"Anak-anak adalah pesan hidup yang kita kirimkan kepada masa yang akan datang" -Neil Postman
Sekitar 20an anak berkumpul di pendopo desa, sore (18/2). Mereka berlarian menarik kursi untuk diri sendiri saat melihat kami mulai mendekat. Diantara mereka, hanya dua orang yang wajahnya lekat dalam ingatan sebagai peserta Sekolah Media Literasi (Smile). Sayangnya, penyakit susah mengingat nama ini masih menggerogoti saya. Selebihnya, terlihat segar.
Tanpa pikir panjang, saya memeluknya. Sekarang saya ingat, dia Ika dan Hera, anak kelas 5 SD. Waktu bertemu di waktu sebelumnya, mereka masih kelas 4 SD. Tidak banyak yang berubah. Selain salah satu dari mereka, yang mulai pintar berdandan. Hemmm....kedua kelopak matanya sedikit berkilau.
Dan kemudian, "Kak kenapa lama sekali? Kita bilang, bulan sembilan," katanya sambil bermusam ria. Senyum memang tak selalu jadi bisa jadi jawaban, apalagi untuk sekelas anak-anak seperti mereka. Tapi pengalih-pengalih lain sore itu menjadikan senyum jawaban yang paling tepat.
Ingatan tentang pertemuan akhir yang dimulai lagi hari ini, tak begitu jelas. Termasuk kata-kata yang terucap dan justru melekat di benak anak-anak Smile. Ah, sepertinya saya terlalu sering meremehkan anak-anak. Kata-kata yang terucap, tidak jarang hanya untuk menyelesaikan masalah jangka pendek, tanpa berpikir bagaimana kata-kata itu terekam baik dalam ingatan anak-anak pada masa yang tidak singkat.
Setelah beberapa bulan tak bertemu tanah ini, minggu ini saya melepas rindu di tengah (mungkin) kesibukan. Tak banyak yang berubah. Harga katinting masih tetap Rp. 3.000, namun tak ada lagi anak-anak yang menunggu di bibir dermaga. Kali ini, lokasi Smile memang sudah berpindah. Lokasinya cukup jauh dari dermaga, tempat kami mendarat. Mereka pun yang dulu, terganti dengan banyak wajah baru.
Singkat cerita, kami mulai "bermain-main" dengan media kami masing-masing. Sembari mendengar mereka menyebut satu per satu tayangan tivi yang mereka nonton. Ganteng-Ganteng Serigala, Jilbab I'm in Love, Masha and The Bear, Upin & Ipin, Ipin Upin, dan ehemmm....Ipin. Kami menyebutnya bermain. Karena dalam bermain, kami lebih nyaman belajar. Ah, semua sah di kelas kami.
Kali ini kami berbaur dengan udara terbuka. Tak hanya ada anak-anak, tapi juga warga sekitar. Mereka menaruh mata pada kami, sembari menyoraki anak-anaknya yang satu per satu maju ke depan.
Waktu terus bejalan, tidak terasa sudah lebih dari satu jam kami bermain dan belajar bersama. Kelas pun kami akhiri dengan menyanyi bersama.
"Kapan lagi datang kesini?" kata salah seorang ibu yang kami temui di tengah perjalanan pulang. "Insya Allah, rabu depan lagi ibu," jawab kami. Dan, "bagus ini, bisaki juga belajar," Jawab ibunya. Ah, ada banyak hal di dunia ini yang bisa membuat kita bahagia. Termasuk, niat-niat sederhana yang (akhirnya) disambut dengan harapan-harapan kecil orang-orang di luar sana.
Oh iya, Ika, Hera, anggap saja hari ini saya membayar utang. Kami datang, kami pun belajar. Kita, impas, namun belum lunas. Terima kasih untuk hari ini, saya selalu belajar dari kalian, mengingat janji yang terlupa dan menikmati betapa menyenangkannya dinanti (kembali).

0 comments