“Alam adalah titipan
anak cucu. Bukan warisan nenek moyang”
Satu waktu pernah mendengar
kalimat di atas. Namun berapa banyak dari kita yang merawat alam dengan menjaga
laku? Tak sedikit dan tak jarang dari kita yang alpa mengingat bahwa cara
terbaik untuk tidak uring-uringan berbenah keadaan adalah dengan tidak merusak.
Api, tanah, air, udara, empat
elemen yang menyimpan rahasia kehidupan. Lalu bagaimana kita arif menggunakannya?
Rabu (22/4), American Corner, U.S Embassy, Young Southeast Asia Leaders
Initiative (YSEALI) merayakan peringatan hari Bumi dengan melakukan
transplantasi karang di Pulau Kodingareng Keke, Makassar. Pulau ini ditempuh
selama tidak kurang 45 menit dari Pelabuhan Paotere, Makassar.
Transplantasi terumbu karang bertujuan sebagai upaya pemulihan ekosistem Terumbu Karang yang rusak. Meski butuh waktu yang cukup lama untuk mendapatkan terumbu karang yang tumbuh hidup, besar, indah dan menjadi rumah bagi biota laut lainnya, namun ini jauh lebih baik daripada larut dalam berbagai kesewang-wenangan manusia. Tidak hanya itu, bersih-bersih pulau, dan penanaman pohon menjadi rangkaian selebrasi bersama jutaan manusia yang (mungkin) turut merayakan.

Transplantasi terumbu karang bertujuan sebagai upaya pemulihan ekosistem Terumbu Karang yang rusak. Meski butuh waktu yang cukup lama untuk mendapatkan terumbu karang yang tumbuh hidup, besar, indah dan menjadi rumah bagi biota laut lainnya, namun ini jauh lebih baik daripada larut dalam berbagai kesewang-wenangan manusia. Tidak hanya itu, bersih-bersih pulau, dan penanaman pohon menjadi rangkaian selebrasi bersama jutaan manusia yang (mungkin) turut merayakan.
| Proses Transplantasi Karang |
| Penanaman Pohon |
| Bersih-bersih Pulau |
Di banyak laut, kegiatan perikanan yang tak ramah dan penghangatan bumi telah meruntuhkan arsitektur mirip keju Gruyère pada terumbu karang. Keju Gruyère adalah keju buatan daerah Gruyère, Swiss. Kulit keju Gruyère berkeriput dan berwarna coklat alami serta memiliki lubang-lubang kecil, mirip seperti terumbu karang pada umumnya. Setelah runtuh, terumbu karang itupun hidup menjadi onggokan sampah laut yang pucat. Sewaktu karang mati dan runtuh, mereka dan berbagai bentuk kehidupan yang menjadikan mereka rumah, serta segala sesuatu yang menjadikan mereka makanan, digantikan oleh sesuatu yang berlendir dan menjijikkan.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI) mencatat hingga tahun 2013, terdapat 30.4% dari 1.135 titik terumbu karang di Indonesia telah mengalami kerusakan. Banyak yang menolak sadar, Terumbu karang layaknya hutan bagi kehidupan di darat. Bagi ikan, terumbu karang merupakan rumah, tempat berlindung. Dengan lestarinya terumbu karang, akan banyak spesies laut yang bernaung di bawahnya. Dalam pola rantai makanan seimbang, terumbu karang jadi penanda baik bagi para nelayan untuk memperoleh ikan yang bisa dijual ke pasar dan bisa kita konsumsi. Namun dengan kerusakan terumbu karang, nelayan bisa jadi semakin sulit mendapat ikan, imbasnya harga ikan di pasaran pun akan naik.
