Kita Yang Tak Berjarak

  • 4/17/2014 07:36:00 PM
  • By adriyani.ayu
  • 1 Comments

"Thank you for today. For a sweet escape from my extremely exhausted life. SMILE jadi reminder untuk ndak berhenti bersyukur dan berbagi. I'll be happy to help. And for those 15 minutes yang terasa bagai di Thailand, I am so so happy"
Pesan via Whatsapp, membangunkan saya dari tidur setengah malam, kemarin. Bunyinya kurang lebih seperti di atas. Pesan itu dikirim oleh Kak Kiki. Sudah sejak lama, kak Kiki dan Kak Jejen memberitahu untuk bergabung di SMILE. Hanya saja, waktu dan kesempatan baru memungkinkan minggu ini. 

Tidak seperti biasanya. Saya, Jay, kak Jejen, dan kak Kiki hari ini berkumpul di suasana yang jauh berbeda. Tidak di Gedung berlantai 8 yang tinggi menjulang di tengah hamparan pohon, simbol segala kuasa berbalut nuansa akademik dipertontonkan. Di Lakkang, ya disini kami kemarin, Rabu (16/4).


Ruang-ruang kelas memang tidak pernah menjadi batasan kita untuk tahu dan bersyukur akan sesuatu. Tembok berukuran sekian itu terlalu kecil untuk menampung jiwa-jiwa besar. Berbaur dengan anak-anak kecil misalnya. Bukan bersyukur karena saat ini kita memiliki apa yang mereka tidak miliki, itu terlalu kejam. Tapi bersyukur karena kesempatan untuk berbuat sesuatu masih diberikan kepada kita. Ini jauh lebih baik kan? daripada hanya sekedar berkoar-koar dan membesarkan diri sendiri dengan berbagai suplemen pengetahuan namun berhenti di titik itu saja. Ya, disitu saja. 


Pernah suatu waktu, kami memberi tugas ke adik-adik SMILE untuk menonton program televisi yang mereka inginkan. Dan di minggu berikutnya, tugas mereka adalah menceritakan apa yang mereka nonton.

Sesuai janji, minggu berikutnya, kamipun menagih tugas mereka. Ada yang ingat dan ada juga yang lupa. Awalnya mereka malu-malu untuk maju ke depan. Namun setelah tahu, yang berani maju kedepan dan bercerita akan diberi hadiah, merekapun satu per satu mulai mengacungkan tangan. Saya tidak begitu yakin, dengan cara seperti ini. Hanya saja, paling tidak mereka bisa belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu mereka harus melakukan sesuatu terlebih dahulu.

Satu buah buku, kami berikan kepada masing-masing adik yang berani. Khas anak-anak, beberapa dari mereka ada yang tetap mau hadiah namun juga tidak berani maju ke depan kelas dan bercerita. Di penghujung kelas, seorang anak berbaju batik merah, berambut panjang mendekatiku. Ia berbisik, "Kak Ayu, saya punya surat untuk kak Ayu". Saya pun menjulurkan tangan menyambut tangan kecilnya. Selembar kerta putih terlipat kecil itu kini berpindah tangan. Ia melempar senyum, sembari pamit pulang. 

Dalam perjalanan pulang, di atas Katinting, saya membaca surat itu. Hanya beberapa baris saja yang diukiri tinta hitam. Surat itu berisi permintaan maaf karena tidak mengerjakan tugas yang kami berikan. Tidak lupa ia menuliskan alasannya. Khas anak kecil, tak ada banyak syarat untuk sebuah pengakuan. "Saya tidak punya televisi di rumah kak" begitu tulisnya. 

Saya mencium aroma keberanian dari tinta-tinta itu. Meski hanya lewat tulisan, dan tidak dengan suara lantang di ruang kelas, di hadapan teman-teman yang lain. "Ah, baguslah dik." Paling tidak, waktumu untuk belajar dan bermain tidak terbuang banyak di depan kotak kaca bersuara dan bergambar itu dik. Tenang saja, tidak ada hukuman. Karena hukuman hanya untuk mereka yang pongah. 

Terima kasih karena kau menyadari bahwa tugas itu adalah tanggung jawab. Meskipun maaf (untuk orang-orang yang masa kecilnya kini tinggal sejarah) tidak akan selalu menyelesaikan masalah, namun untukmu...maaf adalah penegas kalau kita tak berjarak. 

You Might Also Like

1 comments

  1. BAGAK..!!! (y)
    Sampaikan salam sekaligus maaf ku untuknya(anak berbaju batik merah, berambut panjang).

    BalasHapus