| Sumber |
Tidak ada yang paling teduh, selain mengamatimu perlahan ditarik tepian laut dari kejauhan. Tidak ada yang paling menyenangkan, selain menikmatimu dari balik rindu. Tidak ada yang paling damai, selain mendengar riuh punggung gelombang dan kalam suci lewat para muadzin. Senyum terkulum, mata berbinar. Ah, syahdu. Sama seperti langgam satu dua manusia saat bercerita tentang perjalanan.
Kau tahu, aku benar-benar rindu. Kota ini benar-benar menelan semuanya. Yang kuceritakan terdahulu, semoga kau masih menyimpannya rapat-rapat. Mungkin ada masa, aku akan kembali ke ingatanmu. Kota ini benar-benar menelan semuanya. Ingatanmu jadi satu-satunya angin segar. Hutan beton benar-benar angkuh.
Kau tahu, kalau ada yang benar-benar kurindukan hari ini itu hanya satu, perjalanan. Memandang sandikala di depan mata membawa asa kemana-mana. Ada damai. Kau menularkannya. Semoga bisa bersua di perjalanan satu, dua, tiga waktu lagi.
Kau tahu, aku benar-benar rindu. Kota ini benar-benar menelan semuanya. Yang kuceritakan terdahulu, semoga kau masih menyimpannya rapat-rapat. Mungkin ada masa, aku akan kembali ke ingatanmu. Kota ini benar-benar menelan semuanya. Ingatanmu jadi satu-satunya angin segar. Hutan beton benar-benar angkuh.
Kau tahu, kalau ada yang benar-benar kurindukan hari ini itu hanya satu, perjalanan. Memandang sandikala di depan mata membawa asa kemana-mana. Ada damai. Kau menularkannya. Semoga bisa bersua di perjalanan satu, dua, tiga waktu lagi.
3 comments
Love it! Especially this part; " Mungkin ada masa, aku akan kembali ke ingatanmu. Kota ini benar-benar menelan semuanya. Ingatanmu jadi satu-satunya angin segar".
BalasHapusKadang dititik tertentu aku juga merindukan perjalanan yang kau baitkan disini :)
BalasHapusSo love it.
BalasHapus