(Benar-benar) Merindukan Perjalanan

  • 5/25/2015 02:04:00 AM
  • By adriyani.ayu
  • 2 Comments

Akhir-akhir ini, saya benar-benar merindukan perjalanan. Bertemu orang-orang baru, belajar dari anak-anak kecil, menulis tentang senyum-senyum tanpa modus, dan bersyukur dengan karya-karyaNya. Sepertinya, perjalanan memang diciptakan untuk memberi kejutan-kejutan menyenangkan semacam itu.

Sumber
Kemarin, di beranda salah satu sosial media, saya menemukan hasil jepretan dari kawan di salah satu sudut di nusa timur. Tentang nusa di batas Indonesia, ingatan ini melayang ke Nusa Utara, ke Papa Kamurahan, Mama Tina, Intan, Nanda, ah apa kabar mereka di Miangas? Mereka orang-orang baik, tempat saya menumpang hidup sementara waktu. Perjalanan ke Miangas memang terlalu lama untuk tiba-tiba hilang dalam ingatan. Ya, ini bukan perjalanan singkat yang bisa dengan mudah tidak muncul dalam ingatan saat kita jenuh di tengah hutan beton, bertengger dari gedung satu ke gedung yang lain.

Baru-baru ini, saya nangkring di sebuah forum. Salah seorang peserta menyebut kata (maaf) “primitif” untuk transaksi dengan sistem barter. Saya jadi ingat pengalaman di Miangas. Setelah (benar-benar) sampai di Miangas, saya percaya bahwa setiap waktu yang diberikan sebenarnya adalah peluang untuk mengklarifikasi banyak hal dan menjawab semua pertanyaan. Termasuk, informasi yang saya kumpulkan sebelum berangkat ke nusa utara mengenai sistem barter yang masih berlaku di Miangas.

Cuaca di Miangas sering galau, kata anak kekinian. 2013 yang lalu, kapal yang bersandar di dermaga (untungnya) rutin, rutin sekali dalam dua minggu. Tapi ini bisa sedikit molor, kalau cuaca kurang bersahabat. Tentang barter, Papa Kamurahan bilang, “itu dulu”. Ya, perputaran uang di Miangas itu bisa ditebak. Mayoritas mata pencaharian masyarakat Miangas berlokasi di laut dan di kebun. Nah karena jarak yang jauh, transportasi yang terbatas (dulu), terlebih jika cuaca bermasalah, maka sistem barter barang itulah yang terjadi. Lantas, itu primitif?

Hmmmm…riuh kendaraan, gedung-gedung tinggi yang gagah, menikmati dinina bobokkan tekhnologi, selalu saja berhasil mencetak “manusia-manusia angkuh”. Misalnya, menyebut teman-teman kita yang tinggal di tengah-tengah hutan (pohon bukan beton) kampungan karena tidak tahu menggunakan Hp. Padahal, toh pada dasarnya mereka tidak membutuhkan tekhnologi semacam itu. Mereka bahkan lebih sering menikmati betapa menyenangkannya bertatap muka, berkomunikasi secara langsung.

Ya (sering sekali) tanpa sadar, kita memaksa diri kita hadir sebagai manusia-manusia yang menjadikan tabiat sehari-sehari kita adalah kiblat kehidupan. Kita alpa bermawas diri bahwa kehidupan adalah tentang banyak hal di luar diri kita. Ah, saya benar-benar merindukan perjalanan. Bertemu orang-orang baru, bertemu anak-anak.

You Might Also Like

2 comments

  1. Tolong kisahkah lagi perjalananmu :)
    Saya tersentuh oleh tulisanmu mengenai sistem barter dan betapa tak pahamnya kita sebagai orang-orang yang dimanjakan banyak teknologi. Saya rasa, lingkungan perkotaan yang angkuh ini sering membuat orang-orang lupa akan indahnya tempat lain, tempat yang tak terlalu tersentuh teknologi.

    BalasHapus
  2. wow artikel yang keren dan sangat inspiratif.. ooo iya kak kalau ingin tahu tentang web gratis yukk disini saja.. terimakasih

    BalasHapus