"Puno: Letters to The Sky": 50 Menit yang Magis

  • 2/04/2019 05:27:00 AM
  • By adriyani.ayu
  • 0 Comments

Tala dan Puno (Dok. Pribadi)
Adalah gadis kecil bernama Tala yang melakoni perjalanan emosional sebagai seorang anak. Mulai dari bahagia, hingga kehilangan yang tentu saja berujung pada kesedihan. Seperti anak-anak pada umumnya, Tala mewarnai hari-harinya dengan bermain, sembari terus menikmati waktu demi waktu bersama ayahnya, Puno. Ceria, sekali.

Hingga tiba waktunya, Puno merasakan "bayang-bayang" lain yang membuatnya sedih namun tetap harus bahagia di depan Tala. Puno tahu, waktunya bersama Tala tidaklah lagi lama. Namun adalah suatu hal yang sulit untuk menyampaikannya pada Tala.

Hingga, raga Puno akhirnya benar-benar pergi. Tala larut dalam kesedihan. Ia merasa, ayahnya telah meninggalkannya sendiri. Tidak ada lagi yang mengajaknya bermain, yang memasakkan makanan untuknya, hingga hal yang paling sederhana...memanggil namanya dengan riang gembira.

Namun kesedihan yang dialami Tala membuatnya seolah tetap bisa merasakan kehadiran ayahnya, di tempat dimana Puno dan Tala menghabiskan waktunya bersama. Seolah tak ingin kehilangan kesempatan berharga, Tala terus menuliskan surat di dalam kapal kertas. Menuliskannya saja. Tanpa pernah dikirimkan kemana.

Tala memang tak lagi melihat wujud ayahnya, namun masa-masa 40 hari sepeninggal ayahnya seolah membuatnya belajar untuk berdamai dengan makna lain dari "bertemu dan bersama".


******



Kisah di atas adalah alur dalam pementasan Puno:Letters to The Sky oleh Papermoon Puppet Theatre. Pementasannya sudah lama, sejak pertengahan tahun 2018. Namun pesan moral yang bisa kita petik, rasa-rasanya tak lekang waktu. Saya pun menuliskannya, karena kisah orang lain yang akhirnya membawa saya untuk mengingat kembali pementasan ini.

Secara personal, menyaksikan pementasan yang minim dialog, bahkan masuk kategori non-verbal performance ini adalah 50 menit yang magis. Menyaksikan Puno dan Tala adalah meresapi kesedihan, mengingat kebahagiaan, memanen rindu, merajut kembali ingatan dengan orang terkasih, hingga pada rasa takut kehilangan. Baik sebagai seorang Tala, maupun bagi seorang Puno. Sebagai orang yang ditinggalkan, maupun yang justru harus meninggalkan lebih dulu.

Dalam 50 menit, beberapa orang bahkan meneteskan air mata. Benar memang, ada banyak hal di dunia ini yang bisa dirasakan tanpa harus dikuantifikasi oleh kata-kata. Gelak tawa, kebahagiaan, raut wajah kesedihan, semuanya sampai. Konsepnya sederhana, kita hanya butuh mata untuk melihat dan hati untuk merasakan.

Pementasan ini memang terinspirasi dari hal yang menakutkan (dalam sudut pandang mayoritas), namun pasti akan terjadi. Apa itu? Kematian. Sebaliknya dalam pementasan ini, justru pesan ini yang ingin disampaikan. Bahwa, kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan. Tala yang akhirnya menyadari bahwa sesungguhnya tidak ada yang benar-benar pergi, ayahnya sekalipun. Kesadaran ini yang membuatnya berusaha untuk berkomunikasi dengan ayahnya, menyampaikan perasaannya, sekalipun itu dengan medium yang berbeda.

Puno dan Tala adalah kita. Ada berapa banyak sih dari kita yang merasa bahwa membincangkan tentang kematian adalah sama menyenangkannya dengan membincangkan rasa kagum atau suka kita pada sesuatu atau seseorang yang lain? atau ada berapa banyak sih dari kita yang menganggap bahwa kematian bukan sesuatu yang tabu untuk dibicarakan, paling tidak pada orang yang paling kita percaya? Berapapun itu, tentu saya bukan salah satunya. Horor, saking tidak biasanya.

Jadi, mari tidak membincangkan tentang kematian. Pada hubungan anak dan orang tua yang membangun komunikasi humanis tentang banyak hal yang ditabukan dalam relasi sosial, adalah hal lain yang bisa kita amati dari Puno dan Tala. Jangankan membincangkan tentang kematian, Tala cukup dengan menjalani hidup yang bahagia dan menyenangkan bersama orang yang ia sayangi. Tidak ada ruang pada narasi-narasi lain. Kesedihan dan kehilangan, misalnya. Sehingga, realitas tentang ketidak hadiran orang lain, tentang fisik yang tidak saling bertemu, tentang hari-hari yang tidak seperti biasanya adalah sesuatu yang mengguncangkan. Di meja-meja makan pada umumnya, narasi tentang "Keseimbangan hidup" jarang disuguhkan. Tentang konsekuensi berbahagia, yang bisa jadi datang bersama dengan peluang kesedihan setelahnya atau tentang memaknai kebersamaan yang tidak hanya dari sudut pandang pertemuan semata.

Puno dan Tala membawa para pengunjung melihat bahwa di umur berapapun perpisahan akan selalu menyisakan sedih. Namun bagaimanapun dan dalam konteks apapun, dalam setiap sedih yang ditinggalkan, ada kehidupan lain yang akan tetap berjalan.

Pesan
Kematian sesungguhnya hanya satu dari banyak nilai yang bisa dilihat dari Puno: Letters to the Sky ini. Nilai sederhana yang tidak kalah pentingnya adalah kesadaran bahwa kita tidak mesti menyimpan segala sesuatu sendiri. Ada banyak energi di dalam diri kita yang menguatkan, justru ketika ia dilepaskan. Entah dengan menangis kah, atau bercerita dengan orang yang dipercaya. Dan bukan hanya tentang kematian, melainkan juga tentang kesedihan-kesedihan lain, tentang banyak hal yang sering kali tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita.


You Might Also Like

0 comments