Secangkir Coklat Panas

  • 4/14/2014 05:56:00 PM
  • By adriyani.ayu
  • 1 Comments

Awan hitam itu mulai berkerumun. Dari segala penjuru mereka menyatu di satu titik. Di titik yang sama dengan tempat kau berdiri saat ini. Dari sudut lain, aku mengamati lekat-lekat.
Sumber
Secangkir coklat panas pun kuseruput dalam-dalam. Nikmat. Selalu menjadi tumanku memang, menikmati secangkir coklat panas sembari bersantai di teras rumah. Kau tahu itu kan?

Dari kejauhan aroma sibukmu tercium. Ransel hitam berisi kehidupan berpegangan di kedua pundakmu. jaket kulit berwarna hitam yang sering kulihat kau gunakan beberapa minggu terakhir ini, kau gunakan lagi hari ini di bawah awan hitam, saat aku sedang menyeruput secangkir coklat panasku.

Dari tempatku duduk saat ini, aku memanjakan mataku dengan memandangimu lekat-lekat. Ada yang beda. Namun, aku tak tahu itu apa. Cukup begitu saja. Tak berselang lama, kaupun bergegas pergi. Kuharap itu bukan karena kau menyadari mata-mata yang mengamatimu sedari tadi. 

Mulai kuseruput lagi coklat panasku. Aromanya begitu nikmat.  

Ingatan memapahku ke masa dimana kulihat seorang anak menyapu rata sekelilingnya, bersikap awas terhadap mata-mata yang menangkap fisiknya. Sepertinya ia tidak melihatku. Aku menyembunyikan mataku di balik gelas coklat yang kuteguk. Di kantin, tempat banyak orang bersenda gurau sembari melepas rasa lapar yang (katanya) tidak cukup mampu membuat mereka berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaannya. Kantin jadi tempat untuk menumpahkan segalanya. Menumpahkan cerita-cerita yang tertunda di balik meja kerja. Ya, termasuk menjadi tempat untuk menyaksikan sebagian orang mendapatkan makanan tidak semudah mereka yang lain, yang mengeluarkan uang dari dompet kulit yang tidak jarang lebih mahal dari banyaknya lembaran rupiah di dalamnya. 


Kembali ke anak kecil itu. Ia berjalan bertiga bersama dengan temannya. Bahunya menggendong karung berisi barang-barang bekas yang masih bisa diolah. Mereka bertiga berjalan tanpa alas kaki. Pakaiannya basah kuyup, sisa hujan siang itu. Mereka disambut dengan gelas-gelas plastik bekas sisa minuman para pengunjung kantin. Aroma kebahagian tercium dengan cara yang berbeda dari mereka. Aroma itu mengalahkan nikmatnya coklat yang sedari tadi kuseruput. 

Selain gelas-gelas plastik, banyak sisa makanan di atas meja-meja itu. Sisa makanan, rejeki yang diabaikan si pengunjung-pengunjung kantin karena kenyang menghapus laparnya dan atau jumlah karbohidrat yang sedari tadi dihitung sudah nyaris melampui batas. Mereka pun menyudahinya. 

Anak itu―salah satu dari mereka―sempat sekian detik ia menangkap mataku. Ia lalu berbalik. Akupun memalingkan wajah. Memberi isyarat, "Tenang saja, aku tidak melihatmu. Tidak ada yang memperhatikanmu di sini". Seakan menangkap isyarat itu. Ia kembali sibuk memunguti gelas-gelas plastik itu satu per satu. Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya. Kulihat ia memakan sisa mie yang masih bertengger di atas piring berwarna merah di sudut sana. Tangannya cekatan, kepalanya langsung berbalik sembari menyembunyikan tangan dan mulutnya yang mulai bekerja.

Aku memperhatikannya lekat-lekat. Ia tidak lagi memperhatikan sekitarnya. Aku bebas mengamatinya. Ah, kalian membuatku iri. Hidup tidak pernah menjadi serumit yang mereka lakukan. Beradu otot untuk sebuah kursi, beradu kata untuk terlihat keren, berdandan elok untuk menarik perhatian. Kalian? Kalian tidak butuh itu, cukup mereka menutup mata dan kalian bisa melakukan apa yang kalian mau. Lakukan saja dik, tidak ada yang memperhatikanmu di sini, mereka sibuk dengan tumpuan makanan dan gadget-gadget yang membuat mereka (konon katanya) terhubung dengan orang-orang di luar sana―tapi tidak membuat mereka terhubung dengan kalian yang berdiri hanya sekian meter dari mereka. Akupun seperti itu, aku hanya bisa menikmatimu dari jauh. Ya, tidak berbuat apa-apa selain menjadi pengamatmu. 

Kuseruput lagi coklat panasku yang mulai dingin. Tinggal sekali tegukan. Kulihat kau mulai mengambil langkah, menjauh. Ah, hidup kau membiarkanku (lagi-lagi) hanya menjadi penikmat. Tidak melakukan apa-apa. Lantas, apa bedanya aku dengan mereka? Berkoar-koar tanpa melakukan apa-apa. Sama saja.

You Might Also Like

1 comments