| Sumber |
Perjalanan itu mendewasakan.
Perjalanan dan petualangan adalah sedikit dari banyak pilihan yang ada untuk
menghidupi hidup. Terus mencoba, melangkah, memblokade rasa takut adalah bahan
bakarnya.
Perjalanan dimulai di hari suci
yang Insya Allah penuh berkah, Jumat, 21 Juni 2013. Di tengah hiruk pikuk
Bandara International Hasanuddin, saya dan 73 mahasiswa Universitas Hasanuddin
lainnya masih sibuk dengan perbincangan-perbincangan konyol tentang banyak hal.
Semuanya masih nampak segar, dengan senyum lebar yang cerah.
Ya, ada 74 mahasiswa Unhas yang
akan melaksanakan KKN di Pulau Miangas. Banyak yang bertanya, “kenapa jauh
sekali?” Pertanyaan itu serasa menggelitik, mungkin jawabannya “karena kami
memilih dan kami terpilih”―mungkin. Meskipun, untuk sebagian mahasiswa KKN (Kuliah
Kerja Nyata) itu waktu untuk bersantai, kalau ada yang mudah kenapa mesti cari
yang susah, kalau ada yang dekat, kenapa mesti cari yang jauh. Kan biar bisa
pulang balik juga. Tapi, kalau ada yang beda kenapa mesti sama, atau kalau ada
yang tidak biasa kenapa mesti biasa?
Jalan panjang menuju daratan di Utara Indonesia, diawali dengan pesawat. rute awal yang ditempuh untuk sampai di Miangas adalah menggunakan pesawat dengan tujuan Negeri Paman Sam (Kata seorang teman). Ya, dengan tujuan Bandara Samratulangi Manado. Hanya butuh waktu 1 Jam 45 Menit untuk menyapa Bumi "Sitou Timou Tumou Tou"―Memanusiakan manusia.
Pukul 17.30, saat cakrawala mulai
menguning di ufuk barat, tulisan besar “The Port of Bitung” di atap gedung
Terminal menjadi penanda dimana kami berada saat ini. Di pelabuhan ini, debu
mengepul di setiap sudut, menyatu dengan bau sibuk yang semakin kuat dari waktu
ke waktu. Dari kejauhan, salah satu kapal besar terlihat bertengger dengan
gagah di bibir dermaga. Saya membatin, menduga kapal itulah yang akan membawa
kami berjumpa dengan Miangas. Namun apa daya, kenyataan tak semanis keinginan
rupanya. Viewnya harus diturunkan.
Ternyata, kapal yang akan membawa kami adalah kapal perintis dengan ukuran yang
tidak begitu besar, ia bertengger sempurna di belakang kapal Pelni besar yang
saya lihat sebelumnya―KM. Meliku Nusa.
Bersambung.....
0 comments