Jangan Abai, Kita Utang Budi

  • 4/27/2015 06:02:00 AM
  • By adriyani.ayu
  • 0 Comments


“Alam adalah titipan anak cucu. Bukan warisan nenek moyang”

Satu waktu pernah mendengar kalimat di atas. Namun berapa banyak dari kita yang merawat alam dengan menjaga laku? Tak sedikit dan tak jarang dari kita yang alpa mengingat bahwa cara terbaik untuk tidak uring-uringan berbenah keadaan adalah dengan tidak merusak.

Api, tanah, air, udara, empat elemen yang menyimpan rahasia kehidupan. Lalu bagaimana kita arif menggunakannya? Rabu (22/4), American Corner, U.S Embassy, Young Southeast Asia Leaders Initiative (YSEALI) merayakan peringatan hari Bumi dengan melakukan transplantasi karang di Pulau Kodingareng Keke, Makassar. Pulau ini ditempuh selama tidak kurang 45 menit dari Pelabuhan Paotere, Makassar.  

Transplantasi terumbu karang bertujuan sebagai upaya pemulihan ekosistem Terumbu Karang yang rusak. Meski butuh waktu yang cukup lama untuk mendapatkan terumbu karang yang tumbuh hidup, besar, indah dan menjadi rumah bagi biota laut lainnya, namun ini jauh lebih baik daripada larut dalam berbagai kesewang-wenangan manusia. Tidak hanya itu, bersih-bersih pulau, dan penanaman pohon menjadi rangkaian selebrasi bersama jutaan manusia yang (mungkin) turut merayakan.  

Proses Transplantasi Karang

Penanaman Pohon
Bersih-bersih Pulau


Di banyak laut, kegiatan perikanan yang tak ramah dan penghangatan bumi telah meruntuhkan arsitektur mirip keju Gruyère pada terumbu karang. Keju Gruyère adalah keju buatan daerah Gruyère, Swiss. Kulit keju Gruyère berkeriput dan berwarna coklat alami serta memiliki lubang-lubang kecil, mirip seperti terumbu karang pada umumnya. Setelah runtuh, terumbu karang itupun hidup menjadi onggokan sampah laut yang pucat.  Sewaktu karang mati dan runtuh, mereka dan berbagai bentuk kehidupan yang menjadikan mereka rumah, serta segala sesuatu yang menjadikan mereka makanan, digantikan oleh sesuatu yang berlendir dan menjijikkan.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI) mencatat hingga tahun 2013, terdapat 30.4% dari 1.135 titik terumbu karang di Indonesia telah mengalami kerusakan. Banyak yang menolak sadar, Terumbu karang layaknya hutan bagi kehidupan di darat. Bagi ikan, terumbu karang merupakan rumah, tempat berlindung. Dengan lestarinya terumbu karang, akan banyak spesies laut yang bernaung di bawahnya. Dalam pola rantai makanan seimbang, terumbu karang jadi penanda baik bagi para nelayan untuk memperoleh ikan yang bisa dijual ke pasar dan bisa kita konsumsi. Namun dengan kerusakan terumbu karang, nelayan bisa jadi semakin sulit mendapat ikan, imbasnya harga ikan di pasaran pun akan naik.

*****
“Turun saja. Menyesal kalau sudah jauh-jauh kesini tapi tidak turun”
“Turun saja Yu’, lima menit saja. Kalau sudah di bawah, keenakan, sudah tidak mau naik lagi”

Satu per satu kalimat-kalimat semacam itu mendatangkan gelisah. Saya lahir di Kabupaten Bulukumba. Kabupaten yang mahsyur dengan para panrita lopi (pembuat perahu)nya. Pernah menghabiskan masa kecil di Kabupaten Kepulauan Selayar, pulau yang memiliki taman laut dengan kawasan terumbu karang (atol) terbesar ketiga di dunia. Pernah menumpang hidup di Pulau Miangas, pulau di tepian Pasifik dengan punggung gelombang yang memukau. Namun apa daya, saya kalah pada air. Imaji tentang air tumpah sedari dulu mengganggu di pikiran saya. 

Taman Laut Takabonerate, Selayar (Sumber)
Ya, Saya belum pernah berani bermain air di laut lebih dari tinggi leher saya. Saya lebih senang menikmati perjalanan di atasnya, perjalanan yang membuat saya bertemu dengan tempat dan orang-orang baru. Saya merinding, (mungkin) kalah pada air yang melimpah. Maka berbahagialah mereka yang bisa bermain air sepuasnya, berdamai dengan asinnya laut. 

Hari sudah semakin sore, awan gelap sedikit menutup langit. Kali ini, saya (sedikit) menang. Saya memutuskan turun, meski sebagian teman-teman justru sudah bersiap pulang. Dengan bantuan beberapa teman lagi, dan dengan jaminan ada yang memegang kedua tangan saya, saya mau turun. Fins (Kaki Katak), masker, dan ehemmm..pelampung menjaga saya, namun saya tetap bersama takut. 

Bersama Takut
Untuk sebagian besar orang, ini bahan tertawaan yang empuk. Tapi demi apapun di dunia ini, saya masih takut. Dua tangan (Jayanti si tangan kanan, dan Kak Madi si tangan Kiri) yang harus saya genggam dengan tidak santai, membuat tulang belakang saya sakit bahkan setelah dua hari kembali dari pulau. Saya tahu bahwa saat bersama pelampung di permukaan air, rileks lah saja, laut tidak akan menelan kita. Namun sayang, dalam hal ini kata hanyalah kata bagi saya. Toh, tangan saya tetap erat menggenggam. Nafas saya masih saja pendek, susah diatur, pikiran masih saja kemana-mana, baru saja mata dimanjakan dengan mahluk tuhan di bawah laut, air laut sudah menyerbu mulut. Begitu berulang kali. Namun saya menikmati pemandangan bawah laut yang megah dan menyenangi pengalaman pertama (dan bisa jadi yang terakhir) ini. Aroma firdaus begitu tercium dari dasar. Ah, Tuhan memang selalu punya cara sendiri untuk mempertemukan masing-masing kita dengan keindahan. 

Saya begitu menikmati, paling tidak sampai saya melihat bawah laut dengan warna biru yang semakin gelap. Tidak ada lagi karang cantik di kedalaman yang sama yang saya nikmati sedari tadi. Nampaknya kedalamannya sudah bertambah. Dan, cukup. Si takut ini membuncah. Imaji menjengkelkan tentang banyak hal mulai bermunculan. Mari kembali ke darat. Meski Banyak suara penenang, namun sama sekali tidak berpengaruh. Ini sudah lebih dari cukup.

Ah, mengagumkan memang. Dari laut kita belajar tentang kearifan. Laut jadi muara segala sisa-sisa penopang kehidupan di daratan. Laut jadi tempat berpulang yang damai bagi banyak hal yang dianggap sampah oleh kehidupan di darat. Punggung gelombang boleh jadi garang, namun di kedalaman, lain cerita.

Demi laut yang mengagumkan, demi gunung yang damai, selamat hari bumi. Semoga segala kesadaran tidak hanya berhenti pada berbagai selebrasi. Sebelum alam menelan segalanya, jangan memelihara abai, karena utang budi ke alam tak jua terbalas.

Selamat Hari Bumi (Dokumentasi Pribadi MSDC)




Volunteer American Corner dan MSDC

You Might Also Like

0 comments