*****
“Turun saja. Menyesal
kalau sudah jauh-jauh kesini tapi tidak turun”
“Turun saja Yu’, lima
menit saja. Kalau sudah di bawah, keenakan, sudah tidak mau naik lagi”
Satu per satu kalimat-kalimat
semacam itu mendatangkan gelisah. Saya lahir di Kabupaten Bulukumba. Kabupaten
yang mahsyur dengan para panrita lopi (pembuat perahu)nya. Pernah menghabiskan
masa kecil di Kabupaten Kepulauan Selayar, pulau yang memiliki taman laut
dengan kawasan terumbu karang (atol) terbesar ketiga di dunia. Pernah menumpang
hidup di Pulau Miangas, pulau di tepian Pasifik dengan punggung gelombang yang
memukau. Namun apa daya, saya kalah pada air. Imaji tentang air tumpah sedari
dulu mengganggu di pikiran saya.
![]() |
| Taman Laut Takabonerate, Selayar (Sumber) |
Ya, Saya belum pernah berani bermain air di laut lebih dari tinggi
leher saya. Saya lebih senang menikmati perjalanan di atasnya, perjalanan yang
membuat saya bertemu dengan tempat dan orang-orang baru. Saya merinding,
(mungkin) kalah pada air yang melimpah. Maka berbahagialah mereka yang bisa
bermain air sepuasnya, berdamai dengan asinnya laut.
Hari sudah semakin sore, awan
gelap sedikit menutup langit. Kali ini, saya (sedikit) menang. Saya memutuskan
turun, meski sebagian teman-teman justru sudah bersiap pulang. Dengan bantuan
beberapa teman lagi, dan dengan jaminan ada yang memegang kedua tangan saya,
saya mau turun. Fins (Kaki Katak), masker, dan ehemmm..pelampung menjaga saya,
namun saya tetap bersama takut.
| Bersama Takut |
Untuk sebagian besar orang, ini
bahan tertawaan yang empuk. Tapi demi apapun di dunia ini, saya masih takut.
Dua tangan (Jayanti si tangan kanan, dan Kak Madi si tangan Kiri) yang harus saya genggam dengan tidak santai, membuat tulang belakang
saya sakit bahkan setelah dua hari kembali dari pulau. Saya tahu bahwa saat
bersama pelampung di permukaan air, rileks lah saja, laut tidak akan menelan
kita. Namun sayang, dalam hal ini kata hanyalah kata bagi saya. Toh, tangan
saya tetap erat menggenggam. Nafas saya masih saja pendek, susah diatur,
pikiran masih saja kemana-mana, baru saja mata dimanjakan dengan mahluk tuhan
di bawah laut, air laut sudah menyerbu mulut. Begitu berulang kali. Namun saya
menikmati pemandangan bawah laut yang megah dan menyenangi pengalaman pertama (dan
bisa jadi yang terakhir) ini. Aroma firdaus begitu tercium dari dasar. Ah, Tuhan memang selalu punya cara sendiri untuk mempertemukan masing-masing kita dengan keindahan.
Saya begitu menikmati, paling
tidak sampai saya melihat bawah laut dengan warna biru yang semakin gelap.
Tidak ada lagi karang cantik di kedalaman yang sama yang saya nikmati sedari
tadi. Nampaknya kedalamannya sudah bertambah. Dan, cukup. Si takut ini
membuncah. Imaji menjengkelkan tentang banyak hal mulai bermunculan. Mari
kembali ke darat. Meski Banyak suara penenang, namun sama sekali tidak
berpengaruh. Ini sudah lebih dari cukup.
Ah, mengagumkan memang. Dari laut kita belajar tentang kearifan. Laut
jadi muara segala sisa-sisa penopang kehidupan di daratan. Laut jadi tempat
berpulang yang damai bagi banyak hal yang dianggap sampah oleh kehidupan di
darat. Punggung gelombang boleh jadi garang, namun di kedalaman, lain cerita.
Demi laut yang mengagumkan, demi
gunung yang damai, selamat hari bumi. Semoga segala kesadaran tidak hanya berhenti
pada berbagai selebrasi. Sebelum alam menelan segalanya, jangan memelihara abai,
karena utang budi ke alam tak jua terbalas.
| Selamat Hari Bumi (Dokumentasi Pribadi MSDC) |
| Volunteer American Corner dan MSDC |

0 comments