Belajar Dari Nenek Rina

  • 9/06/2015 08:39:00 PM
  • By adriyani.ayu
  • 1 Comments

Sumber

Setiap masa punya ceritanya masing-masing. Sama, ramadhan tahun ini pun begitu adanya. Tahun lalu, ramadhannya rasa skripsi. Ya, deadline empat tahun dari orang tua bertepatan dengan ramadhan kala itu. Tahun ini? ah, rasa sibuk. Saya sedang menikmati bermain "kejar waktu" dari satu perusahaan ke perusahaan lain di bawah payung yang sama.

Ramadhan yang lalu, saya bertemu dengan seorang nenek. Umur boleh saja sepuh, namun semangatnya tak lepuh. Namanya nenek Rina. Kami berbincang-bincang di tengah pembagian "kewajiban" mereka yang berlebih. Perbincangan kami mengalir.

Mengenakan jilbab putih dengan panjang menutup tangan. Wajahnya mulai terbungkus keriput. Ia duduk beberapa jengkal dari tempat saya duduk. Pribadinya ramah.

Nenek Rina bercerita tentang asalnya, tanah Massenrempulu, Enrekang. Tanah Massenrempulu artinya daerah pinggiran gunung. Maklum saja, lebih dari separuh daerahnya memang dikelilingi gunung dan perbukitan. Dari Makassar, Enrekang dapat ditempuh selama kurang lebih lima jam.

 Perbincangan kami semakin mengalir, setelah ia menanyakan daerah saya berasal. Beberapa anggota keluarganya ternyata bermukim di daerah yang sama. Satu, dua nama mulai fasih ia sebut. Hawa bahagia terasa lekat saat ia bercerita tentang keluarganya. "Saya senang nak, mereka biasa ajak saya juga ke daerahnya. Alhamdulillah kalau sudah diajak begitu, semua mereka tanggung. Kecuali hidup, karena hidup urusannya yang di atas," ungkapnya sambil tersenyum ramah.

Ia bercerita, rumahnya tepat berbatasan dengan dinding tinggi perusahaan tempat kami bertemu hari itu. Namun sayang ia harus memutar jauh untuk bisa sampai di tempat itu, karena mustahil memanjat dinding batas itu. Ia menyanggupinya, karena di usianya yang senja itu berjalan jauh baginya biasa saja. Satu waktu, pernah ia berjalan ke salah satu pasar di daerah Makassar ini. Langkahnya memang tidaklah lagi selincah waktu muda lagi, namun ia mafhum bahwa hidup adalah siklus. "Waktu itu, ada anak muda kebetulan lagi lari-lari di belakangku. Kayaknya dia nda' enak lambungka'. Jadi dia jalan pelan-pelan. Dia baru lari setelah saya menyeberang. Hahahaha....maumi diapa? Jalanku nda' kencang kayak dulu lagi" ungkapnya sambil tertawa.

Kesehariannya, Nenek Rina mencoba semua yang bisa mendatangkan uang namun tetap halal. Ia biasanya menawarkan jasa pengupas bawang ke rumah makan yang ada di sekitar jalan Urip Sumoharjo. "Dibayar 10.000 untuk beberapa kilo nak. Tidak banyak memang, tapi haruski beryukur biar cukup. Biar dapat satu juta juga tapi kalau tidak bersyukur, pasti tidak merasa cukupki'," matanya mulai berkaca-kaca. Posisinya yang tadinya menghadap orang-orang disekitarnya, membuatnya memutar badan dan hanya menghadap ke saya saja. Ah, untung saja saya bukan pemandu acara reality show dengan dikelilingi kamera dimana-mana. Seandainya iya, melihat moment semacam ini, "kesedihan" berubah jadi jualan empuk.

Saya menelan ludah, menahan perih yang seketika menyerbu mata, saya mafhum hidup itu untuk dijalani bukan untuk diratapi. Meratap hanya akan menyisakan sedih dan air mata. Saya mencoba mengalihkan perbincangan sedikit demi sedikit. Jilbab putih yang ia kenakan, ia gunakan untuk menyeka air matanya yang mulai tumpah.

Sore itu, saya belajar dan kembali diingatkan banyak hal oleh Nenek Rina. Tentang "kecukupan" yang diawali dengan syukur, tentang kebaikan yang dibagi-bagi akan menyulut bahagia, tentang kesedihan yang tak perlu semua orang tahu, tentang kekuatan yang menenangkan. Manusia sering kali lupa, olehnya sering kali diingatkan dalam banyak kejadian dengan bertemu banyak orang, dengan cara berdamai dengan banyak hal. Semoga sehat selalu, Nek.  


You Might Also Like

1 comments