![]() |
| Sumber |
Semoga dirimu senantiasa diliputi kebaikan yang kau sadari dan syukuri. Tulisan ini sengaja diawali dengan pengharapan semacam itu. Ya, kau pasti sepakat, manusia sering alpa bersyukur. Terlalu banyak yang terlewatkan, hingga lahirlah kita-kita yang menjelma serakah.
Zamzam, kali ini bukan Siti Hajar yang berlari-lari kecil dari Bukit Shafa ke Bukit Marwa untuk “menemukanmu” sebagai penawar dahaga Ismail. 23 tahun silam, segala harapan kebaikan bergerumul dalam satu sosok dari rahim ibumu. Harapan akan kebaikan hidup, bukan Cuma untuk diri sendiri namun juga bagi orang lain. Untuk yang satu ini, saya jadi orang kesekian yang mengacung jempol untukmu, Zam. Ya, Zam, Zem, Zemi, begitu banyak orang memanggilmu, pun diriku. Ah, maafkan kami merusak nama cantikmu, merusak doa yang terangkul dalam namamu.
Hari ini, mungkin kau bersedih, namun jangan lupa bahagia. Ya, segala sesuatu Dia ciptakan secara berpasang-pasangan sebagai tanda kuasanya, kan? Bersedih, karena hari ini artinya dirimu semakin beranjak jauh dari masa kanak-kanak yang sering kita bincangkan sebagai masa paling menyenangkan dalam hidup. Artinya, hidupmu semakin jauh dari sekadar kesulitan PR Matematika pada zamannya. Memikirkan kerjaan, murid-murid, menikah, punya suami, punya anak, jadi istri yang baik pada akhirnya jadi pertanda bahwa dirimu bukan lagi Zamzam yang dituntun agar fasih berjalan "ratusan" tahun yang lalu. Sedang bahagia, karena kau harus menghadapi kenyataan bahwa sang pemilik hidup masih meminjamkan waktunya untukmu hingga detik ini. Dan, tidak semua orang mendapat kesempatan ini, bukan?
Lebih sering, kau tidak begitu banyak omong. Namun, asal kau tahu dalam diam ada kagum untukmu. Seumpama ada dua jalan di depan kita, maka kau adalah orang yang paling bisa diandalkan untuk memikirkan cara agar bisa sampai di salah satu jalan itu. Namun sayang, kau terkadang begitu nyaman memelihara “takut”. Maafkan hari itu, benang layang-layang yang saya genggam memutus benang layang-layangmu. Setelah benangnya putus, layang-layangmu kembali coba kau terbangkan, namun tetap saja layang-layangmu begitu gelisah diterpa angin, dan karena takut putus kau tidak membiarkannya berlama-lama melepas rindu dengan angin. Ah, Zam mungkin memang harus diputuskan dulu untuk menguatkan ikatan (Untuk bagian ini, jangan salah fokus ya). Jadi, mari main layang-layang.
Zam, selamat milad. Doa-doa terbaik tercurah untukmu selalu, semoga senantiasa menjadi cahaya yang membawa sinar kebaikan bagi banyak orang. Selamat bersedih, namun jangan lupa bahagia.

2 comments
Tulisan ala Ayu selalu punya nyawa tersendiri. Indah :).
BalasHapustest
BalasHapus