| Dieng di pagi hari |
Masyarakat Dieng telah berdamai dengan ini. Suhu di bawah 0 bisa menghasilkan Dieng yang membeku. Masyarakat setempat menyebutnya bun upas (embun racun). Bun upas bisa jadi adalah fenomena tidak biasa yang sangat instagramable untuk masyarakat dari berbagai daerah. Namun bagi masyarakat setempat, selain memang akan menambah pemasukan dari para wisatawan yang datang, juga berarti kerugian untuk sektor pertanian yang selama ini menjadi sektor andalan mereka.
"Bun upas ini tidak bisa diprediksi. Tahun 2017 tidak ada. Tahun 2018, baru turun lagi. Ya kalau tau mau turun, kita ndak perlu tanam kentang. Kan sudah tau akan rugi"
Begitu kata Bu Dibyo, pemilik penginapan yang saya dan kawan-kawan saya sewa. Saat saya berkunjung di tahun 2018 ini, saya memang tidak menemukan bun upas. Malam itu, angin berhembus cukup terasa, rintik hujan juga sempat turun di tanah Dieng. Namun tetap saja, suhu hingga 6 derajat cukup membuat ngilu. Bun upas justru turun semalam sebelumnya, suhu yang mencapai minus 2 membuat pelataran candi arjuna diselimuti es.
![]() |
| Bun upas (Sumber: Di sini) |
| Pemandangan dari teras rumah bu Dibyo |
Dieng adalah daerah yang menyimpan banyak artefak berikut dengan
kisah-kisah yang dirawat oleh masyarakatnya. Mulai dari Candi Arjuna,
Danau Telaga Warna, hingga pada fenomena tumbuhnya rambut gimbal pada
anak-anak “pilihan” yang diyakini sebagai utusan dewa. Mereka meyakini
bahwa rambut gimbal ini hanya bisa tumbuh di Dieng.
| Anak berambut gimbal |
| Puncak Ruwatan di Kompleks Candi Arjuna |
Ritual budaya pemotongan rambut gimbal ini pun dikemas dengan berbagai rangkaian kegiatan yang membuat ribuan orang dari berbagai daerah tertarik untuk berkunjung. Diantaranya adalah “Jazz atas Awan” yang menghadirkan berbagai musisi-musisi ternama dengan pesta kembang api dan lampion setelahnya. Selain itu, berbagai gelaran produk-produk lokal juga ditampilkan. Dalam program ini, perputaran uang masyarakat-masyarakat berpindah sejenak ke Dataran Tinggi Dieng.
| Panggung Jazz atas Awan 2018 |
Sadar
akan hal ini, masyarakat Dieng mengolah kekayaan kultur dan
geografisnya dalam banyak hal. Ritual kebudayaan dan aktivisme kontemporer dibingkai dalam program tahunan yang
mereka namai “Dieng Cuture Festival”. Kegiatan yang awalnya dikelola
secara swadaya oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat ini,
akhirnya mendapat perhatian dari Kementerian Pariwisata. Memasuki tahun ke-10 di 2019, Dieng Culture Festival (DCF) menjelma produk keberdayaan yang terus dirawat oleh masyarakat setempat.
| Penerbangan Lampion |
Tidak hanya terfokus di venue acara DCF saja, salah satu kawasan yang mendapat berkah DCF adalah masyarakat di area pendakian Bukit Sikunir. Orang-orang pun tumpah di kawasan ini. Memang jika beruntung, Golden Sunrise akan bisa dinikmati. Hanya saja, berburu golden sunrise di bukit Sikunir ini seperti mengundi dadu. Karena alam, siapa yang tahu? Sering kali, menanjaki Bukit Sikunir hanya berakhir dengan pemandangan kabut yang terlalu tebal, hingga matahari nampak setelah benar-benar meninggi. Seperti yang saya dapatkan, tentunya. Olehnya, sangat disarankan memilih menanjaki Bukit Sikunir bukan pada waktu liburan orang kebanyakan, apalagi di sela-sela DCF. Karena bisa jadi, selain kabut, hanya lautan sesak manusia yang akan didapat.
| Sisa-sisa cahaya di tengah-tengah kabut |
| Sebuah usaha menangkap cahaya |
Tahun 2018 adalah tahun kedua saya berkunjung ke Dieng, Wonosobo. Di tahun sebelumnya, saya hanya berangkat berdua bersama kawan dan berlelah-lelah ria dengan kendaraan roda dua selama kurang lebih empat jam. Sedangkan di tahun ini, saya berangkat bersama tujuh orang yang lain dari Jogja. Catatan saya tentang Dieng Culture Festival di tahun 2017 bisa dibaca Di sini.
