Terima Kasih Semesta

  • 4/17/2014 01:19:00 AM
  • By adriyani.ayu
  • 1 Comments

Tidak terasa, Sekolah Media Literasi (SMILE) Makassar sudah hampir berjalan tiga bulan. Untuk ibu yang sedang hamil, fase ini menjadi fase dimana tingkat kemualan dan kemuntahan menjadi sangat tinggi frekuensinya. Untuk beberapa orang, tahap ini menjadi tahap semangat-semangatnya melakukan kegiatan. Pun juga kami. Namun, harapan besar kami adalah tidak seperti ibu hamil yang tidak lagi mual-mual seiring bertambahnya hari, atau beberapa orang yang semangatnya mulai menurun seiring bertambahnya waktu dan semakin banyaknya pengalih. Paling tidak, sebagai manusia kami berusaha untuk tetap menjaga cinta kasih kami pada ilmu pengetahuan dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat.  

Rabu (16/4), seperti biasa. Katinting, dua perahu kecil yang dijadikan satu itu bersandar di bibir tempat penyeberangan ke Desa Lakkang. Ya, Lakkang. Daerah yang hanya bisa diakses dengan menggunakan perahu dari Kera-Kera dan juga dari kawasan Tol Makassar selama kurang lebih 15 menit. Tenang saja, 15 menit tidak akan begitu terasa untuk teman-teman yang terbiasa dengan jalan aspal mulus, dengan pekik bunyi klackson kendaraan, dengan pemandangan hutan beton yang semakin hari semakin subur dan beringas. Hanya dengan Rp. 3.000, teman-teman sudah mampu membantu perekonomian masyarakat Lakkang. Masyarakat yang di tanahnya masih tersimpan Bunker, tempat penyimpanan logistik dan persembunyian Jepang sewaktu perang dulu. Ya, seperti itulah kira-kira.  



Dua pemandangan di atas cukuplah memanjakan mata. Mungkin ini seperti perjalanan si Jebraw menyusuri sungai Kalimantan untuk bertemu Orangutan. Bedanya, ini bukan perjalanan bertemu Orangutan. atau ini seperti perjalanan wisata yang banyak dilakukan di Sungai Mekong di Vietnam bedanya kita tidak akan bisa menikmati pemandangan malam yang indah dari atas aliran sungai ini. Karena, setelah maghrib tidak ada lagi Katinting yang akan menyeberang.



Semilir angin menyapu kulit dengan lembut. Tidak bisa dipungkiri, terkadang alam menyuruh kita beristirahat dengan cara yang berbeda. Hujan yang deras, dan angin kencang misalnya. Untuk di tataran itu, alam sukses. Katinting ini tidak akan menyeberang ke Lakkang ataupun sebaliknya, ke Kera-kera kalau memang cuaca tidak memungkinkan.

Minggu ini, saya dan lima orang volunteer (kembali) melepas penat di atas aliran sungai Tello. Seperti biasa, ada yang tinggal, ada yang datang, ada yang pergi, ada yang pergi untuk kembali, dan ada yang hanya bisa menabur janji. Ya, Sungai Tello. Sungai yang sebagian orang di Makassar mengenali alirannya dari warung besar serba ada, yang parkirannya mengambil sisi jalan, hingga di waktu-waktu tertentu saat volume kendaraan yang membawa manusia-manusia dan segala bentuk kelelahannya mulai meningkat membuat macet, seperti sekumpulan anak TK yang sedang bermain ular naga.

Menuju Lakkang, kalian akan melihat sisi yang berbeda. 15 menit perjalanan, sekitar pukul 14.00 WITA sampailah kita di Lakkang. Tima, Ratna, Hera, Sintia, telah berdiri menyambut kami di tempat penyeberangan. Lambaian tangan dan senyum sumringah khas anak kecil menyapa kami. Ah, lantas apa yang paling menyenangkan selain melihat senyum ikhlas seperti itu?

