang
menyangka, sebuah tato tiga bintang akan membawaku sejauh ini?” –Ann-
| Sumber |
Entah kenapa, saya sering merasa
tidak begitu tertarik menyaksikan karya-karya visual dari negeri Thailand.
Banyak teman yang merekomendasikan berbagai judul film dari negeri ini, entah
karena alur cerita yang lucu, pemerannya yang masuk definisi cakep menurut
mereka, dll. Meski begitu, saya tidak pernah berhasil menyaksikan film Thailand
dari awal hingga akhir, paling tidak sampai saya memutuskan menonton The
Teacher’s Diary.
Film yang disutradarai oleh
Nithiwat Tharathorn ini jadi salah satu karya yang mencoba merefleksikan
bagaimana seharusnya seorang guru, seorang pendidik itu. Bahwa guru yang baik
adalah guru yang tidak hanya mengajarkan tentang rumusan baku atau dalil dalam
buku paket, tapi bagaimana seorang siswa bisa berpengetahuan dengan keluar, dan
menjadi diri mereka sendiri.
| Sumber |
Ini sedikit sama dengan film
Monalisa Smile. Film yang disetting di Universitas Wellesley ini, juga
menceritakan tentang Katherine Watson (Julia Roberts) seorang guru Jurusan
Sejarah Seni yang harus menghadapi murid-muridnya yang cerdas namun tidak bisa
berfikir keluar dari apa yang telah ditetapkan sekolah lewat
silabus-silabusnya.
Pendidikan formal hari ini, tidak jarang muncul sebagai penjara.
Anak-anak dibentuk agar tumbuh menjadi penurut, yang patuh terhadap komando.
Mereka yang pandai adalah mereka yang mampu mengulang kembali apa yang dibaca
dari buku-buku pelajaran. Tak ada ruang untuk kreasi, tak ada ruang untuk
belajar banyak hal-hal baru, tak ada ruang untuk jadi diri sendiri. Sama
seperti seragam, cara berfikirpun dibentuk seragam. Tak jarang, seorang guru menghakimi siswanya yang tidak sepaham
dengan apa yang dikatakannya.
Menghadapi anak-anak, berbeda
dengan menghadapi orang dewasa. Ada banyak hal yang mestinya kita pahami untuk
berbaur bersama mereka. Agar jatuhnya, tidak seperti orang dewasa yang
mendiktekan, tapi (bisa jadi) lebih dekat seperti hubungan orang tua dan
anak.
The Teacher’s Diary pun juga
memvisualkan betapa anak-anak tidak hanya bisa belajar dari apa-apa yang
dikhotbahkan para orang dewasa di depannya. Melainkan juga belajar dari
tindakan, dan contoh-contoh yang lebih nyata yang dekat dengan kehidupan mereka,
lebih dari sekedar kata-kata.
Selain institusi pendidikan formal, Paulo Freire, seorang tokoh
pendidikan asal Brazil menawarkan pendidikan alternatif. Pendidikan alternatif dipandang sebagai sistem
pendidikan yang melihat siswa dan guru adalah dua pihak yang sama-sama belajar.
![]() |
| Sumber |
Tentang pendidikan alternatif, pernah
satu waktu, saya bergabung dengan beberapa teman. Ingatan saya masih jelas
merekam, salah seorang dari mereka sedang berdiri di depan kelas. Ia
menjelaskan tentang tugas yang mesti dikerjakan oleh adik-adik siang itu.
Sekali lagi, berbaur dengan
anak-anak itu tidaklah mudah. Ia yang tadinya berdiri di depan kelas, berlari
keluar, menunjuk dan meneriaki salah seorang siswa yang meninggalkan bangkunya
karena menolak mengerjakan tugas yang diberikan. Dalam logat Makassar yang
sangat kental, teriakannya bisa diartikan oleh siapa saja yang mendengar. Tak
terkecuali saya, yang mengamati. Ah, kata-katanya
masih bisa saya ingat dengan jelas hingga hari ini.
Kehidupan mengajarkan banyak hal,
bukan? Cukuplah dipahami bahwa, butuh kesabaran ekstra untuk berhadapan dengan
anak-anak. Pilihan kata, sikap dari orang yang mereka lihat bisa jadi adalah
materi yang mereka serap. Olehnya perlu, seorang pengajar menjadi pendidik agar
menjadi panutan.
Salah seorang professor yang saya
kenal pernah mengatakan bahwa pendidikan di perguruan tinggi adalah pendidikan
orang dewasa. Mahasiswa harus bisa memilih jalannya agar setelah keluar bisa
menjadi pribadi mandiri. Namun sayang, beliau mungkin alpa mengamati bahwa
mereka yang disebut pengajar tak sepenuhnya adalah pendidik dan mendidik secara
dewasa. Tidak jarang, sisi emosional jadi alasan mencegat mahasiswa, merasa
lebih pandai dari mahasiswa, hingga menutupi ketidak tahuan dengan tugas-tugas
yang mulai tidak masuk di akal. Akhirnya, institusi pendidikan hanya jadi panggung untuk
mereka mempertontonkan kuasa.
Di penghujung film The Teacher’s
Diary, tokoh Song (Sukrit Wisetkaew), guru yang datang setelah Ann pergi, menggambarkan bahwa, kesuksesan dan kegagalan seorang siswa tidak lepas dari peran serta guru di dalamnya. Song pun memutuskan untuk berhenti mengajar
saat seorang siswanya di Sekolah Rumah Kapal gagal menyelesaikan soal tepat
waktu saat ujian semester. Ia berniat untuk kembali bersekolah agar bisa
kembali mengajar suatu masa nanti dengan kualitas yang lebih.
Tokoh Song menggambarkan
kedewasaan seorang pendidik. Pendidik bisa jadi adalah satu-satunya tonggak
yang bisa berdiri ketika masalah negeri ini terus meluap. Satu-satunya jalan
untuk menyelamatkannya adalah melalui pendidikan. Berbaur dengan anak-anak. Tidak lain dan tidak bukan
adalah untuk mempersiapkan tangan-tangan baik yang bisa merawat negeri ini di
masa mendatang.

0 comments