Sekalipun sejak sore seluruh barang dan kami pun telah bersiaga di KM Meliku Nusa, namun kapal ini beranjak meninggalkan pelabuhan Bitung setelah jam melenggang sempurna melewati angka 10. Malam pertama di atas kapal ini pun menyapa kami dengan hangat. Tidak hanya kami, penumpang-penumpang lain dengan tujuan yang sama ataupun dengan tujuan pulau lain yang akan kami singgahi nantinya punya cara masing-masing memeluk malam, mencumbu alam.
Perjalanan untuk bertemu Miangas
membawa kami pun bertemu dengan 8 pulau lainnya. Minggu, 23 Juni 2013 KM Meliku
Nusa membawa kami bertemu dan menyapa Pulau Makalehi, Pulau Ulu Siau, dan Pulau
Kahakitang. Dini hari, 24 Juni 2013 saat udara dingin masih menggerogoti malam,
KM Meliku Nusa merapat di dermaga Pulau Tahuna. Senin belum berakhir, Pulau
Kawaluso pun menyambut kami melewati pagi yang hangat. Menyambut siang, pesona Pulau Kawio tak jua kalah. Dan
sore pun punya cerita sendiri, pesona Pulau Marore yang berdampingan dengan
Pulau Kapore pun menyambut kami. Laut bersih yang biru dengan terumbu karang
yang jelas terlihat dari atas kapal mempertegas keindahannya.
Meninggalkan pulau Marore, kapal berlabuh menuju pelabuhan tujuan kami, Miangas. Cukup berbeda, dengan perjalanan menuju pulau-pulau sebelumnya. Biasanya, sejauh mata memandang, dari kejauhan masih terlihat pulau-pulau yang entah itu berpenghuni atau tidak. Sedangkan selepas Marore, sama sekali tidak ada. Meliku Nusa sendiri di tengah lautan lepas.
Hingga akhirnya pada pukul 2 dini
hari Selasa, lampu mercusuar dari pulau di kejauhan sudah terlihat. ”Itu di
sana Miangas,” Ungkap seorang ibu paruh baya yang berdiri bersandar di pagar
besi kapal “Kalau dari Marore ke Miangas, kapal butuh waktu sekitar 12 jam.
Sedang kalau dari Miangas ke Marore, kapal Cuma butuh waktu 8 jam. Ini karena,
kalau dari Marore ke Miangas kapal seperti melawan arus. Kalau jalan darat, ini
itu seperti tanjakan,” lanjutnya. Perbincangan pun mengalir. Ibu itu adalah
warga Miangas asli. Ia baru saja pulang dari Bitung untuk membeli keperluan
hidup selama sebulan. Dingin malam semakin menusuk, namun hangatnya
perbincangan masih terus terasa.
Dari perbincangan malam itu (sepertinya) ia ingin menegaskan bahwa jarak adalah energi tersendiri untuk mereka menghidupi hidup. jarak bagi mereka adalah tembok besar yang senang dengan penaklukan. Jarak adalah teman bermain. Jarak adalah kehidupan. Hingga saat ini pun kami tengah bermain-main dengan jarak dan pada akhirnya kami menemukan bahwa jarak adalah anugerah, bertemu Miangas.
Saya percaya bahwa setiap
peristiwa di jagat raya ini adalah potongan-potongan mozaik. Terserak dalam
rentang ruang dan waktu. Mozaik-mozaik itu akan membangun siapa dirimu di suatu
pagi yang sejuk nanti. Lalu apapun yang kita kerjakan dalam hidup ini, akan
bergema dalam surga abadi, maka tidak ada pilihan lain untuk mereka yang
menghargai hidup yaitu dengan berkelana. Ya, berkelanalah di atas muka bumi ini
untuk menemukan mozaikmu. What we do in
life, echoes in eternity.
0 comments