Seperti minggu-minggu terakhir, adik-adik dipecah menjadi kelompok kecil. Mereka didampingi oleh kakak-kakak volunteer. Karena seminggu yang lalu, Sekolah Media Literasi kami liburkan sementara . Hal ini dikarenakan waktu pelaksanaan SMILE mengikuti ke jadwal sekolah yang diliburkan saat pelaksanaan Pemilu 9 April lalu. Kamipun melanjutkan minggu ini dengan kelas bercerita yang divariasikan dengan kelas menggambar.

Kak Kiki dan kelompoknya

Suasana kelas

Masing-masing volunteer mendampingi dua hingga tiga orang anak. Adalah Una, salah satu adik di kelompok saya. Sepintas tak ada yang berbeda darinya. Baju batik merah seragam sekolahnya ia kenakan waktu itu. Kulitnya agak coklat, dengan rambut hitam, ikal, dan senyum ramah tapi malu-malu selalu ia lemparkan. Ia kelihatan malu-malu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya berikan. Sesekali ia hanya berbisik, khawatir kalau-kalau suaranya didengar oleh anak laki-laki SMP yang sedari tadi berkerumun disekitar kelompok kami.

Sebelum cerita-cerita ringan di kelompok kami saya mulai. Saya melihat gambar anak perempuan mirip tokoh kartun yang digambar di buku tulisnya. Diam-diam saya menaruh perhatian dengan gambar itu. Garis-garis yang membentuk satu gambar itu terlihat jelas, pensil yang digunakan sepertinya terlalu ditekan saat menggunakannya. Ah, saya terlalu angkuh waktu itu untuk berfikir kalau gambar itu dibuat tidak dengan menaruh kertas di atas gambar yang sudah jadi, lalu mengandalkan bayangan dari gambar yang sudah jadi. Pensil hanya bergerak mengikuti pola dari gambar yang ada di bawahnya.

Seakan membaca yang ada pikiran saya waktu itu, Una kembali menggambar gambar yang sama. Ia mengeluarkan sekotak pensil warna yang ukurannya tidak terlalu besar. Ia taruh di depannya, dan ia mulai menggambar. Melirik sembunyi-sembunyi ke arah Kotak pensil warnanya, tempat ia mendapati gambar yang ia ikuti. Oke, saya diam. Biar kami yang mengerti.



Itu Una. Bagi anak yang bercita-cita ingin menjadi dokter ini, menggambar pegunungan dengan hamparan sawah hijau, bentangan langit yang dihiasi burung-burung terbang tanpa beban terlalu mainstream. Saya meminta mereka untuk menggambar sesuatu yang mereka suka, lalu diceritakan. Merekapun melakukankanya. Sedangkan Saya, sewaktu kecil dulu masih sama seperti Hera dan Sintia (dua adik yang juga berada satu kelompok dengan saya), menggambar pegunungan, pepohonan, jalan raya, burung terbang, sawah, langit, matahari, dan pelangi adalah gambar andalan kami. Bagi saya, itu yang paling mudah. Bagaimana dengan kalian?


Ini kami. Ada Kak KikiKak JejenJayantiAinunRasti. Terima kasih semesta, sejak dulu foto seperti ini sudah sering dilakukan, hanya saja bedanya sekarang kami sudah tahu foto di atas itu namanya Selfie. Tidak usah cari laki-laki diantara kami. Nanti saya ajak berkenalan dengan bapak-bapak pemilik Katinting saja yang setia membawa kami. Terima kasih teman-teman volunteer luar biasa. Teman-teman yang mau rehat sejenak dari aktivitas yang tidak jarang membuat "buta". Terima kasih sudah mau berbagi dengan adik-adik SD Negeri Lakkang. Jika mendapat restu alam, sampai bertemu di SMILE minggu depan :)


*Foto: Dokumentasi Pribadi (Rasti, Ainum dan Ayu)

You Might Also Like

1 comments