Tidak banyak yang berubah memang. Selain beberapa event tambahan dan juga sampah yang terus tertinggal dari para pengunjung. Persoalan sampah ini tentu bukan soal mudah. Masyarakat Dieng yang tak seberapa, tentu tidak berbanding lurus dengan riuhnya manusia berikut dengan sampah-sampah yang dihasilkan selama kurang lebih tiga hari. Dibutuhkan kesadaran kolektif untuk memahami bahwa kita adalah bagian yang saling terhubung satu sama lain. Selain mahluk sosial, jati diri manusia sebagai mahluk ekologis tidak boleh dinafikkan. Menjaga lingkungan dengan cara yang paling sederhana yaitu membuang sampah pada tempatnya, terlebih jika sampah tersebut di daur ulang adalah wujud prinsip hubungan siklis yang tejaga di alam. Hubungan ini yang membuat alam tetap ada dan berkelanjutan hingga miliaran tahun. Maka untuk memapankan keberlanjutan, kita bisa memulainya dengan hal paling sederhana ini, membuang sampah pada tempatnya.
Di alam, hubungan siklis ini dapat dipahami dari mata rantai kehidupan. Wujudnya, hasil buangan dari suatu organisme dapat diserap oleh organisme lain sebagai asupan makanan dan energi baru. Begitu terus. Sehingga, tidak ada materi yang diproduksi yang akhirnya terbuang percuma tanpa manfaat. Pandangan ini diungkapkan oleh Fritjof Capra, seorang Fisikawan Amerika yang melebarkan pandangan positivistiknya menuju bangunan paradigma yang holistik dan ekologis untuk memahami fenomena sekitar yang terus berkembang. Pemikiran Capra sangat dapat diadopsi untuk membaca pola perilaku masyarakat yang apakah sudah cukup ecoliterate atau melek ligkungan atau tidak?
Ya, alih-alih mengharapkan lingkungan yang berkelanjutan, jika siklus limbah kita saja tidak bisa diatur, apa yang bisa kita harapkan dari dasawarsa-dasawarsa mendatang? Semangat DCF tentunya adalah semangat berkelanjutan, namun merawat lingkungan di atas semua upaya memajukan daerah juga adalah penopang keberlanjutan itu sendiri. Lagipula sederhananya, merawat lingkungan pada umumnya dan membuang sampah di tempatnya pada khususnya, adalah wujud kembalinya fitrah kita sebagai mahluk ekologis. Mahluk yang memelihara relasi intersubjektif (subjek-subjek) dengan alam. Bahwa, kita tidak bisa hidup tanpa adanya manusia lain, begitupun juga dengan sistem ketergantungan kita terhadap alam. Baik di DCF, maupun dalam konteks lainnya, masing-masing kita sering kali harus mampu kembali memaknai bagaimana relasi kita dengan alam. Hal ini penting, agar sekiranya kita tidak boleh alpa mengingat bahwa kehidupan bukan hanya tentang kita saja.
Di alam, hubungan siklis ini dapat dipahami dari mata rantai kehidupan. Wujudnya, hasil buangan dari suatu organisme dapat diserap oleh organisme lain sebagai asupan makanan dan energi baru. Begitu terus. Sehingga, tidak ada materi yang diproduksi yang akhirnya terbuang percuma tanpa manfaat. Pandangan ini diungkapkan oleh Fritjof Capra, seorang Fisikawan Amerika yang melebarkan pandangan positivistiknya menuju bangunan paradigma yang holistik dan ekologis untuk memahami fenomena sekitar yang terus berkembang. Pemikiran Capra sangat dapat diadopsi untuk membaca pola perilaku masyarakat yang apakah sudah cukup ecoliterate atau melek ligkungan atau tidak?
Ya, alih-alih mengharapkan lingkungan yang berkelanjutan, jika siklus limbah kita saja tidak bisa diatur, apa yang bisa kita harapkan dari dasawarsa-dasawarsa mendatang? Semangat DCF tentunya adalah semangat berkelanjutan, namun merawat lingkungan di atas semua upaya memajukan daerah juga adalah penopang keberlanjutan itu sendiri. Lagipula sederhananya, merawat lingkungan pada umumnya dan membuang sampah di tempatnya pada khususnya, adalah wujud kembalinya fitrah kita sebagai mahluk ekologis. Mahluk yang memelihara relasi intersubjektif (subjek-subjek) dengan alam. Bahwa, kita tidak bisa hidup tanpa adanya manusia lain, begitupun juga dengan sistem ketergantungan kita terhadap alam. Baik di DCF, maupun dalam konteks lainnya, masing-masing kita sering kali harus mampu kembali memaknai bagaimana relasi kita dengan alam. Hal ini penting, agar sekiranya kita tidak boleh alpa mengingat bahwa kehidupan bukan hanya tentang kita saja.

